13
Nov
09

Aku merasa ditinggalkan….

cinta-yang-retakOleh : Efrael Sitohang (moderator TW6C)

Dulu waktu TW6C sedang kompak-kompaknya, seorang anggota jemaat HKBP Pejuang dari wijk yang lain pernah bertanya kepada saya, “boha do dibahen par-wijk 6 on asa boi kompak jala rame hamu markoor?” (bagaimana caranya wijk 6 supaya bisa ramai dan bisa kompak dalam paduan suara?). Waktu itu saya jawab dengan sumingrah (berbinar) campur percaya diri : “karena anggota2 koor wijk 6 adalah orang2 yang sederhana”. Sederhana dalam berpikir, bertingkah laku dan berteman. Bisa diartikan juga sederhana dalam hal ini, tidak bersandiwara, tidak berjiwa “politik” dan tidak bercabang pikirannya.

Banggalah memang saat itu. Apalagi sebagai pengurus (yang memang pada saat koor wijk 6 dibentuk, ketua dipilih secara sepihak oleh Sintua Wijk 6, bukan atas saran anggota2 koor wijk 6) ikut jadinya dianggap orang lain mampu memimpin koor wijk 6. Kawan2 pun semua sepertinya mendukung. Saran2 diterima saat aku menyampaikan pesan2 baik ketika latihan koor maupun melalui sms2 yang dikirim ke hp anggota. Bercanda juga enak, ketawa-ketawanya lepas terasa, tidak ada kata2 yang bercabang dan mengandung makna lain dari yang diungkapkan. Enak memang saat kita merasa dibutuhkan oleh kawan2.

Namun belakangan ini, rasa itu mulai hilang. Berganti dengan sikap sepele dari kawan2 yang dulu begitu mendukung dan dekat dengan aku. Mungkin hal itu diawali dengan aku sebagai pengurus yang dianggap “holan hata” (ngomong doang). Sering memberi soso-soso (pesan2) tapi justru aku sendiri yang tidak melaksanakan. “Kalau latihan supaya tepat waktu datangnya” demikian yang sering aku pesankan pada kawan2, namun aku sendiri yang datang terlambat bersama istri dan ibuku. Mengharapkan kawan2 yang mulai jarang latihan supaya datang lagi, tapi justru keluarga sendiri tak bisa kuarahkan supaya rajin latihan.   Aku juga dianggap kurang “care” (perhatian) kepada anggota yang sedang mengalami kemalangan.  Kesalahan2 itu rasanya semua terarah kepadaku, rasanya kawan2ku menggugat kepengurusanku terhadap koor wijk 6 yang kucintai. Seolah-olah aku sudah kurang perhatian kepada kumpulan ini. Memang, ada kalanya aku juga lelah dan kurang semangat. Tapi saat jadwal latihan sdh mendekat aku selalu berusaha kembali supaya semngat itu tumbuh. Aku pun belakangan ini semakin sensitif. Apalagi saat menyampaikan pengumuman2 setelah acara latihan koor ada kawan2 yang mengomentari perkataanku, rasanya aku tersudutkan, dibantah dan tidak didengarkan. (Maaf buat kawan2 ku atas semua itu.)

Semoga rasa cinta ini terhadap koor wijk 6 tidak menjadi hancur karena semua itu. Namun tidak bisa kupungkiri sampai saat ini perasaan ditinggalkan oleh kawan2 ku yang dulu kuanggap sebagai kawan sejatiku masih bergejolak dalam sanubariku. Mungkin sudah ada kejenuhan dari kawan2 dengan kepengurusan yang ada saat ini. Solusi terbaik barang kali harus segera diadakan pergantian kepengurusan supaya koor wijk 6 ini tetap eksis dan tidak punah sedikit demi sedikit, supaya kebersamaan, keceriaaan dan terutama KESEDERHANAAN yang dulu ada dalam punguan koor wijk 6 hidup kembali. Semoga!!!!!


4 Responses to “Aku merasa ditinggalkan….”


  1. 1 Jimmy Situmorang
    November 14, 2009 pukul 2:28 am

    Saya sedang membayangkan keadaan yang disampaikan Penulis melalui artikel ini. Kegalauan hatinya sangat terasa. Aku mencoba menyimak uneg-unegnya. Tak sengaja, lagu “Na sonang do hita na dua” yang dinyanyikan Victor Hutabarat mengalun indah melalui corong speaker komputerku sebagai lagu latar. Anehnya, lagu yang seharusnya romantis ini malah seolah membantuku meresapi kesedihannya.

    Di luar hujan turun sangat deras diselingi petir yang menyalak-nyalak. Saya membaca di berita elektronik terbaru banyak orang juga yang sedang kesal. Kenapa? Mereka tidak dapat tiba dengan cepat di rumah karena dibeberapa tempat yang dilalui telah menghadang genangan-genangan air. Ahh.. setiap orang memang punya pergumulannya sendiri.

    Kembali lagi ke topik semula. Kenapa aku ikut sedih, ya.😦 Ternyata aku telah terbawa masuk kedalam suasana yang diceritakan Penulis. Tapi.. nggak apalah aku ikut sedih. Toh aku juga salah seorang yang senang dan bersyukur melihat TW6C kompak. Saya punya tips sederhana, mudah-mudahan ini dapat membantu. Kita memang tidak akan selalu berada di puncak gunung. Kadang-kadang berada di lembah yang butuh pertolongan atau uluran tangan orang lain. Pertolongan bisa saja berupa sapaan hangat penuh kasih daripada memberi kritik yang katanya dapat membangun, topangan kecil dari sahabat atau partner daripada dukungan berupa gosip-gosip murahan yang berpihak pada kita yang pastinya membuat hati semakin panas, serta belaian tangan kasih yang Maha Kuat dari Kristus, Tuhan kita.

    Saya memilih dua yang pertama, sapaan hangat penuh kasih dan topangan dari sahabat seperti dalam lagu “Na sonang do hita na dua”. Kalau yang ketiga saya tak sanggup melakukannya.🙂 Ayo kita nyanyikan! Mulai: Na sonang do hita na dua … hu peop sude denggan ni basam …. nang ro di nasari matua sai tong ingotonku do ho. Kiranya hubungan bilateral kita dengan sesama akan semakin baik. Kiranya Tuhan menolong. Amin.

  2. November 17, 2009 pukul 1:36 am

    Trimas Brother Jimmy Situmorang. Saran dan solusinya sangat bernilai. Pertolongan dan dukungan dari teman2 memang sangat diperlukan disaat kita lemah. Mohon dukungan Doa nya buat eksistensi TW6C dalam pelayanannya.

  3. November 17, 2009 pukul 6:43 am

    Kalau saya menilai Wijk 6 itu baru 3 tahun, ibarat manusia masih bayi yang masih penuh perhatian dan perawatan ekstra. Kalau anak2 dibawah 5 tahun biasanya lebih repot mengurusnya dibanding dengan anak yang berumur 5 th keatas. Apalagi sudah masuk SD. Sudah bisa membantu, diarahkan, dinasehati.

    Artinya, kondisi itu harus kita pahami. Jadi sabar2lah dulu.
    Banyak orang berkata masa 5 tahun pertama adalah masa ujian, dan jika melewati masa itu maka dapat dikatakan tahan uji alias solid.
    Demikianlah kalau ditinjau dari USIA / Faktor umur.

    Dan apabila ditinjau dari analogi kesehatan, pada umumnya penyakit disebabkan oleh Virus, Bakteri.
    Biasanya obat yg diberikan adalah antibiotik 3 x sehari 1 tablet.

    Virus/bakteri itu = Sibolis (Iblis)
    Antibiotik itu = Martangiang / Berdoa

    Lapatanna : marilah kita sama2 berdoa agar iblis dijauhkan dari dalam diri personil dan dari dalam tubuh Punguan Kor Wijk 6.

    Tiada perkara mustahil,
    Dia hanya sejauh Doa kog.

  4. November 17, 2009 pukul 6:55 am

    SAHAT ULA TOHONAN MI
    Selesaikan tugas sampai tuntas.
    Jangan pernah mundur dari kepengurusan.
    Apalagi tidak ada kesalahan yg kita buat.
    Sedangkan ada kesalahan yg kita juga kita juga tidak boleh mundur.
    Karna kita kan harus mempertanggungjawabkan kesalahan tsb serta meminta maaf.
    Kecuali Rakyat yang meminta kita untuk mundur maka kita boleh mundur.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Radio Online

Waktu Hari ini :

performing arts
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter performing arts
free counter

BeasiswA n’ Lowongan Kerja

Info Beasiswa D1 D3 S1 S2

Blog Stats

  • 31,987 hits

IP-Ku

My Popularity (by popuri.us)
November 2009
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Info Geotoolbar

performing arts
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter performing arts
free counter

Nilai Blog’s TW6C

free counters

Peta Lokasi Pengunjung :


%d blogger menyukai ini: