Tips Berlatih Paduan Suara

Oleh : Kapten Laut (KH) Albert AFR, S.

Sumber : www.voiceofsoul.wordpress.com

Dalam dunia tarik suara kita mengenal jenis-jenis kelompok vokal seperti : Duet, Trio, Kwartet, Ansambel, Paduan Suara dll. Paduan Suara sering kita saksikan pada acara-acara rutin gereja bahkan yang bersifat tahunan misalnya : Pesparawi (Pesta Paduan SuaraGerejawi),PerayaanPaskah/Natal.

Pembinaan Paduan Suara pada umumnya bersifat temporer, artinya hanya dibentuk jika ada event yang membutuhkan dan menyewa pelatih dari luar dengan biaya yang relatif mahal. Padahal bila kita memahami trik/teknik latihan Paduan Suara sebenarnya tidak terlalu sulit dan bisa kita kerjakan sendiri. Yang penting kita bisa membuat program latihan yang baik, tentunya dengan sarana/tempat latihan yang representatif.

KLASIFIKASI PADUAN SUARA
Penulis megklasifikasikan Paduan Suara menjadi 3 (tiga) level, yaitu:

Level – 1 (Penguasaan Materi)
Kriteria : Anggota Paduan Suara mampu menyanyikan lagu/materi sesuai dengan notasi yang tertulis pada partitur.
Tips :
– Nyanyikan panjang pendek not sesuai nilai not pada partitur.
– Nyanyikan tinggi rendah nada sesuai dengan interval nada yang tertulis di partitur.
– Tekankan anggota untuk menghafal syairnya.

Level – 2 (Interprestasi)
Kriteria : Anggota Paduan Suara mampu menyanyikan lagu/materi sesuai dengan interprestasi lagu yang diinginkan oleh komponis maupun aranger lagu tersebut.
Tips :
Latih keras/lembut suara sesuai dengan tanda dinamik pada partitur. Kalau tidak tercantum pada partitur, dinamik disesuaikan dengan makna syair atau karakter alur melody.
Latih Artikulasi (pengucapan) syair agar terdengar jelas. Misalnya pengucapan konsonan “r”, “s”, “ng”, serta vokal a, i, u, e, o, sehingga terdengar perbedaannya.
Perhatikan Intonasi (penekanan) suku kata yang sesuai dengan Birama lagu.
Perhatikan Frasering (pengkalimatan) agar sesuai dengan kalimat yang benar. Ini dapat dicapai jika dilaksanakan dengan teknik pernafasan yang baik.
Lakukan pemanasan (vokalisi) yang cukup sebelum pelaksanaan latihan dimulai agar diperoleh Timbre (warna suara) yang menyatu, sehingga tidak ada suara yang menonjol sendiri.

Level – 3 (Ekspresi)
Kriteria : Setelah melalui tahap level 1 dan 2, anggota Paduan Suara mampu menyanyikan lagu/materi dengan penghayatan dan dikeluarkan melalui ekspresi.
Tips :
– Latih cara menyanyikan lagu sesuai dengan karakter lagu, misalnya: Lagu/aransemen yang riang dinyanyikan dengan lincah dan riang. – Perhatikan pada aransemen yang terdapat tanda perubahan tempo, misalnya : Accelerando, rittardando, A- tempo dll., agar dinyanyikan dengan tepat sehingga mendukung ekspresi.
– Tidak semua anggota dapat bernyanyi dengan ekspresi. Tempatkan anggota pada posisi central dan banjar terluar (samping kiri/kanan), karena posisi ini mempengaruhi penampilan secara keseluruhan.

Pembagian Kelompok Suara
Paduan suara umumnya terdiri dari 4 kelompok suara yaitu Sopran, Alto, Tenor dan Bass. Beberapa arransemen ada pula yang membagi Sopran, Meso, Alto, Tenor, Bariton dan Bass. Untuk mendapatkan balance yang baik, perlu pembagian yang tepat untuk masing-masing kelompok. Tips:
– Kelompokan anggota berdasarkan Range/ambitus suara, jangan paksakan penyanyi Alto bernyanyi dikelompok sopran dengan alasan karena kekurangan anggota sopran, demikian juga kelompok yang lainnya.
– Komposisi SATB (sopran, alto, tenor, bass) yang Ideal adalah 3:2:2:3., namun demikian pedoman di atas dapat berubah dengan pertimbangan potensi Power penyanyi yang ada.

Program Latihan
Ada peribahasa “Seberangilah sungai dari tempat yang dangkal” artinya mulailah segala sesuatu dari yang mudah dahulu. Artinya dalam membuat program latihan harus bertahap dari yang mudah dahulu.
Tips :
– Selesaikanlah dahulu level-1 baru kemudian mulai level-2, dst. Contoh : jangan mengajarkan materi level-2 kalau anggota belum semuanya lulus level-1, karena akan sia-sia akibat terpecahnya konsentrasi.
– Kelompok paduan suara ibarat rangkaian gerbong kereta api. Jika salah satu gerbong tersendat maka gerbong yang lain kecepatanya terpaksa ikut melambat, menyesuaikan kecepatan gerbong yang tersendat tadi. Perbaiki gerbong (baca : kelompok suara) yang lemah dahulu, baru kelompok gerbong lainnya.
– Awali latihan dengan vokalisi terlebih dahulu, sesuai dengan karakter lagu yang akan dinyanyikan. Jika lagu banyak menggunakan stacato, perbanyak vokalisi stacato, jika lagu banyak nada panjang, perbanyak vokalisi nada panjang.
– Tekankan anggota untuk membaca not, jangan menghafal not, karena kemampuan membaca sangat diperlukan dalam PS. Setelah anggota dapat menyanyikan notasi dengan benar tekankan untuk menghafal syair.

Dirigen
Dirigen dalam Paduan Suara sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penampilan Paduan Suara. Idealnya Dirigen Paduan Suara merangkap pelatih sejak awal program latihan dilaksanakan, agar secara emosional akan terjalin komunikasi. Namun karena keterbatasan personel di TNI AL yang bisa memimpin Paduan Suara, seringkali Dirigen ditunjuk berdasarkan senioritas, atau dari sukarelawan yang memberanikan diri karena tidak ada yang mau menjadi dirigen. Sebaiknya hal ini dihindari.
Tips:
– Pilihlah Dirigen yang mempunyai wawasan PS lebih daripada anggota Paduan Suara lainnya, jangan berdasarkan senioritas saja.
– Fungsi Dirigen memadukan Suara dari anggotanya sehingga menjadi satu komposisi yang padu dan harmonis. Untuk itu Dirigen harus menguasai materi dengan baik dan benar, sebelum ia memadukan (memimpin) kelompok Paduan Suaranya.
– Dirigen jangan memulai aba-aba jika belum seluruh mata anggota memperhatikan Dirigen, karena kontak mata sangat penting untuk menjalin komunikasi antara Dirigen dan anggota Paduan Suara.

Demikianlah secara singkat Tips berlatih Paduan Suara, semoga dapat bermanfaat.

“Keberhasilan adalah buah dari latihan, namun tanpa disiplin, latihan tidak menghasilkan apa-apa”.

Selamat berlatih . . ..©

Teknik Vocal dan Unsur-Unsurnya

Oleh: Drs. Cecep A. (www.cepspenza.blogspot.com)

TEKNIK VOCAL adalah : Cara memproduksi suara yang baik dan benar, sehingga suara yang keluar terdengar jelas, indah, merdu, dan nyaring.

UNSUR-UNSUR TEKNIK VOCAL :

1.Artikulasi, adalah cara pengucapan kata demi kata yang baik dan jelas.

2.Pernafasan adalah usaha untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian disimpan, dan dikeluarkan sedikit demi sedikit sesuai dengan keperluan.

Pernafasan di bagi tiga jenis, yaitu :

§Pernafasan Dada : cocok untuk nada-nada rendah, penyanyi mudah lelah.

§Pernafasan Perut : udara cepat habis, kurang cocok digunakan dala menyanyi, karena akan cepat lelah.

§Pernafasar Diafragma : adalah pernafasan yang paling cocok digunakan untuk menyanyi, karena udara yang digunakan akan mudah diatur pemakaiannya, mempunyai power dan stabilitas vocal yang baik.

3.Phrasering adalah : aturan pemenggalan kalimat yang baik dan benar sehingga

mudah dimengerti dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.

4.Sikap Badan : adalah posisi badan ketika seseorang sedang nyanyi, bisa sambil duduk, atau berdiri, yang penting saluran pernafasan jangan sampai terganggu.

5.Resonansi adalah : usaha untuk memperindah suara dengan mefungsikan rongga-

rongga udara yang turut bervibrasi/ bergetar disekitar mulut dan tenggorokan.

6.Vibrato adalah : Usaha untuk memperindah sebuah lagu dengan cara memberi

gelombang/ suara yang bergetar teratur, biasanya di terapkan di setiap akhir sebuah kalimat lagu.

7.Improvisasi adalah usaha memperindah lagu dengan merubah/menambah sebagian melodi lagu dengan profesional, tanpa merubah melodi pokoknya.

8.Intonasi adalah tinggi rendahnya suatu nada yang harus dijangkau dengan tepat.

Syarat-syarat terbentuknya Intonasi yang baik :

a.Pendengaran yang baik

b.Kontrol pernafasan

c.Rasa musical.

NADA adalah bunyi yang memiliki getaran teratur tiap detiknya.

SIFAT NADA ADA 4 (EMPAT) :

  1. FITCH yaitu ketepatan jangkauan nada.
  2. DURASI yaitu lamanya sebuah nada harus dibunyikan
  3. INTENSITAS NADA yaitu keras,lembutnya nada yang harus dibunyikan.
  4. TIMBRE yaitu warna suara yang berbeda tiap-tiap orang.

AMBITUS SUARA adalah luas wilayah nada yang mampu dijangkau oleh seseorang.

Seorang penyanyi professional harus mampu menjangkau nada-nada dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi sesuai dengan kemampuannya.

CRESCENDO adalah suara pelan berangsur-angsur keras.

DESCRESCENDO adalah suara keras berangsur-angsur pelan.

STACATO adalah suara dalam bernyanyi yang terpatah-patah.

SUARA MANUSIA DIBAGI 3 (TIGA) :

  1. Suara Wanita Dewasa ;

-Sopran (suara tinggi wanita)

-Messo Sopran (suara sedang wanita)

-Alto (suara rendah wanita)

  1. Suara Pria Dewasa :

-Tenor (suara tinggi pria)

-Bariton (suara sedang pria)

-Bas (suara rendah pria)

  1. Suara Anak-anak :

-Tinggi

-Rendah.

TANGGA NADA DIATONIS adalah rangkaian 7 (tujuh) buah nada dalam satu oktaf yang mempunyai susunan tinggi nada yang teratur.

Tangga Nada Diatonis Mayor adalah Tangga Nada yang mempunyai jarak antar nadanya 1 (satu) dan ½ (setengah).

Ciri-ciri tangga nada Diatonis Mayor :

  1. Bersifat riang gembira
  2. Bersemangat
  3. Biasanya diawali dan diakhiri dengan nada Do = C
  4. Mempunyai pola interval : 1 , 1 ,. ½, 1 , 1 , 1, ½

Ciri-ciri Tangga nada Diatonis Minor :

  1. Kurang bersemangat.
  2. Bersifat sedih
  3. Biasanya diawali dan diakhiri dengan nada La = A
  4. Mempunyai pola interval : 1 , ½ , 1 , 1 , ½ , 1 , 1 .

Catatan : Teori ini kurang sesuai dengan musik Dangdut yang banyak berkembang di Indonesia.

Contoh Lagu yang bertangga nada Mayor : Maju Tak Gentar, Indinesia Raya, Hari merdeka, Halo-halo Bandung, Indonesia Jaya, Garuda Pancasila, Mars Pelajar.

Contoh Lagu yang bertangga nada Minor : Syukur, Tuhan, Gugur Bunga.

TANGGA NADA KROMATIS adalah tangga nada yang mempunyai jarak antar nadanya hanya ½ . Contoh : C – Cis – D – Dis- E – F – Fis – G – Gis – A – Ais – B

TANGGA NADA ENHARMNONIS adalah rangkaian tangga nada yang mempunyai nama dan letak yang berbeda, tetapi mempunyai tinggi nada yang sama.

Contoh : Nada Ais-Bes, Cis-Des, Gis-As, Dis-Es, Fis-Ges.

Kajian Seni Paduan Suara

Oleh : Purwonomedia

Sebuah catatan singkat,Meretas kembali komparatif dan kompetitif seni paduan suara

  1. Dewasa ini, perkembangan seni menampakkan citra yang berbeda dan progresif. Progresifitas itu tampak dari munculnya generasi “hibrida” dalam karya seni.   Hal itu, dilatarbelakangi oleh berkembangnya gerakan Garda Depan (Avant garde) dalam segala proses berkesenian. Cirinya yang progresif dan mereduksi segala batas-batas formal berkesenian, membawa seni menjadi melintas batas tatanan. Seni apapun bentuknya, menjadi meluas, kolaboratif, heteroistik. Bentuk perlawanan terhadap tatanan dan kolaboratif ini telah memunculkan berbagai kecenderungan seni yang kontemporer hingga sulit untuk digolong-golongkan kedalam formalisasi model.
  2. Begitupun yang terjadi dengan seni paduan suara. Paduan suara berubah dari seni “memadu suara” menjadi seni “memainkan suara”, tentu saja ini bukan berlaku untuk seni paduan suara formal. Hal itu tentu saja dipicu oleh perkembangan seni musik dan seni bernyanyi. Nyanyian, senandung atau apapapun bentuknya, berkembang begitu ragam, hingga seringkali membuahkan sub-culture seperti pop, rock, hip-hop dan lain sebagainya. Begitupun dengan paduan suara yang sudah mempunyai kestabilan dalam segi sub-culture, seperti yang dipengaruhi oleh perkembangan sejarah gereja dan perkembangan musik liturgi. Namun, seni paduan suara menampakkan kemenarikkannya ketika “tidak setia” dan mulai melanggar formalitasnya dengan konsep “hibrid”. Kenyataan itu sering terlihat, ketika paduan suara sering digunakan untuk alat “sampingan” grounded bagi para musisi atau penyanyi tunggal. Amat sayang, jika paduan suara hanya diletakkan sebagai grounded semata saja. Paduan suara harus menampakkan konsepnya sebagai suara yang “memadu”, hingga suara yang “bermain” pada tatanan utuh accord atau ensemble.
  3. Konsep permainan ensemble melalui suara manusia inilah yang sekarang ini menjadi kompetitif. Kompetitifnya tidak terletak pada konsep jenis paduan suara antara paduan suara pria atau wanita saja (jenis kelamin), atau tataran suara, sopran, alto, tenor dan bass melainkan bagaimana memainkan suara. Sebuah ensemble suara yang dibayangkan sebelumnya selalu terpaku pada formalisasinya, namun sekarang ini, ensemble berubah menjadi senyawa irama. Hal itu terlihat nyata dalam tatanan atau wacana konsep etno, sehingga ensemble suara yang diwacanakan ingin dikembalikan kembali kepada prinsip primitifnya. Hal itu mendasar pada konsep suara, pada senandung orang Indian, africa, semitisme, samanisme, jawanisme (hinduisme) dll.
  4. Konsep “hibrida” yang saat ini muncul, lebih kepada konsep interculture, tetapi juga seringkali pada konsep intermediasi. Maka ketika hal itu dikaitkan dengan wacana paduan suara, bentuk-bentuk paduan suara menjadi sesuatu yang lintas perfoma. Interculture itu bisa terjadi pada musik pengiring paduan suara atau bagaimana paduan suara mencoba “memainkan” suaranya. Misalnya, yang terlihat pada apa yang diperformakan group ERA dengan memadukan irama populer, rock serta gregorian dengan tecno.
  5. Nuansa perkembangan budaya New Age, sangat berpengaruh dan kaya dalam segi “hibridasi” ini. Ambil contoh, bagaimana seni-seni “hibrid” ini mewarnai kancah seni populer dewasa ini, seperti; ERA, Enya, Sarah Brighman, atau pada lagu-lagu Josh Groban yang berkolaborasi dengan Black Mumbazo. Maka New Age pun menghantar berbagai musik-musik yang kaya akan dimensi spiritual dengan musik yang didominasi bernada oktaf, namun juga kecenderungan-kecenderungan absurditas pada pilihan nada-nada musiknya, seperti apa yang dipopulerkan dengan generasi Brith Pop. Tentu saja, secara analisis budaya, hal ini dipengaruhi oleh struktur naratif zaman dewasa ini yang menuturkan berbagai pergulatan penderitaan hidup, kecemasan dan kerinduan akan yang sakral.
  6. Seni paduan suara akan mudah “diasingkan” ketika hanya bercokol pada menara gading perfoma. Karena dirinya hanya diinternalisasi untuk kepentingan religi atau prestasi-prestasi yang prestisius yang kurang kompetitif. Dari segi Komparatifnya, pasti sudah didapat sebagai salah satu bagian kerasulan menyanyi, namun secara kompetitif berkesenian amatlah sangat terbatas. Maka perlulah paduan suara membuka peluang seluas-luasnya pada konsep “hibridasi” itu, tentu saja bukan untuk mengkaburkannya, tetapi untuk merevitalisasinya.(purwono nugroho adhi, penikmat kerja seni)

Sumber : http://purwonomedia.wordpress.com/2008/03/15/kajian-seni-paduan-suara/


2 Responses to “Teory N’ Ilmu Choir”


  1. 1 Nando Situmorang
    Juli 3, 2012 pukul 8:56 am

    Wow.. Salut buat Wijk 6 Choir. Disela-sela kesibukan anggotanya, masih bisa memberikan tulisan-tulisan yang sangat edukatif dan pastinya berguna bagi siapa saja yang membaca.
    Tetap semangat dalam melayani dan Tuhan memberkati.

    Salam,

    Nando Situmorang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Radio Online

Waktu Hari ini :

performing arts
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter performing arts
free counter

BeasiswA n’ Lowongan Kerja

Info Beasiswa D1 D3 S1 S2

Blog Stats

  • 31,987 hits

IP-Ku

My Popularity (by popuri.us)
Desember 2016
S S R K J S M
« Okt    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Info Geotoolbar

performing arts
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter performing arts
free counter

Nilai Blog’s TW6C

free counters

Peta Lokasi Pengunjung :


%d blogger menyukai ini: