17
Agu
12

SERAGAM BARU PS. WIJK 6 MENUJU FESTIVAL

Masih gresh dan masih dalam plastik siap untuk dipakai dalam festival. Akhirnya seragam baru Paduan Suara Wijk 6 dibagi ke masing2 anggota. Seragam berwarna dasar Orange, sangat bersahaja dan segar kesannya, untuk laki-lakinya dilengkapi dengan dasi coklat keemasan dan untuk perempuannya dipadu dengan kain batik semi sutra berwarna dasar orange juga dihiasi corak batik bergaris hijau. Seragam baru ini dibagi pada saat latihan hari Senin malam tanggal 13 Agustus 2012 di Konsistori Gereja HKBP Pejuang.

Untuk mendapatkan seragam yang sungguh sangat serasi ini, pengurus harian PS. Wijk 6 mengerahkan tim pencari seragam yang dipimpin oleh Ny. M. Situmorang br. Siagian. Inang ini memang cukup modis dalam hal berpakaian dan sangat pandai memilih kombinasi warna pakaian yang serasi dan pantas dalam kesehariannya beribadah di HKBP Pejuang. Tak sia2 lah tim ini dipilih, dan hasilnya pun sungguh sangat memuaskan, seragam festival PS. Wijk 6 memang sangat memikat warna, model dan kombinasinya antara seragam wanita dengan prianya.

Satu hal yang sangat2 penting untuk diingat dan dikenang sehingga seragam baru PS. Wijk 6 menuju festival ini bisa ada dan terwujud adalah “Kerelaan hati yang begitu luhur dan bersahaja” dari Keluarga Ketua PS. Wijk 6 (Amang J. Togatorop dan Inang Ny. J. Togatorop br. Sianturi) menyumbangkan biayanya 100%. Sungguh sangat mengagumkan dan membesarkan hati. Semoga kerelaan dan kesahajaan Amang Ketua dan Inang mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda dari Tuhan sang pemberi berkat.

Seragam baru menuju festival sudah ada, sekarang tinggal tergantung pada seluruh anggota PS. Wijk 6, mari kita berlatih lebih giat dan serius, sehingga seragam ini, kerelaan dan kesahajaan hati Keluarga Amang ketua, akan berbuah manis.  (ETS).

03
Jul
12

Team Volly Wijk6 Juara 1 Pertandingan Bola Volly

Minggu 1 Juli 2012 bertempat di lapangan volly Perumahan Duta Bumi Bekasi telah dilaksanakan pertandingan Final cabang olah raga Bola Volly dalam rangka memeriahkan Pesta Huria HKBP Pejuang tahun 2012. Team yang berhasil meangkah ke Final ini adalah Team Volly Wijk 6 dan Team Volly Wijk 7. Banyak yang menjagokan Team Volly Wijk 6 akan keluar sebagai juara karena melihat Skuad teamnya yang terbilang masih cukup muda dan merata kemampuannya.

Pertandingan berjalan cukup alot dan menegangkan, kejar mengejar angka terjadi terus bahkan sampai penghujung Set 5 penentuan. Set 1 dimenangkan oleh Team Volly Wijk 6 dengan cukup mudah. Namun Team Volly Wijk 7 bangkit dan berhasil memenangkan set 2 dan set 3. Dengan motivasi yang kuat oleh dukungan supporternya yang tak henti2 nya berteriak dan Racikan yang cukup ciamik dari manajer teamnya Mr. Yeffry panjaitan, Team Volly Wijk 6 berhasil memenangkan set 4.

Pertandingan dilanjutkan dengan Set 5 Penentuan. Team Volly Wijk 7 berhasil merah angka 13 duluan sebelum dilaksanakan pertukaran tempat. Dengan strategi Timeout yang cukup jitu dari sang manajer, Team Volly Wijk 6 berhasil meraih angka 24 (match point) terlebih dahulu. Pada posisi angka krusial ini, pemain Wijk 6 grogi sehingga banyak melakukan kesalahan sendiri, Posisi 24-24 (Deuce) pun berhasil diraih team volly wijk 7. Terjadi 8 kali kejar mengejar angka, namun Dewi Fortuna ternyata berpihak kepada Team Volly Wijk 6 sehingga berhasil keluar sebagai juara.

Euforia melanda team volly Wijk 6 dan supporternya, begitu wasit meniupkan peluit panjang tanda pertandingan berakhir dan dimenangkan oleh Team Volly Wijk 6, Supporter wijk 6 berhambur ke lapangan pertandingan melompat dan berteriak gembira berbaur dengan para pemain volly wijk 6. Saling mengucapkan selamat.

Selesai meluapkan kegembiraan, pemain volly wijk 6 saling bersalaman dengan pemain volly wijk 7, seraya melemparkan pujian dan ucapan selamat. Team Volly Wijk 6 mengatakan bahwa team volly Wijk 7 kalah secara terhormat dan team wijk 7 mengatakan selamat dan team volly wijk 6 layak menjadi juara. Selamat buat Team Bola Volly Wijk 6, medali emas pertama berhasil kita raih, semoga di cabang pertandingan yang lainnya juga kita bisa berprestasi.

Foto2 terkait pertandingan :

 

17
Mar
11

Guru 2 TW6C (Guru Cadangan)

Rabu , 16 Maret 2011 (Latihan Koor TW6C di Rumah Kel. St. B. Manullang)

Handphone ketua TW6C berbunyi malam itu sekita pukul 19.30 WIB, rupanya Sms masuk dari guru koor TW6C Amang E. Silitonga isinya berbunyi “Sorry ya Lae, aku lembur, gak bisa datang latihan”. “Ah… baru sekarangnya di sms Lae ini, kalau dari tadi siang kan bisa ditunda dulu latihannya” ucap ketua TW6C dalam hatinya. Tapi karena sudah siap2, berangkat juga ketua TW6C dengan nyonyanya yang lg “endut” (denggan pamatangna) ke tempat latihan koor di rumah Kel. St. B. Manullang/ Br. Nainggolan Blok D Per. Puri Harapan Bekasi.

Sesampainya di sana sudah cukup banyak anggota koor yang hadir, sudah komplit lah perwakilan setiap suara (Suara Sopran sampai Bass). “Dang boi ro gurunta bah, lembur ninna Ibana” (“Gak bisa datang guru kita, lembur Dia katanya”) kata ketua selesai menyalami setiap anggota yang sudah duduk di tikar. Terbersit rasa kecewa di wajah2 anggota koor yang sudah hadir saat itu, “Wah…. lebih baik gak usah latihan tadi kalau begini” kata sekretaris TW6C amang HPT. Purba. Tapi walau begitu tepat pukul 20.30 WIB latihan dimulai diawali doa pembuka dan pembacaan firman Tuhan daru Renungan Harian HKBP. Dalam doa yang dipimpin oleh sekretaris TW6C beliau mendoakan supaya Tuhan memberi kekuatan kepada Lae Sitohang yang akan menggantikan guru koor melatih koor malam ini. Habis doa dan pembacaan firman Tuhan, ketua TW6C langsung nyeletuk  “Wah… hebat kali lae Purba ini bah, menunjuk pelatih koor lewat doa,… bagaimana lagi awak menolak ini”. Semua pada gerrrrr… tertawa. Akhirnya… dengan kemampuan seadanya bermodalkan korek api gas dan piring (buat mangantuk-atuk ketukan koor) ketua TW6C memimpin latihan malam itu.

Hampir komplit yang datang latihan malam itu ditambah lagi hadirnya Amang P. Sibagaring bergabung sebagai anggota baru TW6C (Puji Tuhan Halleluyah),  jumlah yang hadir 22 orang dihitung nyonya ketua TW6C. Selesai latihan sambil menikmati hidangan snack dari tuan rumah, ketua TW6C membuka wacana supaya segera dipilih dan ditunjuk lah “GURU 2 TW6C” (guru Cadangan). Semua pada setuju ide tersebut, sehingga diminculkan lah kandidat – kandidat GURU ke-2 (Guru Cadangan TW6C) dengan nama-nama dan pertimbangan sebagai berikut :

1. Amang L.J. Sihombing, dengan pertimbangan aktif membina naposo bulung pada masa doli2-nya dulu dan sudah pernah memimpin PS. Parsahutaon Puri Harapan dalam acara perayaan Natal Parsahutaon pada tahun 2009.

 

 

 

 

 

2. Amang H. P. T. Purba, dengan pertimbangan beliau adalah seorang guru (tapi guru MATEMATIKA) jadi tinggal memoles dan menambah dikit lagi bisalah jadi guru koor.

 

 

 

 

 

 

3. Amang J. Togatorop, dengan pertimbangan beliau adalah juara 1 lomba karaoke pada acara bona taon TW6C yang dilaksanakan awal Februari 2011 yang lalu.

 

 

 

 

 

4. Amang E. Sitohang, dengan pertimbangan karena dia ketua dan laenya pulaknya guru 1 TW6C.

 

 

 

 

 

 

Nanti biarlah guru 1 TW6C yang menentukan siapa kira2 yang layak menurut beliau jadi wakil nya (guru 2 / guru cadangan). Supaya kita gak pusing-pusing lagi kalau seandainya guru 1 TW6C berhalangan datang latihan.  (ETS)

14
Jan
11

Video TW6C in ACtion on Festival

17
Des
10

Merry Christmas Everyone….

Peristiwa kelahiran Yesus adalah awal sejarah keselamatan, karya keselamatan itu berpuncak pada sengsara, mati dan kebangkitanNya. Kedatangan Kristus ini sudah berulang kali diberitakan kepada umat manusia dan tertulis dalam Perjanjian Lama, dan pemenuhannya itu menjadi tanda kasih setia Allah kepada kita.

KelahiranNya itu merupakan peristiwa yang unik, karena Dia yang adalah Allah sendiri itu memilih cara yang begitu humble, meminjam rahim seorang perawan dan Dia lahir sebagaimana biasa seorang bayi lahir, hanya bedanya Ia lahir bukan dari benih fana antara benih perempuan dan laki-laki. Namun bayi yang ada dalam kandungan perempuan itu adalah dari Roh Kudus (Matius 1:20).

Didalam Yesus Kristus, kita mendapatkan anugerah persekutuan yang erat dengan Allah. Dia bukanlah Allah yang jauh, melainkan dekat dengan kita. Dalam diri Yesus Kristus, Allah mendatangi kita dan hadir di tengah-tengah umat manusia. Allah yang Maha-Agung dan Maha-Kuasa rela menjadi senasib dengan manusia dalam segala hal, termasuk kerelaannya menjadikan diriNya tebusan dalam peristiwa penyaliban dan berkorban demi misi penyelamatan umat manusia dari dosa.

PERINGATAN KELAHIRAN KRISTUS :

Peringatan kelahiran Kristus sering menjadi sorotan berbagai pihak, diluar Kristiani maupun kalangan Kristiani sendiri, bahkan ada diantara mereka yang ‘sangat membenci’ hari Natal. Mereka mengatakan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Hal tersebut bisa dipahami, karena Alkitab memang tidak menulis tanggal kelahiran Yesus.

Mereka juga mengatakan 25 Desember adalah hari-raya kaum kafir . Terbukti dengan data tertulis yang memuat liturgi perayaan kelahiran Kristus itu dapat dilihat dalam papirus pada abad ke-IV. Pada tahun 274 M di Kerajaan Romawi, tanggal 25 Desember dimulai perayaan kelahiran matahari karena diakhir musim salju tanggal itu matahari mulai kembali penampakan sinarnya dengan kuat, karena itu bagi orang Romawi kuno, hari itu dirayakan sebagai hari Matahari.

Ketika Kekristenan ‘dijadikan agama negara’ di Kerajaan Romawi, kebiasaan perayaan itu ternyata sukar ditinggalkan masyarakat Roma yang sudah menjadi Kristen. Oleh karena itu para pemimpin gereja kemudian mengalihkan perhatian mereka, perayaan yang semula menjadi perayaan Matahari diganti menjadi perayaan peringatan kelahiran Yesus. Ketentuan ini oleh gereja pada masa itu diresmikan di Roma tahun 336, dan mereka menjadikan tanggal 25 Desember sebagai hari peringatan kelahiran Kristus.

Peringatan kelahiran Kristus dengan tanggal peringatan 25 Desember akhirnya juga diperkenalkan oleh Kaisar Konstantin, hal ini sebagai pengganti tanggal 5-6 Januari yang sebelumnya sudah ditetapkan sebagai hari peringatan kelahiran Kristus. Perayaan Natal kemudian di lakukan di Anthiokia pada tahun 375 dan pada tahun 380 dirayakan di Konstantinopel, dan tahun 430 di Alexandria dan kemudian di tempat-tempat lain dimana kekristenan berkembang.

Tampaknya dengan latar belakang itu, tuduhan-tuduhan mengenai 25 Desember adalah hari raya kafir memang berdasar, karena ada catatan sejarah yang secara jelas menulis hal tersebut. Sekarang bagaimanakah kita menyikapi hal itu? Haruskah kita tidak lagi merayakan natal pada tanggal 25 Desember?

Dari penjelasan sejarah diatas, dapat kita ketahui bahwa awal-mula perayaan kelahiran Kristus bukan tanggal 25 Desember melainkan tanggal 5-6 Januari. Tetapi karena kesepakatan para pemimpin gereja pada waktu itu mereka mengubah peringatan tanggal 5-6 Januari menjadi tanggal 25 Desember untuk mengalihkan perhatian umat Kristiani dari kepercayaan lama mereka menuju kelahiran Kristus. Sehingga pada saat yang sama orang-orang kafir yang belum bertobat dan masih tetap merayakan tanggal 25 Desember dialihkan perhatiannya kepada Kristus.

Tetapi di masa kini umat Kristen tidak ada yang mengkaitkan hari Natal dengan hari dewa Matahari, tidak ada penyembahan atau apapun yang berkaitan dengan paganisme matahari dalam perayaan natal orang-orang Kristen. Karena Kristus-lah yang menjadi center-nya. Jadi walaupun tidak ada tertulis dalam Alkitab Yesus lahir pada tanggal 25 Desember, umat Kristen secara umum merayakan hari Natal pada salah satu hari di bulan Desember sampai Januari demi keseragaman.

Dalam memperingati “hari kelahiran Kristus” umat Kristiani akan menyadari makna yang lebih dalam lagi adalah kehadiran Allah dalam bentuk kelahiran Yesus Kristus sebagai Juruselamat yang mendatangkan damai sejahtera di bumi. Kehidupan Yesus sebagai Tuhan yang menjadi manusia yang menyertai kita (Immanuel) tidak dapat dilepaskan dari saat kelahiran, pembaptisan, pelayanan, penyaliban, kebangkitan, sampai kenaikanNya ke surga. Sekalipun demikian, sebagai suatu peringatan, memang Natal kemudian berkembang sebagai suatu ‘perayaan’ dalam tradisi gereja dan masyarakat pada umumnya.

BOLEHKAH KITA MERAYAKAN CHRISTMAS/NATAL?

Perayaan hari kelahiran Yesus memang tidak tertulis, bahkan tidak ada anjuran dalam Alkitab untuk “merayakan” Natal, tidak ada anjuran untuk memasang pohon terang, dll.
Tetapi “Memperingati” kelahiran Yesus Kristus itu “mutlak”.

Anda tentu bisa membedakan arti ‘perayaan’ dan ‘peringatan’, perayaan adalah cenderung bersifat pesta, sedangkan ‘peringatan’ lebih bersifat khidmat :

* 2 Timotius 2:8
LAI TB, Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.
KJV, Remember that Jesus Christ of the seed of David was raised from the dead according to my gospel:

Ayat diatas adalah nasehat dari rasul Paulus kepada Timotius, tentang 3 hal yang penting akan Tuhan Yesus Kristus : KelahiranNya, kematianNya, dan kebangkitanNya.

Peringatan, asal katanya adalah ‘Ingat‘. Kata “ingatlah” dalam ayat diatas menggunakan kata  meletakkan sesuatu di dalam pikiran. Akar kata yang sama juga dijumpai dalam ayat ini:

* Lukas 22:19
LAI TB, Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”
KJV, And he took bread, and gave thanks, and brake it, and gave unto them, saying, This is my body which is given for you: this do in remembrance of me

Apakah kita hanya “mengingat” kematian Kristus? Apakah kita tidak “mengingat” kebangkitan-Nya, dan apakah kita tidak “mengingat” kelahiran-Nya pula?
Justru kebangkitan dan kelahiran Yesus Kristus itulah yang menjadi “inti” pemberitaan Paulus seperti dalam 2 Timotius 2:8 di atas. Paskah tanpa Natal tidak akan lengkap maknanya, karena kita tidak mengerti makna dari Paskah itu bila kita tidak mengerti makna KelahiranNya (natal).

“Merayakan” jelas berbeda dengan “memperingati” atau “mengingat”. Merayakan cenderung berhura-hura, berpesta. Tetapi “mengingat” adalah lawan dari kata “melupakan”. Tentu kita tidak akan melakukan tindakan seperti lawan kata ini. Yesus yang lahir di kandang yang hina perlu dijadikan contoh kerendah-hatian umat Kristiani yang melayani dan tidak minta dilayani. Dan menjadikan contoh bahwa Allah yang Maha Mulia dan yang Empunya langit dan bumi itu ternyata lebih memilih cara sederhana dalam kedatanganNya di dunia.

Mengenai Natal/Christmas; Sebenarnya tidak hanya dirayakan secara “religius” oleh umat Kristiani. Pada masa kini orang-orang yang bukan Kristen dimana-mana, misalnya di Jepang, di China dan lain-lain mereka pun ‘merayakan’ Christmas sebagai hari raya untuk bersenang-senang. Bahkan Christmas di seluruh dunia banyak digunakan sebagai “marketing tools”. Di Malaysia, negara Muslim terakhir saya kesana pada saat menjelang natal; Mall, Dept Store, Restaurant dimana-mana didekor sedemikian rupa untuk menarik minat customer/turis. Hal tersebut mungkin karena mereka juga tahu bahwa perayaan Natal pada 25 Desember hanyalah tradisi, bukan perintah yang tertulis dalam Alkitab.

Saya melihat segi positifnya saja, dengan Christmas banyak orang mengemas acara, ie. gathering, dinner dan macam-macam acara lain, untuk bercengkerama dengan keluarga dan sahabat2 mereka walaupun mereka bukan Kristen. Dan perayaan Christmas bisa juga menjadi sesuatu moment bagi tiap orang untuk merayakannya dengan caranya masing-masing.

Karena Perayaan Christmas sudah menjadi ‘tradisi dunia’, maka kita sebagai umat Kristiani harus sungguh menghargai karya penebusan Kristus yang sudah dijalankanNya dengan sempurna. Karena keyakinan akan Yesus tidak dapat dilepaskan dari kelahiranNya sebagai pemenuhan nubuatan para Nabi, Allah yang menjadi manusia Yesus (Matius 1:18-2:12 dan Lukas 1-2).
Walaupun secara ‘tradisi’ kita memperingatinya pada tanggal 25 Desember. Tetapi, marilah kita ‘memperingati’ kelahiranNya, yang dengan lebih berfokus pada syukur dan khidmat kepada Allah kita yang telah rela merendahkan diriNya sebagai manusia. Dan janganlah kita kehilangan makna ‘natal’ yang sesungguhnya, jadikanlah Natal selalu menjadi kabar baik bagi semua orang di sekitar kita, bahwa Allah telah membuktkan kasihNya dalam diri Yesus Kristus Tuhan kita.

Semoga damai dan riang-ria di suasana Natal ini menjadi berkat bagi semua umat manusia, terlebih bagi kita umat Allah yang telah ditebus.

Amin.

Tulisan dari : BUDI PRAMONO

Disadur dari : http://www.sarapanpagi.com

20
Jan
10

Blackforest Cinta di Ultah Lae Sihombing

Senin 18 Januari 2010, Latihan Koor di rumah Kel. L.J. Sihombing/ Br. Silalahi

Blackforest .. kue bolu bertabur irisan2 coklat memang sangat mengundang selera. Ingin rasanya mencomot irisan coklat2 yang bertaburan di atasnya apabila melihat kue yang satu ini. Apalagi bila ditambah hiasan buah cerry merah yang manis di atasnya.. Hmmm… Hmmm… sedap. Silap mata dikit… hilang deh buah cerrynya.

Pucuk dicinta… ulam pun tiba… Kue yang sedap itu ada dalam latihan koor TW6C yang dilaksanakan pada Hari Senin tanggal 18 Januari 2010 kemarin di rumah Kel. L.J.Sihombing. Latihan perdana yang kembali disepakati oleh seluruh anggota TW6C untuk dilakukan di rumah2 anggota, karena latihan di gereja kurang menarik animo anggota untuk datang latihan.

Latihan dalam rangka Ulang Tahun… mungkin itu judul yang paling pas untuk latihan koor TW6C kali ini. Tepat pada hari itu tanggal 18 Januari 2010, Lae L.J. Sihombing berulang tahun ke-40 tahun. Suatu Usia yang patut dirayakan. Seperti kata pepatah ”Men’s  life begins at 40”. Walaupun sederhana (hanya mengundang kawan2-nya TW6C) sambil latihan koor, Ultah ke-40 Lae L.J. Sihombing pun dirayakan dengan sukacita.

Usai latihan ”mangarata-ratai” (mengingatkan kembali) lagu ”Songon On Hata ni Jahowa” buah karya D. Manullang, acara potong Kue Blackforest pun dilaksanakan, mulanya Lae L.J. Sihombing agak sungkan, namun dengan bujuk rayu anggota TW6C yang hadir saat itu (”terutama ibu2-nya”….. udah pada lapar kali yee..) akhirnya Lae L.J. Sihombing mau juga melakukan Ritual Tiup Lilin Ulang Tahun.

Kue Blackforest Cinta… demikian moderator TW6C Diary menggambarkan tentang kue Blackforest yang dihidangkan dalam Latihan koor + Ultah Lae L.J. Sihombing malam itu. Kue Blackforest Cinta dari Ito Ny. L.J. Sihombing Br. Silalahi buat Lae L.J. Sihombing… Rasa Cinta buat suaminya itu jelas terpancar dari mata dan wajah Ito Ny. L.J. Sihombing Br. Silalahi saat membawa Kue Blackforesh itu dari kamar, saat menyiapkan tempat kue itu di atas tikar, saat membuka piring2 dan garpu kecil utuk tempat membagi kue itu. Senyum gembira Ito Ny. L.J. Sihombing Br. Silalahi tak pernah luntur saat melakukan semua itu. Meminjam Istilah Lae L. Sagala… ”Beruntung Kali lah Lae Sihombing meiliki Istri seperti Ito Br. Silalahi ini Bah…”

Pokoknya kenyang lah anggota TW6C malam itu… rupanya bukan hanya Balackforest itu menu malam itu, ada lagi rupanya ”Mie Goreng campur irisan daging B2”… mantap deh. Deelingi canda gurau gembira makan malam dengan menu ”Mie Goreng” itu berlangsung.

Selamat Ulang Tahun Ke -40 untuk Lae L.J. Sihombing, semoga panjang umur, sehat selalu, sukses dalam usaha/karir… dan berkat terindah yang masih kita nantikan.. kehadiran keturunan di tengah-tengah keluarga kiranya segera dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Baik. Sebagai ganti kado, di bawah ini TW6C Diary menuliskan Lyrik Lagu “Life Begins At Forty”  karya  Jack Yellin / Ted Shapiro, semoga bermakna di hati. Horas!!!!! (ETS)


LIFE BEGINS AT FORTY

(Jack Yellin / Ted Shapiro)
A Musical Monologue by Sophie Tucker

I’ve often heard it said and sung

That life is sweetest when you’re young

And kids, sixteen to twenty-one

Think they’re having all the fun

I disagree, I say it isn’t so

And I’m one gal who ought to know

I started young and I’m still going strong

But I’ve learned as I’ve gone along…….

That life begins at forty

That’s when love and living start to become a gentle art

A woman who’s been careful finds that’s when she’s in her prime

And a good man when he’s forty knows just how to take his time

Conservative or sporty, it’s not until you’re forty

That you learn the how and why and the what and when

In the twenties and the thirties you want your love in large amounts

But after you reach forty, it’s the quality that counts

Yes, life begins at forty

And I’ve just begun to live all over again

You see the sweetest things in life grow sweeter as the years roll on

Like the music from a violin that has been well played upon

And the sweetest smoke is from a mellow, broken and old pipe

And the sweetest tasting peach is one that’s mature, round and ripe

In the twenties and the thirties you’re just an amateur

But after you reach forty, that’s when you become a connoisseur

Then it isn’t grab and get it and a straight line for the door

You’re not hasty, you’re tasty, you enjoy things so much more

For instance, a novice gulps his brandy down, he doesn’t understand

Observe a connoisseur, the way he holds it in his hand

How he strokes the glass, fondles it, warms it as he should

Smaks his lips, aahhh, slowly sips, hah, boy, it tastes good

Life begins at forty

Then it isn’t hit and run and you find much more fun

You romance a girl of twenty and it costs you all your dough

But when a forty thanks you, she hates to see you go

And girls of twenty, all they want are big men

Big men with strong physiques

I don’t say that it’s bad

But you do get tired of those damn Greeks

Life begins at forty

And I’m just living all over again

13
Jan
10

Inspirasi sebuah kotbah rumamet.com… (jemaat yang sebenarnya)

Batu Hidup Rumah Rohani

Almanak Senin 11 Januari 2010:

Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. (1 Petrus 2:5)

Rasul Petrus melukiskan gereja sebagai suatu rumah rohani atau Bait Roh Kudus dan anggota-anggota gereja diundang sebagai batu-batu hidup pembangunan rumah itu. Alangkah indahnya.

Gambaran ini hendak menunjukkan kedudukan dan peran kita dalam gereja. Kita adalah anggota dan bukan pengamat  gereja. Kita adalah peserta dan bukan penonton ibadah. Kita diajak  melibatkan diri dan bukan sekadar melihat-lihat kesaksian, pelayanan dan persekutuan gereja. Tiap-tiap orang diundang berpartisipasi dalam pembangunan gereja sebagai persekutuan, kesaksian dan pelayanan demi kemuliaan Tuhan itu. Setiap orang anggota gereja sebab itu harus memiliki komitmen dan tanggungjawab bagi gereja bukan hanya selera dan mood saja.

Pertanyaan: apa dan bagaimana peran Saudara dalam gereja (baca: jemaat lokal dimana  saudara terdaftar)? Apakah kontribusi dan partisipasi Saudara?  Sejauhmanakah Saudara menjadikan semua itu sebagai komitmen (janji) dan tanggungjawab?

Doa:

Ya Allah, terima kasih atas undanganMu masuk ke dalam kehidupanMu yang kekal dan ke dalam gerejaMu. Berkatilah keanggotaan kami dalam gerejaMu. Jadikanlah kami batu-batu hidup bagi pembangunan Bait Roh Kudus, Rumah Allah, Tubuh Kristus.  Mulialah nama Tuhan melalui kontribusi dan partisipasi kami dalam kesaksian, pelayanan dan persekutuan gerejaMu. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Renungan harian yang dituliskan Pdt. Daniel Taruli A. Harahap dalam www.rumametmet.com ini sangat inspiratif dan memperluas cakrawala berfikir kita sebagai anggota jemaat. Ternyata kedudukan kita sebagai anggota jemaat bukan sebagai pengamat  gereja, bukan penonton ibadah dan bukan pula sekadar melihat-lihat kesaksian, pelayanan dan persekutuan gereja.

Kita diajak  melibatkan diri,  diundang berpartisipasi dalam pembangunan gereja sebagai persekutuan, kesaksian dan pelayanan demi kemuliaan Tuhan itu, oleh sebab itu setiap orang anggota gereja harus memiliki komitmen dan tanggungjawab bagi gereja bukan hanya berdasarkan saat ada  selera dan mood saja.

Sebagai anggota koor yang sudah melayani dan terlibat sekian lama dalam pelayanan di gereja, mari kita tetap melayani, dan jangan gampang “mandele” (ngambek) atau juga kendor semangat karena  melihat sebagian kawan sudah jarang datang latihan.

Sebagai anggota yang sudah mulai jarang datang latihan… apakah Anda mau jadi jemaat yang hanya sebagai penonton saja???… mari libatkan lagi dirimu dalam pelayanan…. Masa cuma karena cobaan sedikit saja sudah kendor semangatnya. Tuhan Yesus sampai mati di kayu salib demi kita lho…. apakah kita tidak malu??? Dan yakinlah.. cobaan itu tidak akan melebihi kekuatan kita… Tuhan sudah janji kok untuk kita dalam firmannya. Dekatkan lagi padanya, melalui persekutuan2 dengan saudara se-iman, supaya engkau mempunyai kekuatan menahan cobaan itu, supaya solusi terbaik terhadap masalahmu engkau temukan.

Sebagai Sintua/Parhalado/Majelis gembalakan lagi lah domba2 Tuhan (para jemaat gereja), … kami ruas/jemaat sangat rindu sapaan dari parhalado kami disaat kami mulai lemah, lelah dan kadang tidak ada mood pergi ke partangiangan, latihan koor ataupun kebaktian minggu. Kami siap sebagai ruas mendukung program2 gereja kita dan membantu tugas Amang2 Parhalado kami sekalian semampu kami.

Semoga Tuhan Yesus menyertai kita semua!!!!

31
Des
09

Gus Dur “Sang Humanis” Pembela Kaum Tertindas Telah Tiada

Langit Jakarta mendung dan beranjak gelap. Hari Rabu 30 Desember 2009 pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, K.H. Abdurahman Wahid “Gus Dur” telah berpulang menghadap Tuhan, meninggalkan keluarga yang dicintainya, meninggalkan kaum minoritas yang selalu dibelanya, meninggalkan orang2 tertindas dan terpinggirkan yang selalu berharap kepadanya, meninggalkan bangsa indonesia yang memuja bahkan menentangnya.

Ya… Sang Humanis pembela kemanusiaan, Sang pelopor kemajemukan, Sang penyokong Kebinekaan Bangsa Indonesia telah tiada. Rakyat Indonesia Berkabung, tetesan air mata orang2 yang mencintainya beruraian tidak terbendung membanjiri bumi pertiwi. Telah hilang lagi satu Putra terbaik bangsa ini.

Sungguh banyak pelajaran dan pemikiran yang telah ditorehkan oleh Sang Humanis ini bagi bangsa Indonesia yang bahkan oleh sebagian masyarakat dianggap “Nyeleneh dan Kontroversial”. Beliau pernah hendak menggantikan ucapan “Assalamualaikum WmWb” yang dianggapnya bersifat sektarian dengan ucapan “Selamat Pagi, Selamat Siang atau Selamat Malam” yang dianggapnya lebih membumi dan lebih “Indonesia”. Bahkan di tengah-tengah umatnya Beliau pernah mengkritik tentang peraturan yang mempersulit pendirian rumah2 ibadah agama minoritas di Indonesia yang tengah marak saat itu. Walau beliau ditentang bahkan dihujat oleh karena pemikirannya itu tapi Beliau tidak gentar dan selalu siap “pasang badan” untuk tetap memperjuangkan apa yang dianggapnya benar dan akan berguna untuk mendidik banggsa ini.

Sang Penggemar karya2 Mozzard, Sebastian Bach, Bethoven dan Handle. Lagu Great Halleluya karya Handle adalah salah satu lagu kesukaannya. Hal ini pernah diucapkannya saat perayaan natal nasional dimana dia hadir saat menjabat sebagai Presiden RI ke-4.

Masih banyak hal2 besar yang sudah dan hendak disampaikannya kepada Bangsa Ini. Namun Tuhan lebih mencintainya. Walau Sang Humanis Gus Dur telah tiada, tapi ucapan, pemikiran dan hal2 besar itu akan tetap bertumbuh subur dan diteruskan oleh orang2 yang mencintainya.

Selamat Jalan Sang Humanis, Selamat Jalan Gus Dur, Kami yakin dan percaya Hari ini Engkau sudah berada di Firdaus Sorga Kekal bersama Bapa Surgawi. Kami sangat berduka dan Haru biru dengan kepergianmu.

10
Des
09

Teman Sejati Ku Hadir Kembali

Oleh : Efrael T. Sitohang

Batapa sukanya hatiku saat ini, teman-teman sejatiku itu sudah hadir kembali. Ya… sungguh menjadi kado advent yang sangat indah buatku. Di minggu-minggu penyambutan hari kelahiran Sang Juru Selamat Tuhan Yesus Kristus, wujud teman sejati itu hadir lagi dalam hati setiap anggota TW6C dalam latihan rutin koor TW6C  Senin malam 7  Desember 2009. Terima kasih Tuhan, Engkau sungguh ajaib. Petolongan-Mu selalu datang tepat waktu dan Indah pada waktunya.

Berawal dari Undangan untuk melayani dalam acara Natal Bersama yang datang dari Punguan Parsahutaon Puri Harapan kepada TW6C melalui aku (sebagai Ketua TW6C) pada hari Sabtu 5 Desember 2009. Undangan ini disampaikan oleh Ketua Parsahutaon Puri Harapan kepada ketua TW6C yang kebetulan duduk sebagai salah satu pengurus harian di Parsahutaon Puri Harapan. Terbersit keraguan di hatiku saat itu, apakah nanti kawan2 di TW6C mau menghadiri acara ini? Tapi dengan mengucap doa dalam hati “Tuhan pasti bekerja”, aku menerima undangan itu dan mengatakan akan menyampaikannya kepada TW6C.

Keraguan itu sempat muncul kembali selepas acara kebaktian minggu tanggal 6 Desember 2009 di HKBP Pejuang. Saat aku bertemu dengan Amang H. Silitonga. Sambil bersalaman dengan beliau, aku mengingatkan tentang latihan rutin hari Senin malam “Lae latihan kita hari senin ya, untuk persiapan lagu natal, ada undangan natal untuk koor kita” ucapku saat itu. Kemudian dijawab Amang itu dengan sedikit perasaan emosi yang tertahan : “Okelah, … tapi nanti aku perlu bicara dulu di punguan saat latihan… aku lihat sudah ada yang tidak beres dengan anggota punguan ini” kata beliau. “Wah.. bisa rame lagi ini”, pikirku saat itu.

Hari senin siang kembali aku sibuk memencet huruf2 di hpku untuk mengirim sms kepada seluruh anggota agar semua datang dalam latihan koor senin malam pukul 20.00 WIB. (Aktivitas “kirim sms” ini sempat kuhentikan beberapa waktu lalu karena kesal dan ingin melihat apakah tanpa diingatkan, teman2 anggota TW6C akan datang latihan? Dan jawabannya : ternyata hanya sebagian kecil yang ingat walau tidak diingatkan dgn sms.) “Latihan koor di gereja pukul 20.00 WIB untuk persiapan lagu natal, asa ro ma hita sude ate!” begitu kutuliskan dalam sms ku kepada teman2 anggota TW6C. Hari pun beranjak malam, waktu latihan koor TW6C pun semakin dekat. Pada saat makan malam, dalam doa makan bersama istriku kuucapkan doaku meminta kepada Tuhan agar suasana latihan koor TW6C nanti bisa berlangsung dalam suasana yang kondusif, tidak ada percekcokan dan suasana hati yang panas lagi.

Pukul 20.15 WIB aku dan istriku tiba di Gereja HKBP Pejuang. Masih sedikit yang  hadir (cuma 4 orang plus guru koor Lae E. Silitonga). Salam2 sedikit, gak lama menyusul anggota yang lain berdatangan satu demi satu. Setelah cukup komplit dan perwakilan setiap suara sudah hadir semua serta waktu pun sdh menunjukan pukul 20.30 WIB, akhirnya semua sepakat untuk memulai latihan. Aku memimpin doa pembukaan, dalam doaku kembali kuminta pada Tuhan agar Tuhan menjaga hati kami anggota TW6C supaya tetap dipenuhi kasih kepada sesama anggota dan tidak larut dalam pertentangan yang diciptakan si Iblis, dilanjutkan dengan pembacaan almanak yang kukutip dari http://www.rumametmet.com. Usai pembacaan almanak renungan harian, waktu kuserahkan kepada guru koor untuk memimpin latihan. Suasana sempat agak dingin dan sedikit kaku, namun semakin lama suasana dingin membeku itu mulai mencair dan semakin hangat. Apalagi kemudian, walau agak telat Kel. L. Sagala dan Nyonya hadir dalam latihan. Biasalah kalau Amang sagala sudah bikin guyonan, semua akan ter-wakakakwkwk.

Lagu “Nang Humuntal Pe Angka Robean” karya sang Maestro Gorga (Bonar GultoM) dipilih untuk dilatih malam itu, dengan pertimbangan lagu ini sudah pernah dibawakan dengan baik oleh TW6C  dan kebetulan lagu ini juga akan dijadikan sebagai lagu koor gabungan wijk dalam acara natal bersama Ama dan Parompuan HKBP Pejuang tanggal 26 Desember 2009. Kenangan saat menyanyikan lagu “Nang Humuntal pe Angka Robean” ini dengan baik waktu pelayanan dalam ibadah Minggu sebelumnya ternyata juga sedikit banyak membantu terciptanya kembali kehangatan dan keakraban sesama anggota TW6C dalam latihan koor malam itu.

Selesai latihan koor kembali aku menyampaikan pengumuman2 kepada semua anggota, pertama meminta kesediaan seluruh anggota TW6C supaya dapat menghadiri undangan Perayaan Natal Parsahutaon Puri Harapan pada hari Sabtu 12 Desember 2009 pukul 18.00 WIB yang sepertinya diiyakan oleh semua anggota dan kedua latihan pemantapan yang sepertinya perlu dilaksanakan agar dalam pelayanan nanti tidak terjadi kesalahan dalam bernyanyi dan pemantapan itu disepakati akan dilaksanakan Malam ini Kamis 10 Desember 2009 di rumah Kel. L.J Sihombing/ Br. Silalahi. Ada yang sedikit lucu dan menambah suasana akrab dalam memilih tempat latihan pemantapan koor. Amag L.J. Sihombing bersedia latihan di rumahnya dengan syarat Nyonya Ketua TW6C yang menyediakan konsumsi “Mie Gomak”nya. Terjadilah acara bujuk – membujuk dan rayu -merayu disini, yang pada akhirnya disepakati baik dari Kel. L.J. Sihombing sebagai penyedia tempat dan Kel E. Sitohang penyedia “Mie Gomak”. Setelah doa penutup, acara kongkow2 dilanjutkan di halaman gereja. Disinilah baru jelas semua. Amang H. Silitonga menjelaskan maksud ungkapannya saat kami ketemu seusai acara kebaktian minggu. “Senang hatiku melihat latihan kita malam ini Lae, terus terang aku agak sedih dan sedkit geram hari Minggu kemarin, kulihat wijk yang lain makin kompak, koq kenapa wijk 6 ini makin mellep. Hal2 seperti itu jangan kita diamkan, harus selalu ditanyakan Lae kepada anggota” kata beliau menjelaskan. Ada kelegaan yang besar saat itu, kuasa Tuhan bekerja, ternyata latihan TW6C berlangsung dengan kondisif dan suasana yang akrab.

23
Nov
09

Bagaimana Ke-12 Murid dan Rasul2 Kristus Meningal??

Tahukah anda bahwa kita disebut Kristen (pengikut Kristus) tak lepas dari peran ke-12 orang ini. Mereka adalah orang2 yang dipilih sendiri oleh Yesus Kristus menjadi murid2-Nya. Mereka disebut sebagai Rasul-Rasul nya Kristus. Mereka adalah manusia biasa sama seperti kita, punya kelemahan, punya iman yang kadang goyah, bahkan ada yang menyangkal Kristus sampai 3 kali sebelum ayam berkokok. Tapi Yesus Kristus pernah berkata : “Bukan kamu yang memilih Aku, tapi Akulah yang telah memilih kamu”. Ke-12 murid yang dipilih oleh Kristus itu benar2 adalah orang2 pilihan, terbukti telah menjadi pejuang2 Iman, pembawa kabar sukacita/injil, yang tidak kenal lelah bahkan mati dalam kesengsaraan demi memberitakan bagi seluruh dunia bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.

Ada orang2 bijak mengatakan, jika ingin melihat nilai perjuangan, nilai hidup seseorang maka lihat lah pada akhir hidup orang tersebut. Ke- 12 Rasul / Murid Yesus Kristus yang adalah orang muda, yang pada awal2 nya adalah juga orang yang lemah iman dan kepercayaannnya, namun pada akhirnya terlihat bahwa Mereka adalah orang yang gigih memperjuangkan iman-Nya kepada Kristus, tidak lelah memberitakan Injil kabar suka cita, supaya semua orang percaya dan mengenal Yesus Kristus adalah Juru Selamat serta mau mengikut Dia, bahkan rela mati dalam penderitaan.

Seberat dan semenderita apakah ke-12 Rasul itu pada akhir2 hidupnya. mari kita baca dan renungkan bersama-sama :

Matthew.

Mati syahid di Etiopia, terbunuh oleh pedang.

 

 

 

 

Mark

Meninggal di Alexandria – Mesir, setelah diseret oleh kuda melalui jalan-jalan sampai dia mati.

 

 

 

 

 

Luke.

Digantung di Yunani sebagai akibat dari khotbah yang sangat besar untuk “orang-orang yang hilang”.

 

 

 

 

 

JOHN

Menghadapi kesyahidan ketika ia direbus dalam baskom besar minyak mendidih selama gelombang penganiayaan di   Roma. Namun, ia
disampaikan secara ajaib dari kematian. John kemudian dihukum tambang di pulau penjara Patmos. Dia menulis kenabiannya
Kitab Wahyu di Patmos. Rasul Yohanes kemudian dibebaskan dan kembali untuk melayani sebagai Uskup Edessa di Turki

 

 

PETER

Ia disalibkan terbalik di x-berbentuk salib. Menurut tradisi gereja itu karena dia mengatakan kepada penyiksanya bahwa ia merasa tidak layak untuk mati dengan cara yang sama ketika Yesus Kristus  mati di kayu Salib.

 

 

 

 

 

JAMES

Pemimpin gereja di Yerusalem, James dilemparkan lebih dari seratus kaki turun dari puncak tenggara Bait
ketika dia menolak untuk menyangkal imannya kepada Kristus. Ketika mereka menemukan bahwa ia selamat dari jatuh,  musuh-musuhnya James membunuhnya sehingga dia benar2 mati.
* Ini adalah puncak yang sama di mana Setan telah mengambil Yesus selama Temptation.

 

 

JAME The GREAT

Anak Zebedeus, adalah seorang nelayan dari perdagangan ketika Yesus memanggil dia untuk jadi pelayan-Nya seumur hidup. Dia adalah seorang pemimpin gereja yang kuat.  James akhirnya dipenggal di Yerusalem.

Pada masa akhir menjelang akhir hidupnya, keteguhan nya dalam membela imannya di pengadilan telah membuat takjub seorang Perwira Romawi yang bertugas mendampingi James sampai ke tempat eksekusi. Dan pada saat itu juga sang Perwira Romawi dengan diatasi keyakinannya menyatakan iman barunya kepada hakim serta berlutut di samping James untuk menerima pemenggalan sebagai seorang Kristen.

 

 

BARTHOLOMEUW

Juga dikenal sebagai Nathaniel yang menjalankan misi misionaris ke Asia.  Bartholomew martir karena berkhotbah di Armenia di mana ia dikuliti sampai mati dengan sebuah cambuk

 

 

 

ANDREW

Disalibkan pada salib berbentuk X di Patras, Yunani.  Setelah dicambuk oleh tujuh tentara hingga terluka, kemudian mereka mereka mengikat tubuhnya dengan tali di kayu salib untuk memperpanjang penderitaannya. Para pengikutnya melaporkan bahwa, ketika ia menuju ke arah salib, Andrew memberi kepada para pengikutnya sambil berkata: “Aku telah lama mengharapkan datangnya hari bahagia ini, salib telah dikuduskan oleh tubuh Kristus yang tergantung di atasnya “.  Ia terus berkhotbah kepada para penyiksanya selama dua hari sampai ia hidupnya berakhir.

 

 

THOMAS

Dia ditusuk dengan tombak di India dalam salah satu perjalanan misinya untuk mendirikan gereja di sub-benua  ini.

 

 

 

 

 

 

JUDE

Dia dibunuh dengan panah ketika ia menolak untuk menyangkal imannya kepada Kristus.

 

 

 

 

 

 

MATTHIAS

Rasul yang dipilih untuk menggantikan Judas Iscariot pengkhianat. Dia dirajam dan kemudian dipenggal.

 

 

 

 

 

PAULUS

Disiksa dan kemudian dipenggal oleh Kaisar Nero yang jahat di Roma pada tahun 67. Paulus mengalami pemenjaraan yang panjang, yang memungkinkan dia untuk menulis banyak surat-surat kepada jemaat-jemaat yang telah dibentuk di seluruh Kekaisaran Romawi. Surat-surat ini, yang mengajarkan banyak doktrin dasar dari Kekristenan, membentuk sebagian besar dari Perjanjian Baru.

 

 

 

Mungkin ini adalah peringatan kepada kita bahwa penderitaan kita di sini memang kecil dibandingkan dengan intens penganiayaan dan kekejaman dingin yang dihadapi oleh para rasul murid pada waktu mereka berjuang demi Imandan dibenci semua orang untuk nama Yesus Kristus.

Upah Mereka (ke- 12 Murid dan Rasul) adalah Surga Kekal. Karena Yesus Kristus berfirman : Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, Ia akan menyelamatkannya. (Markus 8:35).

Sumber Insprirasi : artikel seorang kaskuser


13
Nov
09

Aku merasa ditinggalkan….

cinta-yang-retakOleh : Efrael Sitohang (moderator TW6C)

Dulu waktu TW6C sedang kompak-kompaknya, seorang anggota jemaat HKBP Pejuang dari wijk yang lain pernah bertanya kepada saya, “boha do dibahen par-wijk 6 on asa boi kompak jala rame hamu markoor?” (bagaimana caranya wijk 6 supaya bisa ramai dan bisa kompak dalam paduan suara?). Waktu itu saya jawab dengan sumingrah (berbinar) campur percaya diri : “karena anggota2 koor wijk 6 adalah orang2 yang sederhana”. Sederhana dalam berpikir, bertingkah laku dan berteman. Bisa diartikan juga sederhana dalam hal ini, tidak bersandiwara, tidak berjiwa “politik” dan tidak bercabang pikirannya.

Banggalah memang saat itu. Apalagi sebagai pengurus (yang memang pada saat koor wijk 6 dibentuk, ketua dipilih secara sepihak oleh Sintua Wijk 6, bukan atas saran anggota2 koor wijk 6) ikut jadinya dianggap orang lain mampu memimpin koor wijk 6. Kawan2 pun semua sepertinya mendukung. Saran2 diterima saat aku menyampaikan pesan2 baik ketika latihan koor maupun melalui sms2 yang dikirim ke hp anggota. Bercanda juga enak, ketawa-ketawanya lepas terasa, tidak ada kata2 yang bercabang dan mengandung makna lain dari yang diungkapkan. Enak memang saat kita merasa dibutuhkan oleh kawan2.

Namun belakangan ini, rasa itu mulai hilang. Berganti dengan sikap sepele dari kawan2 yang dulu begitu mendukung dan dekat dengan aku. Mungkin hal itu diawali dengan aku sebagai pengurus yang dianggap “holan hata” (ngomong doang). Sering memberi soso-soso (pesan2) tapi justru aku sendiri yang tidak melaksanakan. “Kalau latihan supaya tepat waktu datangnya” demikian yang sering aku pesankan pada kawan2, namun aku sendiri yang datang terlambat bersama istri dan ibuku. Mengharapkan kawan2 yang mulai jarang latihan supaya datang lagi, tapi justru keluarga sendiri tak bisa kuarahkan supaya rajin latihan.   Aku juga dianggap kurang “care” (perhatian) kepada anggota yang sedang mengalami kemalangan.  Kesalahan2 itu rasanya semua terarah kepadaku, rasanya kawan2ku menggugat kepengurusanku terhadap koor wijk 6 yang kucintai. Seolah-olah aku sudah kurang perhatian kepada kumpulan ini. Memang, ada kalanya aku juga lelah dan kurang semangat. Tapi saat jadwal latihan sdh mendekat aku selalu berusaha kembali supaya semngat itu tumbuh. Aku pun belakangan ini semakin sensitif. Apalagi saat menyampaikan pengumuman2 setelah acara latihan koor ada kawan2 yang mengomentari perkataanku, rasanya aku tersudutkan, dibantah dan tidak didengarkan. (Maaf buat kawan2 ku atas semua itu.)

Semoga rasa cinta ini terhadap koor wijk 6 tidak menjadi hancur karena semua itu. Namun tidak bisa kupungkiri sampai saat ini perasaan ditinggalkan oleh kawan2 ku yang dulu kuanggap sebagai kawan sejatiku masih bergejolak dalam sanubariku. Mungkin sudah ada kejenuhan dari kawan2 dengan kepengurusan yang ada saat ini. Solusi terbaik barang kali harus segera diadakan pergantian kepengurusan supaya koor wijk 6 ini tetap eksis dan tidak punah sedikit demi sedikit, supaya kebersamaan, keceriaaan dan terutama KESEDERHANAAN yang dulu ada dalam punguan koor wijk 6 hidup kembali. Semoga!!!!!

06
Nov
09

Sang Maestro “GORGA” Idola TW6C

GORGA_n_ModeratorSudah lama moderator Diary TW6C ingin mengetahui dan membuat artikel mengenai Bonar Gultom (GORGA) sang maestro pujaan TW6C. Terus terang dan tidak perlu ditutup-tutupi, lagu-lagu Karya GORGA sangat dikagumi oleh TW6C. Sebagian besar  (mungkin sekitar 80%) lagu yang pernah dibawakan oleh TW6C  dalam pelayanannya adalah Lagu2 koor karya/gubahan sang maestro GORGA. Bahkan diawal – awal dibentuknya TW6C, ketua TW6C Amang E. Sitohang pernah melemparkan ide kepada guru koor TW6C Amang E. Silitonga untuk membuat TW6C sebagai kelompok paduan suara dengan ciri khas lagu2 berirama tradisonal batak yang notabene sebagian besar lagu2 koor dengan irama tradisional batak itu adalah karya cipta GORGA. Dan memang ide itu walaupun tidak diproklamirkan secara resmi kepada seluruh anggota, sepertinya sedikit banyak sudah diterapkan oleh TW6C dalam pelayanan2 nya.

Secara tidak sengaja pada saat searching di mesin pencari “google” tentang Yamuger (Yayasan Musik Gereja),  Moderator TW6C menemukan tulisan tentang biodata Bonar Gultom “GORGA” di Blogs dengan judul “ENSIKLOPEDIA TOKOH BATAK”. Dan tulisan mengenai biodata dan pengalaman2 hidup GORGA dalam artikel ini 100% disadur dari artikel dalam Blogs tersebut.

bonar-gultomGORGA yang nama aslinya Drs. Bonar Gultom lahir di Siborongborong pada tanggal 30 Juni 1934. Beliau mengenyam pendidikan Dasar di Sekolah Rakyat (SR) Dolok Sanggul – Humbang Hasundutan (Wuiiihhh… ternyata dekat bangat dengan kampung halamannya moderator TW6C di Parlilitan), kemudian dilanjutkan dengan Pendidikan Menegah Atas (MULO) di Siborongborong-Tapanuli Utara. Ternyata beliau (GORGA) adalah seorang yang berprestasi di bidang pendidikan, terbukti selama kuliah hingga berhasil meraih gelar Sarjana dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta pada tahun 1963 beliau dibiayai dengan beasiswa penuh oleh sebuah Perusahaan Belanda NV. Vereenigde Deli Maatschappijen

Ternyata prestasi beliau (GORGA) tidak hanya di bidang pendidikan saja, prestasi itu nyata juga saat terjun dalam bidang pekerjaan. Hal ini terlihat dengan Jabatan terakhir beliau sebelum pensiun tahun 1989 sebagai Direktur Komersial dan Umum pada PT Perkebunan Negara XIII, Bandung, Jawa Barat (Hmmm…. sama lagi nih dengan Moderator…. sama2 Abdi Negara/Pegawai Pemerintah).

Leila Ester Sitompul adalah wanita yang sangat berbahagia karena GORGA memilihnya sebagai Istri yang menjadi pasangan Hidupnya. Keluarga GORGA dikaruniai dengan 6 orang anak (3 orang putera dan 3 orang puteri) yang semuanya telah berumah tangga saat ini. Dari buah pernikahan putera-puterinya, GORGA saat ini telah mempunyai 10 orang cucu.

Seorang Anak Manusia pilihan yang dikaruniakan Tuhan dengan Talenta besar mencipta lagu, ya… sungguh2 merupakan Talenta besar dari Tuhan, ternyata kemampuan mencipta lagu dan bermusik GORGA diperoleh secara Otodidak. Memang sejak kecil (umur 8 tahun) Beliu senang menyanyi. Walau bakat Beliau diperoleh secara otodidak, namun prestasi yang pernah diperoleh dalam mengikuti perlobaan2 menyanyi sudah cukup banyak, antara lain Juara I menyanyi seriosa Pekan Kesenian Mahasiswa Seluruh Indonesia pada 1958 di Yogyakarta dan tahun 1960 di Denpasar- Bali; Juara-I menyanyi seriosa bintang Radio Republik Indonesia di Medan dan kemudian di Jakarta (Nasional) 1968.
Pengalaman beliau dalam bidang Paduan Suara (Koor) jangan ditanya lagi, aktif sebagai anggota Paduan Suara Gereja sejak SMA dan diteruskan selama Mahasiswa. Beliau adalah pemimpin dan pelatih Paduan Suara Gerejawi dan Nasional sejak Mahasiswa 1958 hingga sekarang. Brikut adalah Paduan Suara – Paduan Suara yang bernah dilatih dan dibina oleh GORGA :

  • Paduan Suara NHKBP Menteng Jalan Jambu, Jakarta.
  • Paduan Suara SERDAM ROHANI, Jakarta, mendampingi bapak E.L Pohan
  • Paduan Suara Ibukota, Jakarta mendampingi Binsar Sitompul
  • Paduan Suara Pria Immanuel GKPI Medan
  • Paduan Suara Gabungan GKPI Medan
  • Paduan Suara Exaudi GKPI Ciliwung-Bandung
  • PS Anugerah HKBP Jakarta
  • PS Gerja Bethel Indonesia, Tanjung Priok- Jakarta
  • PS Sola Gratia GKPI Menteng- Jakarta

Khusus sebagai pelatih  PS Anugerah HKAP Jakarta, Gorga—pernah mengantarkan 2 kali Paduan Suara ini tampil dalam konser internasional di Amerika Serikat tour – I ke Los Angeles Conductor. Beliau juga pernah memimpin gabungan Paduan Suara yang terdiri dari kontingen yang berasal dari 33 Provinsi di Indonesia, menyanyikan Mazmur 150 ciptaanya yang menjadi lagu wajib pada Pesperawi Nasional ke VI di Istora Senayan, Jakarta, dihadapan Presiden RI.

GORGA sudah menciptakan sekitar 150 lagu rohani dan non rohani—sekaligus mengarasemen untuk segala jenis musik dalam Paduan Suara. Dari sekian banyak lagu2 ciptaannya itu, berikut adalah lagu2 yang pernah dijadikan sebagai Lagu Wajib dalam ajang  Festival Pesparawi Nasional :

  • “Doa Bagi Negara” menjadi lagu wajib PS-SATB Golongan A pada Pesparawi ke III di Medan 2006
  • “Langit Menceritakan” menjadi lgu pilihan wajib PS-SATB golongan B pada Pesparawi ke VIII di Medan tahun 2006
  • “Yesusku juru Selamatku” menjadi lagu pilihan trio SSA pada Pesparawi ke VIII di Medan tahun 2006
  • “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung” menjadi lagu wajib solis remaja pada Pesparawi ke Vii di Makassar tahun 2003
  • “Kepada siapa Aku Harus Takut” menjadi lagu pilihan pertama PS-SATB pada pesparawi ke VII di Makassar tahun 2003
  • “Pujian Allah di tempat kudusNya” menjadi Lagu Wajib pada Pesparawi ke VII di Jakarta tahun 2000
  • “Persaudaraan Yang Rukun” menjadi lagu pilihan pada Pesparawi ke V di Surabaya tahun 1996

Selain mencipta lagu paduan suara, GORGA juga sudah banyak membuat terjemahan sekaligus mengaransemen lagu-lagu asing ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Batak dan juga mengaransemen lagu-lagu cipataan komposer lagu2 rohani tanah air . Berikut adalah judul lagu2 tersebut :

  • O Holy night (Malam Suci / Borgin Na Badia) karya Adolphe Adams
  • No Body Knows (Holan Tuhan Yesus) Negro Spritual Deep River (didia) Negro Spritual
  • My Heavenly Father Watches Over me (Tuhan ku menjaga aku) karya Charles Gabriel
  • God And Alone (hanya Allah Hu ) karya Phil Mc Hugh
  • Majesty (Pujianlah Yesus) karya Jack Hayfort
  • He is Exalted (Tuhanlah Raja Semesta) karya Twila Paris
  • You Raise Me Up karya Rolf Lovland (dipopulerkan oleh Josh Groban dan davi Foster)
  • Bagai Tetesan Embun karya Putri dan Maruli Simorangkir ,SH
  • Terima Kasih Tuhan karya Putri dan Maruli Simorangkir, SH
  • Bunga Pansur karya Cadman dan roger Wagner
  • Dolok Betany karya NN (Transkripsi dari kaset berbahasa Jerman)
  • Yesus Gembala Yang Baik karya H. R Palmer
  • Were You There (Uju I di atas ni sada dolok) Negro Spritual
  • Natarsilang do Kristus karya W.A Mozart
  • Narer My God to Thee karya sarah Adams dan Lowell Mason
  • Holan Tuhan Jesus, Negro Spritual
  • Nyanyian Kidung Natal karya W.A Mozart
  • Nearer my God to Thee karya Sarah Adams dan
  • God be With You Sai Tuhanta mandongani Ho karya William G. Tomer
  • Laiseir d’Amour Tuiahn Berkatilah karya Giovani Martini
  • Sejauh Timur dari Barat karya Jonathan Prawira
  • Maha Mulia (Namarmulia) karya G.F Handel
  • Ada saatnya kita jumpa karya Taralamsyah Saragih
  • Ya Allah Bapa karya st A. K Saragih
  • Tumbuhan Poyon-Poyon karya St A.K Saragih
  • The Prayer karya Carol Sager dan David Foster
  • Ave Maria karya Franz Schubert

Sebaliknya, untuk lebih memperkenalkan lagu etnik Indonseia ke dunia internasional, Beliau juga mengarensemen lagu-lagu etnik Indonesiake dalam Bahasa Inggris, diantaranya Yamko Rambe Yamko (Papua) menjadi stand Tall, God Loves Us ALL, Jali-jali (Betawi) menjadi Up And Down dan Bukit Kemenangan Karya Djuahari menjadi My God is Near Me.

Adalah tidak berlebihan rasanya dan memang sudah sepantasnyalah kalau dalam Diary TW6C ini, moderator menyebut GORGA sebagai Sang Maestro, karena karya2 ciptanya yang sungguh fantastis.  Khususnya buat orang Batak, bersyukurlah orang Batak memiliki seorang Maestro berdarah Batak yang dengan Talentanya itu telah mampu mengangkat irama dan musik batak sehingga dikenal dalam skala Nasional maupun Internasional. Benar2 seorang yang Multi Talenta. Bukan hanya berkarya lewat lagu dan musik, seni drama suku batak yang lebih dikenal dengan sebutan Opera Batak juga tak luput dari perhatian beliau. GORGA juga telah menciptakan cerita2 untuk dibawakan dalam Opera Batak, diantaranya adalah cerita2 opera sebagai berikut :

  • Argado Bona Ni Pinasa (Opera Batak), 1969
  • Parsorion ni Parmitu (opera Batak), 1970
  • Kembali ke Betlehem (Opera Natal) 1972
  • Putih dan Hitam (opera Natal) 1972
  • Nostalgia Masa Hasiswa (Opera Komedi) 1979
  • Tumba Singamangara XII (Opera Sejarah) 1980
  • Kasih Paling Agung (Opera Paskah) 1982
  • Lilin-lilin Perdamaian (Opera Natal) 1983
  • Si Boru Tudosan (Opera Budaya Batak) 1989

Karya – Karya cipta GORGA berupa lagu2 paduan suara maupun scrip Opera saat ini sudah diterbitkan dalam bentuk buku oleh Yayasan Musik Gereja (Yamuger). Sudah banyak dan sudah berulang ulang dicetak karena banyaknya permintaan dari gereja-gereja maupun kelompok2 Paduan Suara. Berikut antara lain buku2 yang telah diterbitkan oleh Yamuger :

  • Kumpulan Lagu-lagu Rohani Untuk Paduan Suara jilid I 2002
  • Kumpulan Lagu-lagu rohani untuk Paduan suara jilid II, 2005
  • Opera Natal Putih dan Hitam 2005
  • Kumpulan lagu-lagu rohani untuk Paduan Suara Wanita untuk PS Wanita jilid 2006

Pengankuan akan indah dan berbobotnya karya cipta,  paduan suara dan Opera Batak binaan GORGA dapat dilihat dengan diundangnya beliau memimpin paduan suara untuk berkonser  dalam menyambut tamu2 negara dan pemerintah. Berikut adalah konser2 yang dipandu oleh GORGA dalam menyambut tamu2 pemerintah Sumatera Utara di Medan lewat Opening dan Closing Ceremony Medan Fair (Pekan Raya Medan) :

  • Konser dalam menyambut Pageran Bernard dari Kerajaan Belanda (1972)
  • Konser dalam menyambut Raja Boumdewijn dan Ratu Fabiola dari kerjaan Belgia (1974)
  • Konser dalam menyambut Menyambut perdana menteri Lee Kwan Yew dari Singapura (1975)
  • Konser dalam menyambut Toen Abdul Razak dari Malaysia (1976) dengan pementasan “Arga do Bona Ni Pinasa” di alam terbuka ditepi pantai Danau Toba, Parapat.

Prestasi selau diikuti dengan Penghargaan, demikian pula dengan GORGA. Prestasi dalam karya musik banyak mengundang appreasi berupa penghargaan dari pihak2 yang merasa kagum dengan karya2 Beliau. Berikut adalah beberapa penghargaan yang pernah diterima oleh     GORGA :

  • Pada tahun 1975 menerima penghargaan dari pangeran Bernard dalam undangan khus ke Istana Kerjaan Belanda Soesdijk
  • Menerima penghargaan dari KNPI Sumatera Utara sebagai penghargaan atas peranyan dalam pengemabangan generasi muda Sumatera Utara 1980
  • Pada 1982 menerima penghargaan dari Pangkowilhan Sumatera Utara sebagai putra teladan.
  • Pada 1998 menrima penghargaan sari Gubernur Suamtera Utara atas lagu ciptaanya “Marsipature Hutanabe”
  • Pada tahun 2003 menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas prestasinya yang dicapainya saat menyutradarai pementasan Opera Arga Do Bona Ni Pinasa pada Pesta Rakyat Danau Toba di Kota Parapat sebagai opera yang melibatkan pemain terbanyak 232 orang dan merupakan pendudukan setempat.

Terakhir, bagi yang ingin berkunjung atau berkirim surat dengan GORGA, boleh dialamatkan ke Alamat rumah Beliau Jalan Ayahanda No 57, RT 02/04 Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta 13430 atau melalui e-mail beliau BonarGultom @ Yahoo.com. (ETS)

03
Nov
09

Semangat itu mulai tumbuh lagi

Love-tree_betumbuhSenin 2 Nopember 2009, Latihan Koor di Rumah Kel. St. M.T. Napitupulu/ Br. Situmeang

Hati yang gembira adalah obat… demikian Kata Raja Salomo dalam Amsal…. Bagaimana supaya  hati gembira?? Jawaban sederhana mungkin yang dapat kita lakukan adalah buang jauh2 segala pikiran2 buruk terhadap orang lain terlebih terhadap teman baik atau teman seiman kita, ganti dengan memikirkan kebaikan, kelembutan dan segala yang indah yang telah anda alami dengan teman tersebut. Dengan hati yang bergembira tentu pula semangat kita semakin bertumbuh.

Dalam latihan koor rutin TW6C Senin malam tanggal 2 Nopember 2009 di rumah Kel. St. M.T. Napitupulu/Br. Situmeang, kegembiraan begitu terlihat terpancar dari wajah2 anggota TW6C… semangat  berlatih yang meredup dalam minggu2 latihan sebelumnya mulai tumbuh kembali. Puji Tuhan…. doa2 kita yang masih rindu melayani dijawab  oleh Tuhan. Memang masih banyak yang belum hadir, tapi gak apa2, alasan ketidakhadiran mereka adalah karena  kesehatan yang terganggu, sedang mempersiapkan acara pesta keluarga dan juga karena pekerjaan kantor yang tidak bisa ditunda penyelesainnya.

Sejak minggu ini, jadwal latihan rutin TW6C yang semula dilaksanakan setiap hari Rabu malam diubah menjadi Senin malam. Perubahan ini adalah untuk menyesuaikan dengan semangat TW6C yang ingin tetap eksis melayani dalam partangiangan Wijk hari Selasa malam minggu kedua setiap bulannya, melalui nyayian koor yang dibawakan dalam partangiangan. Karena berdasarkan pengalaman selama ini, Nyanyian koor yang dibawakan oleh TW6C dalam partangiangan kurang maksimal dan bahkan kadangkala tidak jadi bernyanyi karena tidak adanya persiapan dalam latihan Rabu malam. Ketidaksiapan ini biasanya terjadi karena dalam latihan rutin pada hari Rabu malam, pengurus TW6C dan seluruh anggota lupa bahwa minggu berikutnya akan diadakan partangiangan Wijk.

Buat semua anggota TW6C, mari kita jaga agar semangat yang mulai bertumbuh ini semakin bertumbuh dan berakar dalam hati kita semua. Supaya pelayanan kita tetap eksis. Karena semua yang baik yang kita lakukan di jalan Tuhan tidak akan sia-sia.  Latihanpun sudah kembali kita laksanakan di rumah2 anggota, kiranya jangan ada lagi alasan karena latihannya di Gereja yang jauh dari rumah. Senin depan tanggal 9 Nopember 2009 latihan akan dilaksanakan di Rumah Kel. H.P.T. purba / Br. Simamora (Sekretaris TW6C), dan juga perayaan Natal akan segera tiba, mari kita siapkan lagu2 pujian Natal kita.

Hari ini Selasa 3 Nopember 2009 TW6C akan tampil membawakan lagu pujian “Sai Naeng hugolom Tangan Mi” dalam pelayanan di Partangian Wijk 6 di rumah Kel. H. Munthe/ Br. Sibarani. Lagu dengan konsep Vocal Group yang direquest oleh Amang E. Sitohang karena waktu TW6C membawakan lagu ini dalam pelayanannya di Ibadah Minggu tanggal 1 Nopember 2009, beliu tidak ikut menyanyikannya berhubung pada hari itu Koor Ama HKBP Pejuang sedang melaksanakan kunjungan rohani ke Gereja HKBP Bakom Cileungsi.

23
Okt
09

Laris Manis… anggota TW6C

Masih_rame“Laris Manis Tanjung kimpul…. Dagangan Laris Duitnya Ngumpul”… biasanya pepatah ini diucapkan oleh para par-jualan/par-warung (pedagang) sebagai ungkapan sukacita nya karena barang dagangnya laris atau habis terjual. Pepatah ini rasanya cocok untuk menggambarkan keadaan dalam tubuh TW6C saat ini (bukannya mau menyamakan /meng-konotasikan anggota TW6C sebagai barang dagangan ya…).

Ada 9 orang anggota TW6C yang turut memperkuat 2 Tim paduan suara HKBP Pejuang berpartisipasi dalam Festival Paduan suara. Enam (6) orang dalam Tim Paduan Suara Gabungan (SATB) HKBP Pejuang mengikuti Festival Paduan Suara dalam rangka Ulang Tahun HKBP Pasar Rebo dan tiga (3) orang dalam Tim Paduan Sura Ama HKBP Pejuang mengikuti Festival Pesparawi Yamuger II.

Bangga tentunya… apalagi untuk masuk dalam Tim Paduan Suara Gabungan (SATB) itu, peserta yang berminat harus diaudisi dulu oleh panitia bentukan Dewan Marturia HKBP Pejuang. Berarti latihan dan pelayanan yang telah dilakukan oleh TW6C selama ini cukup berhasil membuat anggota2 TW6C lebih enjoy dan mampu bernyanyi dengan baik. “Laris Manis Tanjung Barat Gempol… Anggota TW6C laris berkat2-Nya pun Melimpah terus”.

Hampir_melleeepYa… semoga berkat Tuhan selalu melimpah atas kita semua… Perlu kita ingat dan fahami bahwa berkat Tuhan bukan melulu harta kekayaan dan sukacita…. daya tahan iman kita dalam menghadapi cobaan2 hidup itupun adalah berkat Tuhan juga.. Dan semoga juga dengan berkat2 yang melimpah bagi kita membuat kita  lebih giat lagi dalam pelayanan kita, terutama pelayanan kita melalui TW6C, ya… melalui TW6C… jangan kita lupakan TW6C…. biar bagaimanapun inilah wadah yang pernah mempersatukan kita… miris juga rasanya melihat keadaan TW6C saat ini… kegiatan latihannya sudah tidak semeriah yang dulu lagi…. apakah anggota mulai jenuh??? Apakah karena selama bulan ramadhan kemarin latihannya di gereja terus sehingga membuat malas latihan? Apakah karena kesibukan di kantor?? Atau apakah – apakah yang lainnya. Masing2 kita jawablah dalam hati, manakah pertanyaan yang paling cocok.

Ide2 untuk kembali membangkitkan semangat sangat dinantikan dari seluruh anggota. Mari kita berkomitmen agar TW6C ini tetap eksis melayani dan tetap menjadi wadah perkumpulan yang kita rindukan dan membawa sukacita buat kita semua. God Bless Us!!! (ETS).

12
Okt
09

Bersyukurlah Selalu

Shared tulisan seorang teman yang mungkin bisa menjadi bahan perenungan bagi kita…..


Jika anda merasa anda selalu hidup dalam tekanan, coba lihatlah mereka..

Pic1



Jika anda merasa pekerjaan anda sangatlah berat, bagaimana dengan dia??

Pic2



Bila anda merasa gaji anda sangat sedikit, bagaimana dengan anak yg malang ini??

Pic3



Jika anda merasa belajar adalah sebuah beban, contohlah semangat dia..

Pic4



Jika anda sempat merasa putus asa, ingatlah orang ini??

Pic5



Jika anda merasa hidup anda sangat menderita, apakah anda juga merasakan penderitaan seperti orang ini??

Pic6



Jika anda merasa hidup anda tidak adil, bagaimana dengan dia??

Pic7



Di saat kita kecil dimanja dan di sayang, manjakah mereka?

Pic8



Pantaskah kita mengeluh tentang makanan disaat ia sedang membayangkan makan happy meal??

Pic9



Tdk merasa bersalahkah kita masih selalu tidak mendengarkan bahkan melawan ibu kita?

Pic10

Tanyalah ke dalam diri kita sendiri, dibandingkan dengan mereka, seberapa beruntungkah sebenarnya kita?

Masih pantaskah kita selalu mengeluh akan masalah-masalah “kecil” yang menimpa hidup kita?

Di saat kita dihadapi oleh berbagai rintangan dalam hidup, ingat, kita tidak pernah kehilangan opsi untuk tetap bersyukur..
Bukankah bersyukur merupakan cara paling mudah untuk mencicipi kebahagiaan??
Selalu BERSYUKUR dimanapun anda berada, kapanpun, dan pada kondisi apa pun..
08
Sep
09

K O M I T M E N

komitmen-nalumsari-jeparaSumber : dari email seorang teman TW6C

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami menerima istrinya dengan segala kekurangan dan kelemahannya tanpa menghakimi. Bersyukur ketika istrinya tampil menawan, dan sama bersyukurnya ketika sang istri mengenakan daster dengan wajah berminyak tanpa make-up. Bersyukur ketika bentuk tubuh sang istri berubah setelah melahirkan, dan tetap mengecupnya sayang sambil bilang, “Kamu cantik.”

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami tidak membongkar kelemahan istrinya pada orang lain. Sebaliknya, menutupi rapat-rapat setiap kekurangan itu dan dengan bangga bertutur bahwa sang istri adalah anugerah terindah yang pernah hadir dalam hidupnya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri menunggui suaminya pulang hingga larut malam, membuatkan teh hangat dan makanan Panas, dan tetap terbangun untuk menemani sang suami bersantap serta mendengarkancerita-ceritanya yang membosankan di kantor.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri bertahan ketika suaminya jatuh sakit, dan dengan sukacita merawatnya setiap hari. Menghiburnya, menemaninya, menyuapinya, memandikannya, membersihkan kotorannya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri terus mendampingi suaminya tanpa mengeluh atau mengomel. Sebaliknya, dengan setia tetap mendukung dan menyemangati meski sang suami pulang ke rumah dengan tangan kosong, tanpa sepeser uang pun.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat sepasang suami istri memutuskan untuk terus mengikatkan diri dalam pernikahan, dengan tulus dan sukacita, meskipun salah satu dari mereka tidak bisa memberikan anak.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat putra pelaku kriminal berkata kepada Ayahnya, “Saya percaya pada Papa.. Papa tetap yang terbaik.”

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang yang bergelar S3 dengan jabatan direktur perusahaan multinasional pulang ke rumah orangtuanya, mencium mereka dengan hormat, serta memanggil mereka ‘Ayah’ dan ‘Ibu’.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ayah menerima kembali anaknya yang telah m eny akiti dan meninggalkannya begitu rupa dengan tangan terbuka, memeluknya dan melupakan semua kesalahan yang pernah dilakukan si anak terhadapnya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ibu mengelus sayang anak yang pernah mencacinya, dan tetap mencintainya tanpa syarat.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang mengulurkan tangan kepada sahabatnya yang terjerembab, menariknya berdiri dan membantunya berjalan tanpa mengatakan, “Tuh, apa kubilang! Makanya.”

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang pekerja menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik, sekalipun tugas itu amat berat dan upah yang diperoleh tidak sepadan.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang membulatkan hati dan tekad demi mencapai sebuah tujuan, sekalipun ia belum dapat mengetahui hasil akhir dari tujuan tersebut. Berjerih payah dan berkorban demi menyelesaikan tujuannya, sekalipun semua orang meninggalkannya.

Komitmen adalah sesuatu yg membuat seseorang rela meninggalkan segala sesuatu yg berharga demi memenuhi panggilan hidupnya, walau harga yg hrs dibayar tidak sedikit dan medan yg ditempuh tidak ringan.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang memikul resiko dan konsekuensi dari keputusannya tanpa mengeluh, dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan yang terus berproses.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang berani setia dan percaya, meski harapannya tidak kunjung terpenuhi dan tidak ada yang dapat dijadikan jaminan olehnya.

Komitmen adalah sesuatu yang melampaui segala bentuk perbedaan, perselisihan dan pertengkaran. Ia tidak dapat dihancurkan oleh kekurangan, kelemahan maupun keterbatasan lahiriah. karena ketika kita berani mengikatkan diri dalam sebuah komitmen, kita telah ‘mati’ terhadap kepentingan diri sendiri…

Izinkan saya menyimpulkan tulisan ini dengan kalimat seorang perempuan bijak yang saya temukan beberapa waktu lalu: “In the final analysis, commitment means: ‘Here I am. You can count on me. I won’t fail you.’”

25
Agu
09

Songgot – Songgot

songgot2Sabtu, 22 Agustus 2009 (Latihan Pemantapan di rumah Kel. L. Sagala / Br. Gultom)

Songgot-songgot yang dalam bahasa Indonesianya bisa diartikan sebagai kejutan2 atau spontanitas ternyata diperlukan untuk menghidupkan semangat yang mulai luntur. Dan songgot2 ini tanpa rencana (sepertinya ini rencana Tuhan) terlaksana dalam latihan pementapan di rumah Kel. L. Sagala / br. Gultom (personil Tenor dan Sopran TW6C) Cluster Aralia Blok HY 25 No. 5 Harapan Indah II hari Sabtu tanggal 22 Agustus 2009.

Berawal dari kegalauan hati pengurus dan anggota TW6C pada latihan hari Rabu tanggal 19 Agustus 2009 di gereja HKBP pejuang yang menunggu sampai pukul 21.30 WIB baru dapat tempat latihan (selama bulan Ramadhan dijadwal latihan di Gereja HKBP Pejuang oleh pengurus), padahal hari Minggu tanggal 23 Agustus 2009 dalam acara kebaktian ke-2 pukul 10.00 WIB, TW6C akan tampil dalam pelayanan sesuai dengan jadwal yang telah diatur oleh Parhalado HKBP Pejuang. Malam itu ada 3 kelompok paduan suara yang latihan, paduan suara Wijk-3 (yang memang sudah rutin melaksanakan latihan gereja), paduan suara N-HKBP Pejuang (yang berlatih untuk persiapan mereka melayani dalam acara partumpolon salah satu anggota mereka) dan TW6C. Kehadiran paduan suara N-HKBP yang tidak diduga akan latihan malam itu (yang biasanya latihan koor tiap  Sabtu malam) mengagetkan TW6C. Ditambah pula kedatangan anggota TW6C yang kebiasaan ngaret alias terlambat menyebabkan TW6C tidak dapat tempat latihan (ruang yang bisa dipakai latihan hanya 2 yaitu ruang gereja dan konsistori). “Gak benar lagi ini” kata ketua TW6C dalam hatinya, ditambah lagi pertanyaan anggota TW6C pada pengurus “dimanalah kita latihan pemantapan hari Sabtu?”. “Ku telepon dulu Lae Sagala, siapa tau bersedia menerima kita latihan pemantapan di rumahnya” kata ketua memberi solusi. Kel. Sagala kebetulan belum datang malam itu. Puji Tuhan, ternyata mereka setuju, dan memberitahukan mereka akan segera datang ke gereja latihan.

Akhirnya TW6C bisa latihan malam itu. Paduan suara Wijk-3 selesai latihan pukul 21.30 dan tempat mereka langsung dimasuki oleh TW6C. Waktu 30 menit dimanfaatkan guru koor (Lae E. Silitonga) dengan baik memoles lagu akan dibawakan pada hari minggu. Usai latihan dilanjutkan dengan pengumuman2 dari pengurus. Sebelum acara ditutup, datang songgot2 (kejutan) dari Kel. L. Sagala/ Br. Gultom. “Pa… gimana?” kata Inang Ny. Sagala br. Gultom. ”Ya udah… kamulah yang bilang!” kata Lae L. Sagala menimpali pertanyaan istrinya. ”Ada apa rupanya Ito” pukas ketua TW6C. Kemudian Inang Ny. Sagala br. Gultom menyampaikan niatnya ingin menjamu TW6C makan malam dalam latihan pemantapan di rumahnya. ”Tapi kalau boleh pukul 18.30 WIB lah kita mulai ya, supaya, sempat kita makan malam dulu” kata Inang itu. Undangan ini disambut semua anggota TW6C dengan senyum berbinar…. ”Wah… terima kasih bangat2 lah buat Lae dan Ito” kata ketua TW6C menjawab undangan itu.

Benar2 songgot yang bermakna. Walau belum semua anggota TW6C hadir, namun acara pemantapan hari Sabtu malam tanggal 22 Agustus 2009 berlangsung meriah. Makan malamnya nikmat, enak semua menunya… ada Ayam kecap, Udang sambal merah dan Gurame goreng sambal kecap plus Sayur lalapan. ”Masakan Nyonya semua itu Lae”... kata Amang L. Sagala kepada teman2nya bapak2 TW6C saat menyantap makanan malam itu. Usai acara makan dilanjut dengan latihan pemantapan. Lagu ”Marparange Na Denggan Ma” kembali dilatih dan dipoles dengan serius oleh guru koor  TW6C. Pukul 21.30 WIB lagu yang dipersiapkan sudah mantap dilatih, musik piano yang dibawakan ”Si CantiK” Esra pun sudah klop dengan lagu dan dirasa oleh guru koor sudah siap untuk dibawakan dalam pelayanan besoknya di gereja.

Ternyata acara tidak cukup sampai disitu. “Nyanyi2 aja kita, kan ada keyboard”…kata Amang L. Sagala. Disambut antusias anggota TW6C terutama ibu2nya. Mereka asyik berjoged diringi alunan keyboard yang dibawakan oleh Amang R. Sinambela. Rasanya semua joged dibawakan oleh ibu2, tak ada yang terlewatkan mulai joged poco2, dangdut, chaca, sajojo,dan waltz semua bisa. Gak ada sungkan dan ragu. Para Bapak2-nya sekali-sekali nimbrung menyanyi lagu kesukaannnya. Sampai pukul 23.00 WIB baru pada puas jogednya.

Sebelum acara ditutup, amang L. Sagala berujar “Kayaknya sudah pada rindu semua ya, acara nyanyi2 dan joged… segera lah Lae acara perlombaan nyanyi nya diadakan”. Memang pada bulan2 sebelumnya TW6C sudah berencana mengadakan acara makan2 bersama dan lomba nyanyi antar anggota TW6C untuk menggugah kembali semangat semua anggota yang mulai kendor (songgot2 yang direncanakan). Akhirnya disepakati oleh semua anggota, acara tersebut akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 19 September 2009 di rumah Kel. L. Sagala / Br. Gultom lagi.

Terakhir…. trims buat Amang L. Sagala dan Keluarga untuk songgot2- nya yang bermakna. Semoga kita semua khusunya Amang Sagala dan keluarga tetap dipakai oleh Tuhan menjadi saluran berkat-Nya menggugah semangat orang2 yang mulai kendor. Amin (ETS)

09
Jun
09

Jadilah Latihannya di Rumah Kami…

Ny-Manurung_Br.dlksaribuKebaktian Minggu Gereja HKBP Pejuang, 7 Juni 2009

Ada perubahan tempat latihan koor TW6C hari Rabu malam tanggal 10 Juni 2009. Dalam latihan koor rutin Rabu malam tanggal 3 Juni 2009 kemarin sempat disepakati latihan koor hari Rabu besok akan kembali dilaksanakan di Gereja HKBP Pejuang karena anggota yang seharusnya rumahnya menjadi tempat latihan koor TW6C belum siap.

Namun selepas Kebaktian Minggu tanggal 7 Juni 2009 kemarin, Inang Ny. Manurung/Br. Doloksaribu datang menyalam ketua TW6C mengucapkan selamt hari minggu seraya berkata “Amang, kasi taulah sama kawan2, jadilah latihan di rumah kami hari Rabu malam ya, asa unang repot mamboan kopi dohot teh manis tu gareja (supaya tidak repot bawa2 kopi dan teh manis ke Gereja)”.  Senang rasanya, akhirnya Inag Ny. manurung/Br.Doloksaribu dan keluarga mau menerima kehadiran TW6C berlatih koor di rumahnya. Selama ini beliau selalu menolak dengan halus, maklum… rumahnya dijadikan sebagai tempat usaha berjualan sembako. Inang itu merasa gak enak, nanti malah acara latihannya jadi sedikit terganggu  dengan keberadaan warung di rumahnya. Saudara2-nya di  TW6C pun selama ini berusaha maklum dengan keadaan itu, takut juga nanti kalau latihan koor di rumah Inang itu, akan mengganggu orang yang ingin berbelanja.

Puji Tuhan atas kuasanya… Dia memang ahli mengatur segalanya. Kekawatiran Inang Ny. Manurung/Br.Doloksaribu diubahnya jadi keyakinan, dan TW6C pun percaya bahwa Tuhan pun akan bekerja agar orang2 yang ingin berbelanja ke warung Inang itu tidak menjadi terganggu dengan kehidiran TWC berlatih koor di sana… Amin (ETS)

04
Jun
09

Arti Seorang Teman (That’s what friends are for)

Arti-SahabatLatihan Koor Rutin TW6C Rabu, 3 Juni 2009 Gereja HKBP Pejuang

Setiap kita pastilah memiliki teman dan masing2 punya definisi sendiri tentang seorang teman. Ada yang mendefinisikan teman adalah orang yang mengerti kita, ada juga yang mengartikan sebagai orang yang mau mendengar kita, atau juga sebagai orang mau diajak melakukan sesuatu bersama-sama. Dari definisi itu, teman ini juga bisa dibagi lagi pengelompokannya menjadi bermacam-macam. Ada teman baik, teman dikala duka, teman dikala suka bahkan ada yang lebih ekstrim dan nyeleneh lagi  dan sebaiknya tak usah ada lah dalam kamus pertemenan kita yaitu teman parjahat (he.. he.., biar rame).

Dalam acara latihan koor rutin TW6C (latihan Rabu malam) ada lagi kategori teman yang muncul dalam benak moderator TW6C yaitu “Teman Se-Iman” ya teman se-iman. Sesi “mangkata-hatai (ngobrol2)” sebelum masuk acara latihan koor sambil menunggu anggota yang belum hadir memunculkan ide ini tentang arti teman se-iman. Saling menguatkan, saling berbagi dan saling memberi (ide dan masukan2) kepada saudara nya yang membutuhkan begitu terasa dalam sesi ngobrol-ngobrol itu. Seorang anggota TW6C terkena imbas krisis ekonomi global, dia di PHK oleh perusahaan setelah mengabdi selama 15 tahun. Tanpa diminta, teman2-nya di TW6C memberikan masukan2 dan saran2 supaya tetap kuat dan tabah (yang kesannya adalah rasa “prihatin”) kepada anggota TW6C yang di-PHK itu. Ide dan tanggapan yang “nyeleneh” dan rasanya seperti melawan arus dari ide yang telah diungkapkan oleh temen2-nya di TW6C justru datang dari “teman se-iman” dari wijk-3 (sdh 2 minggu ini TW6C dan Paduan suara wijk-3 latihan bersama di gereja HKBP Pejuang) Lae Ninggor Pardede. Ide Lae Pardede ini sangat menarik karena justru beliau tidak menggaap kasus PHK-nya teman anggota TW6C itu sebagai sesuatu yang di-prihatinkan. “Ah…. Au pe baru di PHK do, sarupa ma hita” (ah.. aku juga baru di PHK, sama lah kita”) kata beliau membuka idenya. Selanjutnya beliau mengatakan “Adong do pesangonna kan? (“tapi dikasi pesangon ka?”), berati masih lebih beruntung Lae, masih banyak orang yang di-PHK tapi gak dikasi pesangon. Jadikan itu sebgai batu loncatan, tak ada bidang kerjaan di dunia ini yang mentok atau buntu atau tidak diperlukan lagi. Saran saya tetap berusaha cari pekerjaan dan jangan sekali-kali mencoba bidang pekerjaan baru yang belum dikuasai, karena hal itu bisa menyedot tenaga dan biaya yang besar. Olo do dang tahilala hape uang pesangon i nga habis ala sai mancobai usaha bidang baru on” (kadang kita gak sadar uang yang ada/pesangon itu sudah habis karena mencoba bidang baru itu). Ide yang cukup cemerlang ini datang dari teman se-iman TW6C… wah inilah untungnya punya temen se-iman, bisa dapat konsultasi gratis dengan ide2 yang menguatkan.

Pukul 20.45 WIB acara latihan pun dimulai, paduan suara wijk 3 masuk ke dalam ruang konsistori gereja sedangkan TW6C memakai ruang gereja. Kelompok Paduan Suara yang “Ber-jiwa Besar” itulah salah satu penilaian yang dapat diambil oleh moderator TW6C terhadap Paduan Suara Wijk-3 ini. Mereka selalu mengalah dengan menggunakan konsistori gereja sebagai tempat latihan jika TW6C batal/terhalang latihan di rumah anggota shg mengalihkan latihannya di Gereja HKBP Pejuang. Kembali wujud ‘Teman Se-Iman ini nyata dalam latihan malam itu.

Ada 2 lagu koor yang dilatih oleh TW6C malam itu. Yang pertama lagu “Carilah Yang Baik” karya cipta Pdt. J. Doloksaribu yang akan dinyanyikan dalam pelayanan TW6C di kebaktian minggu ke-4  dan lagu “Idama Ulinai” karya cipta Gorga, sebuah lagu tentang pemberkatan nikah yang disiapkan untuk dibawakan dalam pelayanannya di acara pernikahan salah satu anak dari anggota TW6C (kembali arti teman ingin ditunjukan oleh TW6C terhadap salah seorang anggotanya).

Arti seorang teman yang rindu untuk berbagi juga ditunjukan oleh Kel. St. J.H. Parhusip/Br. Hasibuan. Konsumsi Acara latihan koor di gereja yang biasanya cuma Aqua gelas, ditambahi beliau dengan Kopi dan Teh manis panas plus krupuk rempeyek (kriyuk..kriyuk).

Kesan tentang pertemanan dan arti seorang teman ini mengingatkan moderator TW6C Diary akan sebuah lagu tentang persahabatan karya Bacharack yang dipopulerkan oleh Dionne Warwick, Gladys Knight dan Stevi Wonder berjudul That’s Wahat friend are For”

That’s What Friends Are For

Performed with Dionne Warwick, Gladys Knight and Stevie Wonder
Written by Bacharach
Released as a UK single in 1985

And I never thought I’d feel this way
And as far as I’m concerned
I’m glad I got the chance to say
That I do believe I love you

And if I should ever go away
Well then close your eyes and try
To feel the way we do today
And then if you can remember

Keep smiling, keep shining
Knowing you can always count on me, for sure
That’s what friends are for
For good times and bad times
I’ll be on your side forever more
That’s what friends are for

Well you came in loving me
And now there’s so much more I see
And so by the way I thank you

Oh and then for the times when we’re apart
Well then close your eyes and know
The words are coming from my heart
And then if you can remember

Terakhir… latihan koor Rabu depan tanggal 10 Juni 2009 kembali dilaksankan di gereja HKBP Pejuang, karena ada halangan di rumah anggota yang jadwal latihan TW6C seharusnya bertempat di rumahnya. (ETS)

29
Mei
09

Belajar Bagaimana Bersyukur

BaktiSumber : Forward E_mail Sahabat TW6C Baktiar Sitohang

AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN..!!!!!!

Kata-kata diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama: Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang.
Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.
Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang anak yang mengeluh karena tak dapat sepatu baru dari orangtuanya, karena sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si anak berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu, Lulu”. Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, “Lulu, Lulu”. “Orang ini juga punya masalah dengan Lulu ?” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang menikah dengan Lulu”.

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. ada cerita lain lagi mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga”.

Dari beberapa contoh diatas, patutlah kita berkata… Bersyukurlah…… !
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih. Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan. Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik. Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut. Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif. Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkat bagimu.

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit. Di masa itulah kamu tumbuh.
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.

25
Mei
09

baju seragam TW6C untuk Amang Pendeta

SeragamKebaktian Minggu Gereja HKBP Pejuang, 25 Mei 2009

Dalam acara latihan pemantapan TW6C Sabtu malam 23 Mei 2009 di rumah Kel. Ny. S.Simanjuntak Br. Napitu (Bendahara TW6C), ketua TW6C menyarankan agar TW6C dalam pelayanannya di Kebaktian Minggu 25 Mei 2009 memakai seragam kebangganggannya. “Besok kita pakai seragam yang merah maroon itu aja, Amang Pendeta R. Sianturi yang berkotbah, biar diingatnya lagi kita pernah sama2 melayani dalam acara Natal Parsahutaon Puri Harapan” katanya yang disambut antusias oleh anggota TW6C, namun ketua TW6C teringat lagi, ada 2 orang anggota yang belum mempunyai seragam itu (karena pada saat festival belum turut bergabung dalam TW6C) sehingga sempat niat itu dibatalakan “tapi jangan lah tahe, bagaimana pulak nanti kawan2 kita yang belum punya seragam, jadi seperti pemain cadangan lah orang itu” kata ketua bercanda. Tapi syukurlah mereka berdua dengan hati besar menanggapi canda ketua TW6C itu seraya berkata “Gak apa2 Lae ketua, nanti kami sesuaikan pakaian kami dengan warna yang senada dengan seragam itu”. Akhirnya disepakati lah bahwa dalam pelayanan keesokan harinya dalam kebaktian minggu TW6C akan tampil dengan seragamnya, keinginan ini semakin diperkuat karena TW6C akan menyanyikan lagu barunya “Puji Tuhan Hai Jiwaku” karya Gorga.

LAG-NYANYITibalah saat yang dianantikan, TW6C menyanyikan lagu pujiannya dengan mantap. Lagu Puji Tuhan Hai Jiwaku mengalun dengan mantap. Irama tradisonal bataknya dapat. Dan semua anggota sangat menikmati menyanyikan lagu ini. Bahkan ketua TW6C sampai bergoyang-goyang bedannya menyanyikannya. Amang R.Sinambela pun dapat mengiringi musik lagu dengan santainya. Apresiasi sekaligus pembelajaran juga diberikan oleh Amang Pendeta R. Sianturi, STh. Ende (nyanyian) adalah sarana yang sangat baik untuk menyembuhkan penyakit (penyakit tondi/jiwa; penyakit hati/roha; penyakit pikiran dan penyakit pardagingon/badan). “Maka bernyanyilah jika hatimu, jiwamu, tondimu atau badanmu sakit. Jangan pikirkan/pedulikan kamu bisa menyanyi atau tidak, senandung sederhana (nana.. nana.. lala..  lala…) juga adalah merupakan nyanyian. Dan berbahagialah mereka2 yang senantiasa rindu bergabung dengan kelompok2 paduan suara karena kalian adalah pelayanan2 Tuhan, karena nyanyian2 koor dalam ibadah2 gereja adalah merupakan kotbah yang sangat efektif, bahwa sebenarnya kalau kita mau menghayati lebih dalam makna yang diungkapkan melalui syair2 indah lagu koor itu maka sebenarnya kotbah pendeta tidak perlu lagi panjang2. Janganlah antong kita hanya menikmati lagunya yang enak, serasa kita terbang ke awan mendengarnya tapi kita tidak mnghayati makana dari syair2 lagu yang dibawakan.  Jadikanlah penampilanmu dalam kebaktian untuk melayani sepenuh hati dan tidak menjadikan penampilan di gereja seperti ajang festival paduan suara” kata amang Pendeta R. Sianturi,STh. dalam kotbahnya.

Apresiasi yang diberikan oleh Amang Pendeta R. Sianturi, STh. wajar2 saja membuat kita bangga. Asal kita tetap memegang teguh komitmen, bahwa kita bernyanyi adalah untuk melayani, menjadi bagian dari pelayan Tuhan dalam ibadah2 gereja dan bukan menyanyi supaya dipuji-puji. Pesan2 yang disampaikan oleh Amang Pendeta R. Sianturi, STh. ini juga kiranya menguatkan saudara anggota TW6C yang sedang menghadapi permasalahan dalam pekerjaannya. Jangan kendor iman dan semangatmu menjadu pengikut dan pelayan Tuhan Yesus dan terusl;ah bernyanyi dan melayani . Anggap itu sebagai pencobaan yang akan membuat imanmu semakin kuat untuk mempunyai  pengharapan yang lebih besar kepada-Nya. Percayakan dan serahkan saja kepada Tuhan Yesus melalui doa2 pengharapanmu kepada-Nya. Sebab ada tertulis dalam Alkitab “Tuhan mengijinkan engkau jatuh tapi Dia tidak akan membiarkan engkau sampai terjerembab”.   (ETS)

07
Mei
09

Happy Birthday 34th Lae E. Sitohang

ultah-e-sitohang1

Latihan Koor Rabu 6 Mey 2009, Rumah Kel. E. Sitohang / Br. Manurung

Hujan turun dengan derasnya sejak malam pukul 23.00 WIB tanggal 5 Mei 2009 dan baru berhenti pukul 03.00 WIB tanggal 6 Mei 2009. Padahal sudah hampi 2 minggu cuaca cukup panas. Hujan berkat kah ini???

Yang pasti, akibat hujan yang turun malam itu, banjir melanda jalan2 mulai Bekasi sampai Jakarta. Tak ketinggalan jalan2 di kompleks perumahan Puri Harapan, sampai malam genangan air di depan rumah Kel. E. Sitohang / Br. Manurung tidak surut2. Walah.. gimana  nih, padahal malam itu tanggal 6  Mei 2009 latihan koor rutin TW6C dilaksanakan di rumahnhya.

Tapi Amang E. Sitohang gak terlalu kawatir, anggota TW6C sudah teruji kok kesetiannya menghadiri latihan koor. Pasti pada datang, apalagi sianganya Lae E. Sitohang sudah mengirim sms kepada seluruh anggota  “Asa unang lupa latihan koor bodari di Jabu nami, pesan pardijabu mangan di jabu nami ma hita” (Jangan lupa latihan koor nanti malam di rumah kami, pesan nyonyaku makan malam bersama nanti kita di rumah kami), kata beliau dalam sms nya.

Memang benarlah, banyak juga yang datang walau bereret reret.. alias molor waktunya, acara pun dibuka tepat pukul 20.35 WIB. Sebagai prolog, Lae E. Sitohang menyampaikan mengapa beliau meminta jadwal latihan koor di rumahnya malam itu (yang seharusnya di rumah Kel. Ny. Sinaga Br. Sihotang). Rupanya tepat hari itu tanggal 6 Mey 2009, adalah hari ulang tahun Lae E. Sitohang yang ke-34. “Wah… pantas lah rupanya tadi di smsnya dibilang, asa mangan bersama dison hita” kata Amang L. Sagala nyeletuk.

Acara kemudian dilanjutkan oleh Amang H. Purba untuk membawakan doa pembuka da pembacaan renungan harian. Usai itu, dilanjutkan dengan acara tiup lilin kue ulang tahun oleh Lae. E. Sitohang. Sebelum lilin ditiup, Ito Ny. H. Purba Br. Simamora menyela dan menyampaikan saran “sebelum lilinnya ditiup, biasanya harus mengucapkan harapan2 (make a wish.. dlm bahasa inggrisnya) dulu Ito Sitohang” kata Ito itu. “Boleh juga tuh sarannya, okelah .. cuma satu yang sangat kuharapkan di ulang tahun ku yang ke-34 ini, agar kiranya Tuhan memberikan kerinduan kami selama ini seorang anak lahir di tengah-tengah keluarga kami” kata Amang Sitohang. Amiiiiinnn… serentak seluruh anggota TW6C mengaminkan dilanjut tiup lilin. Usai itu acara makan. Lae E. Sitohang dan semua anggota mendaulat Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang (Ibundanya Lae E. Sitohang) membawakan doa makan.

Menu Ayam Gulai, Ikan Mas sambal Arsik dan Sayur Lalap sudah terhidang di meja makan. Semua anggota makan dengan lahap dan nikmatnya. Puji Tuhan atas kebersamaan ini. Kegembiraan Lae E. Sitohang, Nyonya dan seluruh keluarganya dirasakan juga oleh seluruh anggota TW6C.

Selepas acara makan bersama, dilanjut dengan latihan koor. Lagu baru “Puji Lah Tuhan Hai Jiwaku” karya GORGA tahun 2002 kembali dilatih… sejam latihan, TW6C sudah mampu menyanyikan lagu ini sampai cakap2-nya (teks lagunya) dibawah bimbingan Guru Koor Lae E. Silitonga.

Latihan ditutup pukul 22.30, dengan pesan latihan koor hari rabu depan tanggal 13 Mei 2009 akan dilaksanakan di Gereja HKBP Pejuang.

Trims Tuhan… kiranya Tuhan senantiasa menjaga keutuhan TW6C… jauhkan dari perpecahan. Teruntuk Lae E. Sitohang… Selamat Ulang Tahun ke- 34, semoga Tuhan Kita Yesus Kristus yang Maha Pengasih menjawab harapan yang disampaikan oleh Lae. (TW6C)

30
Apr
09

Latihan di Gereja = Sepi Anggota

sepiGereja HKBP Pejuang, 29 April 2009

Latihan koor rutin TW6C Rabu malam kemarin dilaksanakan di gedung Gereja HKBP Pejuang. Alasannya : Kel. Amang St. B. Manullang / Br. Nainggolan yang seharusnya menjadi tuan rumah menginformasikan kepada Ketua TW6C bahwa  Amang itu  sedang melaksanakan tugas kantornya ke luar kota, jadi dengan berart hati mengatakan bahwa latihan di rumahnya ditunda dulu.

Seperti kesepakan bersama, jika tuan rumah latihan  koor sesuai jadwal yang telah disusun berhalangan karena alasan yang mendesak dan penting sehingga latihan di rumahnnya tidak dapat dilaksanakan, maka latihan koor akan dialihkan ke Gereja HKBP Pejuang. Jadilah kemarin malam TW6C latihan di Gereja.

Fenomena yang hampir selalu sama jika TW6C latihan di Gereja adalah “Sepi Anggota“. Ya.. selalu, nggak tau kenapa (kecuali saat menghadapi festival koor) . Jumlah anggota selalu menembus minimal angka digit kepala 2 (20-an orang) jika dilaksanakan di rumah2 anggota, namun kemarin yang hadir dalam latihan di Gereja cuma 13 orang (Sopran 4 orang, Alto 1 orang, Tenor 2 orang dan Bass 5 orang + 1  orang guru koor) untung setiap suara ada yang mewakili sehingga latihan tetap dapat dilaksanakan. Dan untung pula ada punguan koor Wijk 3 yang juga latihan malam itu, sehingga terlihat ramai di gereja (terima kasih buat punguan koor wijk 3  yang mempersilahkan TW6C memakai ruang gereja)

Apa dan kenapa yang menyebabkan demikian?… itu yang selalu menjadi bahan perenungan dalam pikiran moderator TW6C. Mungkinkah karena “Mie Gomak”? … Bisa jadi juga ya… mana lah mungkin ada mie gomak di gereja. Siapa yang masakin, yang merasa tuan rumah pun gak mungkin lah ada. Sementara untuk hadir ke Gereja pun sudah syukur. Atau mungkin karena jauh dari rumah jadi malas mau datang, belum lagi nanti kalau latihannya lama, terpaksalah mutar2 jalan pulangnya karena portal2 di perumahan Harapan Indah dan Taman Harapan sudah pada ditutup.

Semoga bukan karena “Mie Gomak ” yang tak ada lah ya. Masa gara2 Mie Gomak jadi malas latihan. Kan sudah komitmen kita, agar tidak memberatkan tuan rumah (kel. yang mendapat giliran ketempatan latihan rumahnya) bahwa latihan2 kor tidak perlu disajikan konsumsi2, cukuplah minum Aqua yang dibeli dari uang kas. Dan alasan jauh dan takut nanti repot pulangnya, mungkin bisa kita atasi dengan memulai latihan lebih awal sehingga dapat diakhiri lebih awal pula (di bawah jam 22.30.. jadwal portal2 di perumahan harapan indah dan THB ditutup) supaya tidak perlu mutar2 kalau pulang ke rumah.

Buat anggota TW6C yang tidak dapat hadir karena kurang sehat/sakit semoga cepat sembuh dari sakitnya, yang terpaksa tidak hadir karena pekerjaan semoga dapat bekerja dengan baik dan berkat Tuhan tercurah melalui pekerjaannya. Agar kalau sudah sembuh dan waktu sudah longgar bisa datang lagi latihan koor.

Selanjutnya… Ada 2 lagu yang dilatih dalam latihan TW6C  tadi malam, Lagu “Pujilah Tuhan Hai jiwaku” karya GORGA (yang dipersiapkan untuk pelayanan TW6C pada ibadah minggu ke-4) dan Lagu “Biar Mida Jahowa”  karya D. Simanungkalit (yang dipersiapkan untuk lagu pada partangiangan Wijk hari selasa depan tanggal 5 Mei 2009).

Latihan koor hari Rabu tanggal 6 Mei 2009 akan dilaksanakan di Rumah Kel. E. Sitohang / Br. Manurung (Ketua TW6C). Tuan rumah latihan koor dialihkan dari seharusnya di Rumah Kel. Ny. M. Sinaga Br. Sihotang karena tepat pada hari itu Ketua TW6C akan berulang tahun. (ETS)

27
Apr
09

Minggu Misericordias Domini

jesus the good shepherdLatihan Pemantapan  Sabtu 25 April 2009 dan Kebaktian Minggu 26 April 2009

Misericordias Domini yang berarti Bumi Penuh dengan Kasih Setia Tuhan (Mazmur 33 : 55b …. dikutip dari http://www.rumametmet.com). Untuk pertama kali TW6C menyesuaikan lagu yang akan dibawakan saat pelayanannya dengan tema kotbah kebaktian minggu.  Tema kebaktian minggu yang coba diartikan oleh pengurus TW6C dengan melihat Renungan Harian terbitan HKBP Rawamangun adalah “Pemulihan”… ya karena pada keterangan renungan firman pada Renungan Harian itu ada kata2 pemulihan dinyatakan. Serentak saat itu (latihan di rumah Kel. L. Sagala/Br.Gultom Rabu 15 April 09..red) para anggota TW6C menyebut judul lagu “Hanya Dia Pemberi Kepuasan” karya cipta Theodora Sinaga sebagai lagu yang cocok dengan tema tsb.

Jadilah lagu itu yang dibawakan. Pada pelayanan2 sebelumnya, lagu ini sudah pernah dibawakan, namun karena semakin bertambahnya anggota baru TW6C (belum ikut/bergabung saat lagu ini dinyanyikan pada pelayanan sebelumnya), lagu ini lumayan lama juga dipoles.. supaya semua lebih mantap dan faham.

Bumi Penuh dengan Kasih Setia Tuhan. Sangat indah jika dihayati. Dan Kasih Setia Tuhan itu sangat nyata dirasakan oleh TW6C saat. Banyak dan teramat banyak pun berkat2 itu yang melimpah buat TW6C. Seperti pada latihan pemantapan  Sabtu 25 April 2009 di rumah Kel. R.Simanjuntak/Br.Saragih, ada 2 acara yang dilaksanakan oleh TW6C : latihan koor dan Mamoholi. Satu lagi berkat buat anggota TW6C dengan lahirnya anak ke-3 kel. R.Simanjuntak/Br.Saragih. Selepas latihan fase 1 acara mamoholi diisi dengan ucapan2 selamat dari setiap perwakilan suara (tenor – bass), guru koor, pahalado dan ditutup pengurus.

Indahnya kebersamaan terasa lagi dalam acara itu. Kebahagiaan yang diterima oleh anggota yang mendapat berkat bertambahnnya keturunan tidak serta merta melupakan anggota TW6C yang sampai saat ini belum dikaruniakan Keturunan. Mereka tetap mendoakan dan memanjatkan harapan agar Tuhan yang Maha Baik juga segera mengaruniakan keturunan bagi anggota TW6C yang masih menanti hadirnya si buah hati. Dan doa permohonan itu sungguh sangat menggetarkan hati saat dibawakan oleh Amang St. M.T. Napitupulu ketika menutup acara malam itu.

Tiba saat tampil dalam pelayanan di Kebaktian Minggu tanggal 26 April 2009. Lagu “Hanya Dia Pemberi Kepuasan” dibawakan dengan baik oleh anggota TW6C. Pengalaman2 hidup dan kesan2 indah dan menggetarkan hati yang teringat dipadu dengan menghayati syair2 lagu pijian itu semakin menambah rasa percaya dan pengharapan kita kepada Tuhan Sang Pemberi “Kepuasan,  Pemulihan, Kekuatan dan Kesabaran”

Terakhir, terima kasih untuk penulis lagu “Hanya Dia Pemberi Kepuasan” Ibu Theodora Sinaga. Kami tidak mengenal Ibu, tapi karya Ibu sungguh sangat menggetarkan hati kami saat menyanyikannya. Kami percaya bahwa Ibu adalah seorang yang diberkati Tuhan dan mempunyai Iman percaya yang teguh kepada-Nya. …..Tak berlebihan rasanya jika  sebait syair lagu itu  ketik lagi di  diary ini :

“Disaat ku lemah dan jatuh Engkau menolongku,

Kau jamah dan pulihkan daku tuk menyembah-Mu.

Tiada Kebahagiaan selain dalam Kau.

Di hadirat-Mu ada Damai ku puas dan lega”

23
Apr
09

Dua latihan… 1 liputan..

Rumah Kel. L. Sagala/Br. Gultom (Rabu 15 April 2009) dan Rumah Kel. H.S.P.Tambunan/Br. Simanungkalit (Rabu 22 April 2009)

Susah memang kalau lagi sibuk dengan pekerjaan di kantor dan kegiatan di lingkungan ditambah pula rasa malas membuka internet. Alhasil artikel liputan kegiatan TW6C jadi terbengkali. Tapi gak apa2 lah ya.. dari pada gak diliput sama sekali.

Latihan di Rumah Kel. L. Sagala / Br. Gultom

Hal yang menarik pada latihan rutin TW6C hari Rabu 15 April 2009 di rumah Kel. L. Sagala / Br. Gultom tentunya adalah acara “mamoholi” atas kelahiran anak ke-3 Kel. L.Sagala/Br.Gultom. Seperti biasa setiap perwakilan suara menyampaikan ucapan2  selamat dan nasehat2 penting kepada Kel. L.Sagala/Br.Gultom. Memang sih kalau dilihat acaranya ya.. itu2 ajanya yang diucapkan saat “mamoholi”. Tapi waluapun hanya “itu2 saja” pasti ada juga hal2 baru sebagai penambah ilmu dan khasanah baru dalam membesarkan anak. Semoga Kel. L.Sagala/Br.Gultom mendapat khsanah yang baru itu dalam acara mamoholi tsb. Nama yang akan diberi kepada anak ke-3 Mereka adalah PRESLEY  Sagala. Mungkin Amang L Sagala ngefans sama Elvis Presley.  Berikutnya dalam acara latihan koor, guru koor TW6C membagikan lagu baru karya sang maestro lagu koor Batak Gorga yang  berasal dari buku lagu karya GORGA terbitan Yamuger edisi terkhir. Bagus sekali… berirama lagu tradisonal Batak. Kita tunggu saja hasilnya dalam pelayanan TW6C pada minggu ke-4 bulan Juni 2009, semoga lagu ini sudah dapat dibawakan. Yang terakhir… tumben ada menu lontong dalam latihan di rumah Kel. L. Sagala/Br. Gultom, biasanya sih Mie Pangsit Siantar. Rupanya menu lontong medan buatan Inang Ny. Sagal Br. Gultom dan enak juga lho….. Wah.. ternyata, pintar masak juga Inang Ny. Sagala Br. Gultom masak ya… siap2 aja nunggu pesanan.. He.. He..

Latihan di Rumah Kel. H.S.P. Tambunan / Br. Simanungkalit

Yang menarik dalam latihan ini, kembali dibahas dalam acara ramah tamah (sambil mangallang mie hun goreng) tentang tempat duduk yang akan ditempati oleh TW6C saat tampil melayani pada hari Minggu tanggal 26 April 2009. Kali ini ide datang dari guru koor TW6C. Beliau menyarankan “Bagaimana kalau kita duduknya di baris belakang bangku gereja, supaya lebih pasti dan tidak digeser-geser lagi”. Namun diprotes oleh ibu2 nya TW6C. Alasannya, biasanya di belekang agak berisik karena anak2 suka main di belakang baris bangku gereja. Akhirnya setelah digodok dengan beberapa masukan dari para Ama-nya TW6C, disepakati agar Sintua Wijk 6 membawakan ke dalam sermon parhalado, dan dicarikan informasi selain TW6C, apakah ada wijk lain yang akan tampil melayani. Kalau memang ada, TW6C akan duduk di baris belakang bangku gereja dan kalau tidak ada, TW6C akan berbagi baris bangku dengan N-HKBP.

Demikian, untuk latihan pemantapan hari Sabtu tanggal 25 April 2009 akan dilaksanakan di rumah Kel. R. Simanjuntak/ Br. Saragih sekalian acara “Mamoholi” atas kelahiran anak ke-3 Kel. R. Simanjuntak/Br.Saragih. “Asa unang pola mangan dian Jabuna be.. ala naeng mangallang “bangun-bangun” do hita” demikian seloroh Ketua TW6C.

13
Apr
09

Anak Ke – 3 (Laki-Laki) Kel. R. Simanjuntak / Br. Saragih Lahir

100_2950

Rabu, 8 April 2009 (Klinik Indra Kasih)

Rabu tanggal 8 April 2009 pukul 13.00 sebuah sms masuk ke HP Moderator TW6C. Rupanya dari Amang R. Simanjuntak… senang rasanya, rupanya kabar sukacita.  “Horas…! Puji syukur telah lahir dengan normal putra kami, anak yang ke-3 hari ini (tgl. 08-04-2009). Ibunya juga anak kami dalam keadaan sehat. Horas.” kata Amang R. Simanjuntak dalam smsnya.

Cukup lama mereka menanti kelahiran “si Ucok”, sepuluh (10) bulan lamanya dalam kandungan . Bidan yang menangani selama konsultasi kehamilan dan juga sang suami Amang R. Simanjuntak sudah menyarankan agar dioperasi Cesar, namun Inang Ny. Simanjuntak Br. Saragih bertahan ingin melahirkan secara normal, takut katanya kalau dioperasi. Akhirnya kesabaran dan niat yang tulus dari Kel. Amang R. Simanjuntak/Br. Saragih dijawab Tuhan. Proses kelahiran secara normal anak mereka yang ke-3 berjalan dengan lancar.

Salut… itu satu kata yang bisa diucapkan untuk Kel. Amang R. Simanjuntak terutama untuk Inang Ny. R. Simanjuntak Br. Saragih. Komitmen dan kesetiaannya untuk tetap melayani melalui wadah TW6C tetap dijalankannya dengan tulus. Walau badan sudah cukup berat selama masih bisa ditahan, Inang ini tetap datang latihan koor rutin TW6C (Rabu malam dan Sabtu pemantapan). Sampai2 teman2nya sesama Ina (ibu2) TW6C yang nahan sakit, “Aduh eda… jangan dipaksain lagi latihan,.. udah berat gitu bawaannya” kata ina2 nya TW6C menyarankan.  “Ah.. gak apa2 koq, masih bisa saya bawa jalan” kata Inang Ny. R. Simanjuntak menimpali kata2 teman2 inanya di TW6C.

Puji Tuhan… satu lagi bukti, buat orang2 yang dengan sukacita melaksanakan pekerjaan pelayanan2 ibadah dengan tulus dan sukacita, Tuhan pasti akan melindungi dan memberi kekuatan. Ketulusan dan semangat Inang Ny. R. Simanjuntak Br. Saragih dibalas oleh Tuhan Kita yang maha baik dengan kesehatan dan kelancaran selama proses mengandung dan melahirkan.

Terakhir… selamat atas kelahiran Anak (Putra) ke-3 nya buat Kel. R. Simanjuntak/Br. Saragih. Berkat Tuhan sungguh sangat besar dan baru setiap hari bagi orang2 yang setia melayani dalam pekerjaan-Nya. Semoga si ucok yang baru lahir menjadi anak yang baik, patuh pada orangtua, berguna bagi masyarakat bangsa & negara serta menjadi Anak yang Takut pada Tuhan… Amin… (ETS)

06
Apr
09

“Uju di Ngolungkon”

Tulisan sahabat TW6C : Baktiar Sitohang


A note from an Inspiring Song “Uju di Ngolunghon”

Hamu anakhonhu…(kalian semua anak2ku)

Tampuk ni pusupusuki…(belahan hatiku)

Pasabar ma amang, Pasabar ma boru,(yang sabarlah anak2ku)

Lao patureture au…(utk merawat aku)

***Nunga ma tua au…(aku sudah tua)

Jala sitogutoguon i…(dan sudah perlu dituntun untuk berjalan)

Sulangan mangan au, Siparidion au,(saat ini musti dibantu/disuapi utk makan, dibantu mandi)

Ala ni parsahitonki…(karena sakit yang aku derita)

Reff:

So marlapatan marende, margondang, marembas hamu,(tak berguna kalian bernyanyi2, margondang, dan menari2 memestakan persemayamku)

molo dung mate au…(jika aku sudah mati)

So marlapatan na uli, na denggan patupaonmu,(tak berguna lagi yang indah, yang bagus yang kau lakukan untukku)

molo dung mate au…(jika aku sudah mati)

Uju di ngolungkon ma nian…(ketika hidupku inilah)

Tupa ma bahen angka na denggan,(kamu lakukan semua yang terbaik)

Asa tarida sasude…(supaya nyata semua)

Holong ni rohami, marnatua-tua i.(KASIH mu yang ber-orangtua)

Balik ke:***

baktiar2Lagu Pop Batak di atas (seingatku dinyanyikan oleh Joy Tobing) masih demikian populernya saat ini, baik itu dalam acara pesta bona taon, pesta pernikahan orang-orang Batak, pesta pembangunan gereja, di lapo, di rumah2 orang Batak, pun tak ketinggalan juga di café Batak lagu ini sering dinyanyikan.

Lagu “Uju di ngolunghon” musiknya enak didengar, tapi yg terpenting adalah pesan moral dari syair lagu tersebut yg sungguh-sungguh amat menggugah hati kita siapapun itu (yang masih punya nurani dan peduli pada orangtua) untuk merenungkan kata demi kata dalam syair lagu tsb. Kadang gw terpikir, bhw lagu tsb ibarat petuah yg teramat dalam & berharga buat kita manusia apalagi dalam posisi sbg anak, anak-anak dari orang tua kita.

Kita yang mendengar saat ini patut berterimakasih pada si pencipta lagu tsb. krn kita direfresh kembali akan makna cinta kasih yg sesungguhnya, cinta yang tulus, cinta yg tidak mengharapkan sebentuk imbalan apapun lagi dari orangtua kita tercinta.

Lagu ini dengan sederhana namun tegas menitip pesan pada kita bahwa ketika dimasa-masa hidupnyalah kita harus berusaha dengan segenap hati dan pikiran, dengan segenap kemampuan yg ada yang kita miliki, dengan materi (ga’ perduli sekecil atau sebesar apapun) yg kita miliki untuk membuat orang tua kita senang, tersenyum, tertawa, bahagia, merasa didengarkan, merasa dihormati dan diperlakukan dengan hormat tanpa melihat kondisi apapun dari siorangtua kita saat ini (eventhough jika kebetulan mereka sudah tua renta, tak berdaya lagi melakukan aktifitasnya sendiri, atau jika lagi sakit, bahkan jika masih sehat walafiat juga!!).

Reffrein lagu tsb berkata, “So marlapatan marende, margondang marembas hamu, molo dung mate au, So marlapatan na uli, na denggan patupaonmu, molo dung mate au. Uju di ngolungkon ma nian, Tupa ma bahen angka na denggan, Asa tarida sasude holong ni rohami marnatua-tua i”. Syair dari reffrein tsb sungguh dgn gamblang memberitahu ke kita apa sebenarnya isi hati dan keinginan terdalam namun sederhana dari orangtua kita, orang yg melahirkan kita, orang yg membesarkan kita, sosok yg mengajari kita dari yang tidak tau menjadi tau, orang yg melindungi kita ketika kecil dari segala marabahaya yg mungkin mengintip kita, orang yang bersusah payah mencari uang untuk biaya-biaya sekolah kita, orang yang mendoakan kita dalam setiap doa-doa yang dipanjatkannya pada Tuhan, orang yang selalu membela kita walau kita kadang dan sering salah dalam bertindak dan bertutur, yaitu MELAKUKAN YANG TERBAIK buat mereka selagi mereka masih HIDUP!!

Sebab tiada berguna membuat pesta 7 hari 7 malam sambil manortor margondang dan memesan makanan sebanyak2nya utk menjamu para tamu dan handai taulan yang datang, atau membangun tugu setinggi2nya ketika mereka sudah tiada krn mereka tidak akan menikmati semuanya itu lagi.

Dimasa hidupnyalah melakukan & memberikan yang terbaik yang harus dilakukan pada mereka, sekaya apapun orangtua kita , sebaik apapun orang tua kita, sehebat apapun orang tua kita, sekeras apapun orangtua kita mendidik kita, serewel apapun orang tua kita, sejutek apapn orang tua kita, se-sok tau apapun orang tua mereka, apalagi jika orang tua kita kebetulan adalah orang susah, kita harus memberikan yang terbaik untuk mereka selagi mereka masih hidup. “Uju di ngolungkon ma nian, Tupa ma bahen angka na denggan, Asa tarida sasude holong ni rohami marnatua-tua i”.

Salam Hormat dan Kasih untuk semua orang tua.

01
Apr
09

Dari 50ribu… menjadi 200ribu (Kita Berhasil)

foto042Sabtu 28 Maret 2008, Rumah Kel. E Silitonga / Br. Sitohang

“Bimsalabim… Abrakadabra…” Ccccssssssss…. berubahlah anggaran dana Rp 50.000,- menjadi Parsel buah seharga Rp 200.000,-.  Memang  ibarat sulap atau sihir (silap mate kata orang malaysia)  rasanya, dengan anggaran Rp 50.000,- per paket parsel buah yang ditetatapkan oleh panitia Pesta Parolop-olopon dan pesta Ulang Tahun ke-20 HKBP Pejuang, dengan embel2 permintaan anggota rapat panitia pada saat rapat “supaya tidak murahan buahnya, supaya tidak asal jadi, supaya yang mesan tidak kecewa”, wijk 6  sebagai penanggung jawab Paket Lelang parsel Buah sepertinya berhasil melaksanakan tugasnya. Sempat terbersit rasa pesimistis… “Ini Mission Imposseble” bagaimana mungkin coba, anggaran nya Rp 50.000,- tapi tuntutan lumayan banyak,  “Apple Fuji 3, Jeruk 3, Anggur 1/4 Kg, Pisang Barangan 1 sisir, Pear 2..” itulah komposisinya.., denggan bahen Hamu so tung maila Hita” demikian kata  koordinator lelang pada saat rapat2 panitia.

Namun walau belum berpengalaman, Wijk6 (samalah dengan TW6C… TW6C nya semua yang hadir rapat) menyanggupi. Serius dan kompak…. (terbukti lagi peribahasa “Bersatu kita teguh….dst), Wijk 6 langsung atur strategi. Pada saat latihan koor TW6C, tim survey buah disusun. “Siapa yang tau tempat pembelian buah yang bagus dan murah” demikian pertanyaan pertama yang di munculkan. Banyak yang kasi ide. Ibu2 pertama yang kasih Ide, katanya “Ke Cibitung aja belanjanya,.. di sana kan ada pasar buah”, yang lain ngomong “Di Pasar Induk Kramat Jati juga ada” tapi disela oleh ibu2 yang lain “Kotor Eda pasarnya… becek, kalau di Cibitung bersih Lho” . “Siapalah yang pergi survey?” pertanyaan ke-2 dilempar lagi ke forum. Banyak yang kasih alasan ini dan itu, jadi lama juga dipustuskan. Untung ada Lae D.F Panjaitan (anggota terbaru TW6C). “Sudah…biar aku yang survey, aku sering kok lewat pasar induk Kramat Jati” kata beliau.

Diputuskanlah Lae D.F. Panjaitan yang survey, sambil dilengkapi data jumlah buah yang dibutuhkan. Canggih2 kali anggota TW6C ini. Moderator TW6C Diary aja bingung baca coret2-an dan perkalian tentang buah yang mau dibeli, dari jumlah buah per-parsel dikonversi ke Kg kemudian ada juga yang dikonversi ke jumlah kotak/Doz buah.. macam lah itu tahe…

Pada latihan koor berikutnya 1 minggu sebelum hari “H” pesta, informasi mengenai harga2 buah itu sudah didapatkan, dan untuk mendapatkan kualitas buah yang terbaik dengan harga yang murah, Lae D.F. Panjaitan harus men-survey 3 tempat yang lumayan jauh jaraknya. Jeruk Medan Super di Cililitan, Pisang Barangan di Kali Malang dan Apel; Peer; Anggur di Sunter, dengan pesan dari tukang buah “kalau mau pesan dan sisortir buahnya, harus dipanjar dulu seminggu sebelum pengambilan. Harga masuk dan tempat pembelian buah sudah didapat, strategi berikutnya disusun, dan disepakati hari sabtu pagi semua anggota TW6C supaya hadir di Rumah Kel. E. Silitonga / Br. Sitohang Perumahan Wahana Harapan Blok A. Hampir semua setuju, kecualai anggota2 TW6C yang harus mengahadiri undangan pesta hari sabtu.

Rencana dan strategi yang telah disusun oleh Wijk6 sempat hampir buyar dan gagal. Dalam rapat panitia Minggu tanggal 22 Maret 2009, sekonyong-konyong ada ide yang disampaikan oleh koordinator Lelang bahwa semua paket lelang makan dan buah diantar pada hari Sabtu. Ketua dan Sekretaris TW6C protes, karena pada rapat2 sebelumnya sudah disepakati bahwa Paket Makanan diantar hari sabtu tanggal 28 Maret 2009 supaya sempat di makan oleh yang mesan, karena pengalaman2 sebelumnya, jika dibagi/diantar pas hari pesta, paket lelang makanan itu sudah kemalaman sampai ke rumah pemesan dan bahkan ada yang sudah basi. Sedangkan pakel lelang parsel buah, akan dibagi pada hari minggu tanggal 29 Maret 2009, saat pesata dihelat. Adu argument sempat terjadi, anehnya kok cuma wijk 6 yang berpendapat bahwa pembagaian parsel buah itu dilaksanakan pas hari pesta (walahualamlah… pinjam istilah saudara kita parugamo sebelah). Sekretaris TW6C panas juga, “Okelah,… kami boleh menyampaikan/menyiapkan parsel buah hari sabtu, tapi jangan diharapkan komposisi dan kualitas buah seperti yang sudah dimintakan pada rapat2 sebelumnya” ucapnya sedidkit esmosi. Koordinator Lelang berembuk dengan Amang Sintua yang yang ikut memimpin rapat didepan, dan dengan permohonan maaf kepada koordinator Wijk2 yang lain yang terlanjur menyampaikan kepada ruasnya bahwa parsel buah akan dhantar hari Sabtu, Koordinator Lelang mewakili Seluruh Panitia menyetujui bahwa paket parsel buah disampaikan hari Minggu saat Pesta dilaksanakan (dan buahnya harus bagus dan komposisinya sesuai dengan yang telah ditetapkan pada saat rapat2 sebelumnya. Usai Rapat Tim (Amang St.M.T. Napitupulu, E. Silitonga, P.Purba dan D.F. Panjiatan) yang bertugas mengantar uang panjar berangkat.

Walau sudah disepakati pembagian paket parsel buah hari minggu, Wijk 6 berusaha supaya pengepakan parsel buah dapat selesai pada hari Sabtu dan segera dibagi bersamaan dengan paket lelang makanan. Untuk mengejar waktu itu, tim pengambil buah dibagi 2. Hari Jumat malam pukul 19.30 WIB langsung dari kantornya, Tim yang 1 menjemput buah Appel: Peer dan Anggur yang  sudah dipesan pada hari Jumat malam. Tim 2 berangkat Sabtu pagi pukul 06.30 WIB menjemput Jeruk dan Pisang Barangan.

Pukul 10.30 WIB Semua buah sudah sampai di kediaman Amang E. Silitonga / Br. Sitohang. Anggota TW6C juga sudah banyak yang hadir, Ibu2-nya ada 15 orang dan Bapak2-nya ada 8 orang, belum anak2-nya yang ikut ngerame-ramein. Proses pemaketan pun dilaksanakan, baru 2 jam setengah dari jumlah paket pesanan sudah selesai dibungkus. Karena sudah lapar dan bahan kertas koran yang dijadikan alas buah yang dipaket habis, proses pemaketan ditunda sejenak.

Makan Siang pun dilaksanakan bersama. Menu Kung Rica2 kembali hadir. Amang H. Silitonga sebagai “Chef Rica2″ yang sudah terkenal kehandalannya diseantero Wijk 6  yang memasak. Sayang Amang H. Silitongan dan Keluarga tidak bisa ikut tim pengemapakan karena harus berangkat ke Puncak Bogor untuk menghadiri acara Bona Taon Keluarga besarnya.  Selain itu ada juga Menu Babi kecap (yang ini.. untuk ibu-nya TW6C), tak ketinggalan pula Tuak Tangkasan untuk menambah akrab dan nikmat saat makan siang. Semua menu makan siang itu adalah sumbangan Kel. St. SM. Manik (sebagai ketua Pesta Huria… beliau bangga melihat kekompakan TW6C).

Pemaketan parsel buah selesai dilaksanakan pukul 15.30 WIB, dan diantar ke gereja pada pukul 17.30 WIB. Oleh tim pengantar yang dikerjakan oleh N-HKBP HKBP Pejuang, pengantaran paket selesai dilaksanakan pukul 21.00 WIB.

Lega dan puas rasanya. Terima kasih untuk semua anggota TW6c (Wijk 6) yang sudah terlibat, berkorban waktu, materi dan pemikiran demi suksesnya tugas yang diserahkan Panitia Pesta Huria dan Pesta Ulang Tahun ke-20 HKBP Pejuang tahun 2009 kepada kita. Satu lagi bukti, indahnya kebersamaan, kalau kita masih  bersama-sama bahu-membahu, tentu kita bisa. Tuhan memberkati kita semua. Amin. (ETS)

25
Mar
09

Udah 2 Jagoan… 1 putri…

nysagala-brgiltomRabu 25 Maret 2009

“Dear All, telah lahir anak kami yang ke-3, laki-laki berat 3 kg jam 12.35 melalui operaso Caesar. Thanks atas doanya. Best Regards!!!” Demikian sms yang dikirimkan Amang L. Sagala ke HP Moderator TW6C Diary memberitahukan bahwa anak ke-3 nya telah lahir. Seorang anak laki2 dianugerahkan Tuhan pada Keluarga mereka. Lahir dengan proses operasi Caesar di Rs. Bersalin Taman Harapan Baru Bekasi Utara pada Hari ini Rabu 25 Maret 2009 pukul 12.35 WIB dengan berat 3 Kg.

Bahagia pasti dirasakan Amang Sagala dan Keluarga. Akhirnya selesai dan sukses proses kelahiran anak ke-3 Mereka. Tadi malam Mereka masih hadir dalam acara Partangiangan Wijk 6 di Rumah Kel. R. Sinambela/ Br. Sianturi. Karena Amang L. Sagala dan Inang ingin agar seluruh saudara2-nya yang hadir dalam partangianan itu mendoakan proses persalinan dengan operasi caesar yang akan dilaksanakan keesokan harinya bisa berjalan dengan lancar. Pada akhir acara partangiangan, Amang St. MT. Napitupulu mendoakan agar proses operasi caesar Inang Ny. L. Sagala Br. Gultom senantiasa dalam penyertaan Tuhan dan boleh berlangsung dengan baik.
Tuhan Maha Kasih mendengar doa2 yang dipanjatkan oleh Amang St. MT. Napitupulu yang didukung oleh seluruh anggota Wijk 6.

anak-ke-3

Akhir kata, Selamat atas kelahiran anak yang ke-3 Kel. L.Sagala/Br. Gultom. Berkat Tuhan selalu baru tiap hari. Semoga si Ucok yang baru lahir  menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, berguna bagi masyarakat dan terlebih menjadi anak yang takut akan Tuhan. Buat Inang Ny. L. Saga Br. Gultom, semoga cepat pulih dari luka bekas operasinya. Sudah 2 Jagoan dan 1 Putri sekarang ya!!! dan 1 Raja dan 1 Prmaisuri tentunya dalam rumah Kel. Amang L. Sagala. Dan buat Amang L. Sagala… ehemmm… bener nih gak nambah lagi.. He.. He.. (ETS)

23
Mar
09

Semakin Padu… Walau disepelekan..

murung

Kebaktian Minggu 22 Maret 2009, Gereja HKBP Pejuang

The Wijk 6 Choir (TW6C) kembali tampil melayani dalam kebaktian minggu di gereja HKBP Pejuang. Selalu berusaha komit dengan jadwal tampil melayani yang ditetapkan parhalado sejak awal (pertama kali) tampil melayani di gereja (Januari 2006 ) yaitu pada minggu ke-4 setiap bulannya. Lagu “Dos do Nangkokna, Dos do Nang Tuatna” karya komponis lagu2 pop Batak Iran Ambarita kembali dibawakan. Bagus dan semakin padu. Terlihat kegemberiaan dan semangat pada seluruh anggota TW6C pada saat menyanyikan lagu ini. Apalagi “Si Cantik Esara br. Napitupulu” Keybordist cilik nya TW6C, semakin percaya diri aja Dia, sampai2 dalam kotbahnya Pdt. Simanungkalit  memberikan appresiasi yang tinggi kepada Si Cantik Esra. Keraguan sempat terbersit dalam hati saat latihan2 persiapan lagu ini,  guru koor TW6C meminta supaya Esra mengiringi TW6C waktu membawakan lagu ini. “Apa bisa nanti si Esra, lagu ini kan lagu berirama cepat?” demikian pertanyaan yang timbul dalm hati moderator TW6C Diary. Namun keraguan itu segera hilang tak berbekas, saat Esra mengiringi dengan sempurna dalam 2 latihan terakhir. Berganti rasa kagum, “Memang berbakat dan bertalenta besar Si Esra ini!”

Disepelekan

Perasaan disepelekan menghinggapi hati setiap anggota TW6C pada kebaktian minggu kemarin. Tempat duduk yang selalu menjadi permasalahan. Dari dulu, mungkin sudah tiga kali dialami oleh TW6C saat tampil melayani. Bukan karena sempitnya ruang gereja, bukan karena jumlah tempat duduk yang kurang (kalau masalah ini rasanya sudah teratasi semenjak disatukannya 2 rumah menjadi satu gedung gereja), tapi karena kurangnya pengaturan dan komitmen jadwal melayani kelompok paduan suara.

Dalam setiap latihan pemantapannya, TW6C selalu nerencanakan di mana nanti posisi duduknya saat tampil melayani di gereja. Sama saat latihan pemantapan hari Sabtu 21 Maret 2009 di rumah kel. E. Sitohang/Br.Manurung, hal ini kembali di persiapkan. “Seperti biasa, kita duduk  di bangku baris sebelah kanan gereja menghadap mimbar. Karena dalam ibadah2 minggu tempat itu biasanya menjadi tempat N-HKBP maka sebaiknnya kita berbagi saja, kita ambil satu sap, satu sap lagi tempatnya N-HKBP”. Kata Ketua TW6C. Namun disela oleh Inang Bendahara TW6C (Ny. S.Simanjuntak Br. Napitu) katanya : “Boru saya kan anggota koor N-HKBP, menurut informasi dari dia, setiap minggu ke-4 (sesuai jadwal TW6C melayani), N-HKBP melayani pada kebaktian pagi pukul 06.00 WIB,  Berarti kita ambil 2 sap, supaya 2-3 baris kita tempati.”

Berdasarkan informasi itu, pada minggu pagi pukul 10.00 WIB, TW6C dengan percaya dirinya duduk di baris kanan bangku gereja HKBP Pejuang dengan menduduki 2 baris terdepan. Tidak dinyana, rupanya N-HKBP melayani jg pada kabaktian itu, sehingga mereka duduk di baris bangku tepat di belakang bangku TW6C. Namun, sekonyong-konyong,  salah seorang Amang Sintua datang mengatur,  “Wijk 6 pindah duduknya ke belakang, supaya N-HKBP yang di depan, atau dibagi 2, satu sap Wijk 6 dan satu sap N-HKBP” katanya. Merasa disepelekan.. apalagi merasa tidak salah, ibu2 pulak semua yang di depan), anggota TW6C tidak bergeming dari bangkunya, dan akhirnya, si Amang Sintua itu yang mengalah, dan N-HKBP pun tidak pernah merasa bahwa tempatnya  diduduki oleh orang lain.

Masalah kecil itu akhirnya berlalu, dan tidak terlalu merusak suasana hati anggota TW6C. Tapi TW6C tetap menyampaikan usulan, supaya Jadwal tampil dan pengaturan tempat duduk kelompok paduan suara yang tampil melayani agak lebih tertib lagi disusun. Terima Kasih. (ETS)

03
Mar
09

Guru Koor Kami Jatuh Sakit

rs-setohasbadi1

Selasa 3 Maret 2009

Sekuat2 nya Goliat dia tumbang juga oleh batu kerikil kecilnya Nabi Daut, se-gagah perkasanya Samson dia tunduk juga oleh bujuk rayu Delilah!!

Demikian juga kesehatan, se-sehat2nya kita pasti suatu saat akan jatuh dalam sakit juga. Guru koor kami (Amang E. Silitonga) jatuh dalam sakit. Beliau memang begitu aktif dan sibuk dalam kesehariannya, entah itu dalam mengurus  pekerjaannya di kantor terutama dalam pelayanannnya dalam organisasi kemasyarakatan dan gereja. Kalau cuma sakit kepala, pusing2, flu atau Pilek.. bukan dianggap sebagai penyakit.. beliau tetap melaksanakan aktivitasnya dengan semangat. Kadang Istrinya di rumah suka protes… “Kalau lagi kurang fit.. janganlah pulak dipaksakan, minta digantikan orang lain dulu” begitu katan istrinya. Tapi beliau tetap akan melaksanakan tanggung jawab yang telah diembannya.

Senin tanggal 2 Maret 2009, sakit yang dirasakan oleh guru kami sudah mulai terasa, tapi beliau masih merasa bisa diatasi. Masih sempat menjemput Inang Ny. Sitohang br. Sihotang (mertuanya) ke Puri Harapan untuk menjaga si ATA putri keduanya yang masih bayi karena Istrinya juga kerja. Menjelang sore hari, guru kami merasa sakit nya semakin gak bisa diatasi, bahkan beliau merasa sangat sakit untuk sekedar berjalan. Ibu mertuanya (Ny. Sitohang br sihotang  heran karena sampai siang hari guru koor kami tidak berangkat kerja lalu kemudian menanyakan hal itu kepada guru kami. “Kenapa gak berangkat ke kantor?” tanya mertunya. “Saya sakit Inang, susah berjalan”, kata guru kami.

Mendengar itu Inang Ny. Sitohang br. Sihotang merasa “pasti sudah parah ini sakit Hela saya, kalau sampai susah berjalan dan tidak berangkat ke kantor. Kemudian Inang ny. Sitohang br Sihotang memberitahukan hal itu kepada Istri guru kami dan Ketua TW6C (Lae guru kami). Sepulang dari kantor masing2, Ketua kami, Abang Ketua kami Istri Guru Kami dan Inang Ny. Sitohang br Sihotang berkumpul di rumah guru kami untuk membawa guru kami periksa ke rumah sakit. Pukul 19.45 WIB dengan diantar oleh Ketua kami, Abang Ketua Kami dan Istri Guru Koor kami, guru koor kami dibawa ke Rumah Sakit Seto Hasbadi Seroja Bekasi Utara. Masuk ke UGD pukul 20.10 WIB dan setelah melalui proses pemeriksaan oleh dokter dan cek darah di Laboratorium, Dokter mengindikasikan guru kami terkena gejala tifus dan kemungkinan gejala Usus buntu (karena beliau merasa  sakit kalau berjalan). Namun pemeriksaan lanjutan untuk lebih memastikan sakit guru koor kami akan dilaksanakan hari Selasa pagi tanggal 3 Maret 2009.

Akhirnya malam itu guru koor kami diopname di Rumah Sakit Seto Hasbadi Seroja Bekasi Utara. Semoga lekas sembuh ya Amang guru. Semoga Tuhan segera mengangkat sakit penyakit dari tubuh guru koor kami agar tidak berlama-lama di rumah sakit.

27
Feb
09

Lae Sagala Masuk Angin… Latihan TW6C jadi Sepi

lsagala

Rabu 25 Februari 2009, Rumah Kel. Ny. Sitohang Br. Sihotang

 

Moderator TW6C Diary dihinggapi kejenuhan memposting kegiatan latihan koor TW6C, sehingga 1 latihan hari rabu di rumah Kel. J. Tambunan/Br. Manalu dan 1 latihan pemantapan hari sabtu di Gereja tidak dipublish dalam blok ini. Gak tau kenapa, apakah karena tidak ada kejadian yang menarik dalam latihan tersebut atau apakah karena malas? 

Suasana latihan koor rutin TW6C hari Rabu malam kemarin di Rumah Kel. Ny. Sitohang Br. Sihotang (personil suara Alto TW6C) berlangsung cukup meriah dan kelihatan ramai. Mungkin karena rumah-rumah BTN Puri Harapan yang biasanya kurang luas jadi kelihatan ramai karena duduk berimpit-impitan. Malam itu lagu yang dilatih adalah lagu Irama RAP karya komposer terkenal lagu2 pop batak Iran Ambarita yang berjudul “Dos do Nangkokna, Dos do Tuatna” . Suasana ini tambah ramai apalagi kala canda dan guyonan Lae L. Sagala (Si raja ngocol se-TW6C) sedang keluar, Gerrrrr…rrrr… gemuruh suara tawa anggota TW6C yang mendengar guyonan Lae L. Sagala. Ada2 saja cerita, yang nada2 lagunya lah yang dikomentari, gayanya para ibu2 lah yang dianggap lucu, apalagi kalau suara Bass lagi salah menyanyikan lagu…. jangan harap luput dari guyonan Lae. L. Sagala.

Suasana ceria dan ramai itu masih terus berlangsung saat latihan selesai, yang dilanjut dengan makan Lontong Sayur. Masih tetap berguyon… Pas mau didoakan oleh Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang, Lae. L.Sagala neletuk sambil berguyon : “Tunggu dulu Bunda, jangan didoakan dulu makanannya, kerupuk lontong sayurku belum ada, nanti saya jadi tidak konsen berdoanya karena pengen comot kerupuk dari piring anggota yang lain” katanya, padahal kerupuk lontong sayurnya sudah ludes disantapnya sebelum berdoa. Ibu2 TW6C pun langsung ribut : “Huuuuuu…uuu.., dasar Ito Sagala, maunya lebih banyak krupuknya sama Dia, kasi aja Bunda… biar tenang dia” kata mereka serempak. Lae L. Sagala senyum2 senang. Rupanya Lae L. Sagala cukup lapar malam itu, 1 piring Lontong Sayur sudah Ludes, sama seperti guru koor TW6C (Amang E. Silitonga). Ada 1 piring “partambuan” (cadangan untuk menambah makanan)… mula2 guru koor TW6C malu2 mau nambah… Lae Sagala nyeletuk lagi : “Jangan malu2 guru… sini saya temani… bagi dua aja kita”. Mereka berdua langsung membagi piring partambuan itu dan segera menyantapnya lagi sampai habis.

Usai makan Lontong Sayur bersama, acara dilanjutkan dengan membicarakan tentang rencana Pesta Huria HKBP Pejuang tanggal 29 Maret 2009. Berkaitan dengan rencana acara itu, pengurus TW6C dan parhalado wijk 6 memeberi arahan (soso2) kepada anggota TW6C agar mulai malam itu sampai 2 minggu ke depan Silua (persembahan) masing2 keluarga sudah bisa disampaikan/dikumpulkan kepada pengurus TW6C atau Parhalado Wijk 6. Tanpa disadari oleh anggota TW6C, suasana ramai dan ceria itu tiba2 hilang, canda2 dan tawa tidak terdengar lagi. Apakah karena serius memperhatikan pengumuman tentang Pesta Huria itu? Ternyata bukan. “Ada gempa ya Lae…, kok goyang penglihatanku… keringat dingin lagi aku” tanya Lae L. Sagala kepada ketua TW6C. “Bercanda Lae ini” pikir ketua dalam hatinya. Iti Nyonya L.Sagala Br. Gultom menimpali : “Kayaknya asam lambung papi kumat lagi tuh, abis tadi perut dalam keadaan kosong, langsung makan Lontong bersantan sih” . Rupanya Lae L. Sagala drop kesehatannya, perutnya mendadak sakit, beliau rupanya masuk angin malam itu. Dan selesai menyantap Lontong Sayur, tubuh yang kurang fit ditambah menu lontong sayur yang bersantan membuat perutnya sakit. Pantesan tadi.. tiba2 suasana rame dan ceria tawa dalam latihan malam itu mendadak hilang. Rupnya Lae L. Sagala (si Raja Ngocol se-TW6C) masuk angi.. trus sakit perut… jadi hening dan sepi deh canda tawa dalam latihan koor TW6C. Wah repot juga ya kalau Lae. L. Sagala sakit…. jadi tidak ramai suasana latihan koor. Semoga tidak sakit perut lagi lah buat Lae L. Sagala… jaga kesehatan terus ya!!!!

Latihan koor malam itu selesai pada pukul 22.30 WIB. Latihan Rabu tanggal 4 Maret 2009 akan dilaksanakan di Gereja HKBP Pejuang karena  Ny. T. Tobing Br. Siregar yang harusnya kebagian jadwal latihan di rumahnya sedang ada acara pada tanggal tersebut. Doa Penutup dibawakan oleh Amang St. M.T. Napitupulu. (ETS)

12
Feb
09

Demam Kampanye di TW6C….

Rabu 11 Februari 2009, Rumah Kel. R. Panjaitan / Br. Siburian

Ibu_DemamkampanyeTinggal 2 bulan lagi pesta demokrasi Pemilihan Umum Tahun 2009 akan dilaksanakan. Kampanye sudah banyak dimulai, baik yang terselubung maupun yang terang2-an. Ada pula yang melanggar aturan tapi ada juga yang sesuai ketentuan. Akhir2 ini apa lagi, banyak ditemui poster2 para Caleg yang berebut untuk duduk menjadi anggota ”Dewan yang Terhormat” di DPR Pusat maupun di DPRD. Kadang membuat hati miris juga, taman yang tadinya indah menjadi acak kadut tak berarturan karena pagar2-nya digantungi poster2 para caleg ini, tembok2 yang tadinyanya berwarna ”narata-rata”(”polos”) menarik dan bersih kini sudah ditempali ”stiker2 norak” para caleg. (Katanya mau menjadi anggota Dewan Yang Terhormat.. tapi kok baru kampanye.. sudah menunjukkan sikap yang kurang terhormat begini ya??… Jangan salahkan deh… kalau kite2 pada kurang respek).

Para Anggota TW6C bercerita, entah sudah berapa banyak kalender dan stiker yang dititipkan/diserahkan oleh para tim sukses Caleg kepada mereka… ada yang dari kawan semarganya (dongan tubu-nya), dari keluarga Iparnya (Hula2-nya), dari kawan2 dekatnya, dari tetangganya dan bahkan ada pula yang tiba2 sudah nangkring di pagar rumahnya (kalau yang begini sih biasanya habis dilihat langsung dibuang ke bak sampah… bikin kotor aja…he.. he..). Tadi malam dalam latihan koor rutin TW6C di rumah Kel. R. Panjiatan / Br. Siburian, tambah satu lagi ”Inventaris Kalender Caleg”-nya para anggota TW6C. Latihan koor TW6C dilanda ”Demam Kampanye”. Kebetulan salah seorang anggota TW6C menjadi pengurus salah satu partai peserta pemilu untuk wilayah Medan Satria Kab. Bekasi dan menjadi tim sukses salah satu caleg DPR pusat dari partainya. Usai latihan koor lagu ”Doa Bapa Kami” Karya Gorga, yang entah kenapa cukup susah dilatih malam itu atau guru koor TW6C (Amang E. Silitonga) ingin agar saatnya nanti dibawakan di Gereja lagu ini dapat dibawakan dengan sempurna, ajang kampanye pun dimulai, sambil menikmati hidangan ”Mie Goreng” yang disajikan tuan rumah, tim sukses partai tertentu ini membagi-bagikan kalender dan stiker kepada para anggota TW6C. Selesai membagi-bagikan kalender tsb., beliau memotivasi anggota TW6C agar memilih partai tersebut katanya ”Mari kita pilih lah partai yang sudah jelas akan memperjuangakan aspirasi dan hati nurani kita, karena landasan iman kita sudah sama. Buat apa kita pilih partai yang lain yang tidak jelas memperjuangkan aspirasi kita”.

Bpk2_demam KampanyeDalam hatinya Ketua TW6C sebenarnya kurang setuju Latihan Koor Rutin TW6C dijadikan ajang kampanye partai politik dan para caleg. Tapi melihat antusiasme apara anggota menerima kalender terus membaca slogan2 yang ditulis dalam kalender itu, ketua TW6C akhirnya membiarkan saja. Beliau sempat menyampaikan tentang rasa kurang simpatiknya terhadap partai tertentu yang ”berkampanye” malam itu di latihan koor rutin TW6C, ” kurang berani saya lihat partai ini memperjuangkan aspirasi umat kristen, padahal jelas2 partai ini berlambangkan kristen, tidak pernah kedengaran pembelaannya dalam koran2 apabila ada penggusuran terhadap gereja2 dan sulitnya mendapat ijin membangun gereja” kata ketua TW6C, yang kemudian dijawab oleh tim sukses partai tertentu itu ”sebenarnya dibelanya… cuman karena suaranya di Dewan sedikit jadi kurang terekspos di media, makanya kalau kita sama2 memilih partai ini dan nanti wakil kita di dewan sudah banyak, pasti suara kita lebih didengar dan diekspos di media”. Walau demikian TW6C (khusunya pengurus) tidak pernah dan tidak akan mengarahkan para anggota TW6C untuk memberikan suaranya kepada partai / caleg tertentu. Pilihan anda adalah hak azasi anda, kita harus komitmen akan hal itu.

Usai acara kampanye, acara dilanjutkan dengan pengumuman-pengumuman antara lain rencana pesta huria dan pesta ulang tahun Gereja HKBP Pejuang yang ke-20 tahun yang disampaikan oleh ketua panitia dan para jajarannya. Dan tambah sukacita TW6C satu lagi, Amang D.F. Panjaitan / Br. Simanjuntak bergabung dengan TW6C malam itu (beliau adalah adik kandung dari Amang Y.N. Panjaitan ? Br. Gultom personil suara Bass TW6C), setelah beberapa kali tertunda karena sibuk di kantornya.  Akhirnya acara latihan TW6C malam itu diakhiri pukul 22.30 WIB dengan pesan Latihan rutin sekaligus mamoholi akan dilaksanakan di rumah Kel. J. Tambunan / Br. Manalu Puri Harapan Blok D-8 No.1 pada hari Rabu tanggal 18 Februari 2009. (ETS)

05
Feb
09

Dampak Krisis Global…. jauh lah dari TW6C

krisis_globalRabu 4 Februari 2009, Rumah Keluarga P. Sibuea / Br. Pardosi

Kekawatiran akan berkurangnya semangat anggota TW6C mengikuti latihan koor setelah pelaksanaan acara Bona Taon 2009  tidak terbukti. Rasa kekuatiran ini diungkapkan Amang P. Sibuea saat menyampaikan ucapan selamat tahun baru mewakili Tenor saat acara Bona Taon TW6C sabtu kemarin. “Kiranya jangan ada lagi anggota koor wijk 6 yang mengundurkan diri setelah acara Bona Taon ini” kata Amang P. Sibuea waktu itu yang disambut suara tawa anggota TW6C. Kekuatiran itu diungkapkan Amang P.Sibuea mungkin karena mengingat salah seorang anggota TW6C yang tidak pernah datang lagi latihan semenjak perhelatan Bona Taon TW6C tahun 2008 yang lalu (di Puncak).

Banyak yang hadir latihan koor Rabu malam kemarin di rumah Kel. P.Sibuea / Br. Pardosi Blok E Puri Harapan. Walaupun kebiasaan lama yang suka terlambat hadirnya masih dibawa-bawa. Ketua dan Nyonya hadir lebih dahulu dan disusul tidak lama kemudian oleh Amang R. Simanjuntak dan Nyonya-nya (Br. Saragih). Saat ngobrol2 di teras rumah (Ketua, Amang R. Simanjuntak dan Amang P. Sibuea) hadir Amang R. panjaitan dan Nyonya-nya Br. Siburian bersama si Cika Putri mereka. Dengan sedikit ter-pincang2, Amang R. Panjitan masuk ke teras rumah. “Kenapa kakinya Bang”  tanya Amang P. Sibue. “Asam Uratku kambuh”  jawab Amang R. Panjaiatan. Obrolan pun sampai ke pembahasan penyebab asam urat (biasalah oarang Batak kalau udah ngumpul semua dibahas). “Mungkin karena kurang olah raga itu, latihan bulu tangkis lagi lah kita” kata Ketua. Namun dengan agak kurang semangat Amang R. Panjaitan menimpali “Kalian lah dulu, aku masih belum dapat kerjaan” Kata Beliau. “Gak usah dipikirain lah kalau biaya urunan/sum buat latihan itu. Lanjut  aja Lae, bisanya saling menutupi dari anggota yang lain.” kata Amang R. Simanjuntak menimpali. Obrolan pun beralih ke topik masalah krisis keuangan dunia (global) yang mengakibatkan banyak karyawan2 perusahaan swasta yang di-PHK. Imbasnya pun sudah mulai dirasakan di awal tahun 2009 ini. Amang R. Simanjuntak dan Amang P. Sibuea pun menceritakan di perusahaan tempat mereka bekerja juga sudah ada karyawan yang di PHK. Mereka sangat kawatir hal itu akan berimbas kepada mereka juga. Obrolan itu terputus karena Ibu2 TW6C meminta agar latihan koor dimulai saja.

Latihan koor pun dimulai tepat pukul 20.30 WIB, kali ini acara dibuka dengan Doa dan pembacaan Renungan Harian oleh Amang E. Silitonga (guru koor TW6C). “Pinasahat ma tu guru memimpin latihan koor.” Kata Amang E. Silitonga sedikit bercanda meniru gaya Ketua dan Sekretaris TW6C jika selesai memimpin doa pembuka dan pembacaan renungan harian, yang disambut Grrrrr…rrrr tawa anggota TW6C. Lagu “Doa Bapa Kami” karya Gorga dilatih kembali malam itu, dan cukup satu jam latihan lagu ini sudah dapat dinyanyikan kembali dengan fasih oleh TW6C (maklumlah… kan udah pernah dibawakan pada pelayanan sebelumnya di Gereja). “Cobalah dipelajari si esra di rumah untuk mengiringi lagu ini, suruh dimainkan dengan irama piano” kata guru koor TW6C kepada Amang St. M.T. Napitupulu. Dan langsung disampaikan Amang St. M.T. Napitupulu kepada Putrinya Esra yang hadir dalam latihan malam itu.

Latihan diakhiri pukul 22.30 WIB setelah sebelumnya TW6C dijamu tuan rumah dengan hidangan Mie-Hun Goreng Bakso. Latihan koor Rabu malam depan tanggal 11 Februari 2009 akan dilaksanakan di rumah Kel. R. Panjaitan / Br. Siburian Perumahan Puri Harapan Blok C.

Sepulang dari latihan koor, obrolan tentang imbas krisis keunagan global yang berakibat terjadinya gelombang PHK di perusahaan swasta indonesia kembali berputar di benak Ketua TW6C, dan mungkin juga dibenak Amang R. Simanjuntak dan Amang P.Sibuea. Kawatir pasti ada dalam hati saudara kita anggota TW6C yang berprofesi sebagai karyawan perusahaan swasta. Doa yang lebih kusyuk kepada Tuhan Kita Yesus Kristus adalah solusi. Semoga Tuhan menjauhkan dampak krisi Global itu dari kita semua dan saudara2 yang sedang mencari pekerjaan bisa diberikan pekerjaan lagi oleh Tuhan. Amin

02
Feb
09

Bona Taon TW6C…. Indahnya Kebersamaan

100_2413Sabtu 31 Januari 2009, Rumah Kel. E. Silitonga / Br. Sitohang

Jadi juga Bona Taon 2009 TW6C, bertempat di Perumahan Wahana Harapan Blok A (Rumah Kel. E. Silitonga / Br. Sitohang). Tanpa modal, tanpa totk-tok ripe dan tanpa pembentukan panitia. Berjalanan secara spontanitas dan alami. Kebersamaan betapa terasa dalam acara ini. Semua bekerja, berpartisipasi menyumbang apapun yang bisa diberikan. Ada yang besar dan ada juga yang kecil.

100_2340

Diawali dengan “Pancing Kecil”-nya Amang H. Silitonga yang menyumbang hidangan Daging kung Rica2 (tambah nikmat aja nih masakan); Daging B2 Kecap sumbangan Kel. Amang H. Purba/Br. Simamora (masakan “si hitam manis” yang mengundang selera); Sopran dengan Ikan Mas Tomburnya (kreasi Inang Ny. St.M.T.Napitupulu Br. Situmeang); Alto dengan Ayam Gorengnya (naniloppa ni/dimasak sama Inang Ny. M. Sinaga Br. Sihotang); Nasi yang dimasak oleh Inang Ny. S. Simanjuntak Br. Napitu (berasnya sumbangan Kel.Amang E. Silitonga/Br. Sitohang);  Sayur Lalap (uang kas nih… dimasak Inang Ny. R. Sinambela Br. Sianturi); Jeruk Besar dan pisang sumbangan suara Bass; buah2-an Serba 5 kilo (Duku, Rambutan, Jeruk Kecil2… duren montongnya belum musim) dari Kel. Amang L. Sagala/Br. Gultom; Kue Ulang Tahun Ke-3 TW6C (Black Forest ditaburi irisan buah2 cerry merah dan kiwi… enak kali bah.. baru ini makan kue yang begini sedap) sumbangan Kel. Y.N.Panjaitan/Br.Gultom; Bir dan Cocacola dari Tenor (uangnya sih dari Amang St. B.manullang dan J. Tambunan) dan yang paling murah-meriah Aqua Gelas 4 duz dari Kel. E. Sitohang/ Br. Manurung (Ketua).

 100_2362

Selain makanan sumbangan yang tak kalah besar nilainya adalah Keyboar yang dipinjami oleh  Kel. Y.N. Panjaitan/Br. Gultom (tidak perlu dijemput, diantar langsung oleh Lae Y.N. Panjaitan dari Menteng Metropolitan ke Wahana Harapan);  Sound System pinjam punya Amang L. Sagala dan Gitar Listrik dibawa Amang R. Simanjuntak (tapi gak sempat dipakai).

 

  100_2329Terima kasih juga buat Pelayan2 Ibadah dalam kebaktian Bona Taon, Amang St. J.H. parhusip yang membawakan renungan, Amang St. B. Manullang sebagai Paragenda, Amang R. Sinambela sebagai Parpoti Marende (pemain organ) dan Inang Ny. R. Sinambela Br. Sianturi sebagai song leader. 

 

 100_2428  100_2394 100_2395 Suami_anggotaTW6C_n_bakal-Angg Anak2-nya_TW6C 100_2401 

Semua hadir, mulai dari anggota koor, suami2 n’ istri anggota koor,  anak2nya anggota koor, anggota wijk6 yang mau ikut bergabung TW6C dan tetangga Amang E. Silitonga. Tapi kurang puas nyanyi2-nya (acara bebas) karena tersita acara mandok hata dan membahas program2 TW6C ke tahun 2009. Gak apa2 lah ya… tahun depan kita mulai lebih awal biar bisa2 lebih puas nyanyi2 bersama. Selamat Tahun Baru. (ETS)

30
Jan
09

“Pancing kecil” ala Amang H. Silitonga…

Amang_SilitongaRabu 28 Januari 2009, Rumah Kel. R. Sinambela / Br. Sianturi

Acara latihan koor rutin TW6C kali ini diisi dengan kegiatan ”mangkata-hatai” (cakap2/diskusi). Guru Koor TW6C Amang E. Silitonga datang terlambat karena lembur di kantor. Malam itu rencana nya seperti sudah dibicarakan pada latihan pemantapan, memang ada 2 kegiatan yang akan dilaksanakan, yang pertama latihan koor rutin dan yang kedua mangapuli(penghiburan) kepada keluarga Amang r. Sinambela/Br. Sianturi. Acara dimulai pukul 20.30 WIB dibuka dengan doa dan pembacaan Renungan Harian yang dibawakan oleh Sekretaris TW6C Amang H.P. Purba. ”Sambil menunggu guru koor yang belum datang, langsung saja kita mulai dengan acara yang kedua mangapuli/memberikan penghiburan kepada Kel. Amang R. Sinambela/ Br. Sianturi” ucap Ketua TW6C. Acara penghiburan pun dimulai, diawali dengan penyampaian riwayat singkat Mendiang Orang Tua Laki2 Amang R. Sinambela oleh tuan rumah dan dilanjut kemudian penyampaian kata2 penghiburan oleh perwakilan setiap suara, perwakilan parhalado wijk 6 dan ditutup/disimpulkan oleh Ketua mewakili pengurus harian sekalian menyampaikan amplop partisipasi (sesuai poin kesepakatan TW6C) kepala keluarga Amang R. Sinambela / Br. Sianturi.

Cukup lama juga waktu tersita dalam acara mangapuli. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB saat acara mangapuli selesai dilaksanakan. Guru koor TW6C pun baru tiba menjelang akhir acara mangapuli. “Pinasahat ma acara latihan koor tu Gurunta” (saya sampaikan kepada guru koor untuk memimpin latihan koor) kata Ketua TW6C. Tapi dilarang oleh anggota TW6C yang berada di wilayah sekitar kediaman Amang R. Sinambela, “Udah terlalu malam, takut nanti menggangu tetangga, lagian tetangga2 di daerah sini masih kurang toleran, kita lanjut aja dengan diskusi mengenai rencana bona taon kita” kata mereka. Semua setuju, namun sebelum acara diskusi dimulai, Guru Koor TW6C meminta saran kepada anggota tentang lagu apa yang akan dibawakan pada minggu ke-4 bulan Februari (jadwal pelayanan TW6C). Usul datang dari ketua yang meminta supaya TW6C menyanyikan lagu “Doa Bapa Kami” Karya Drs. Bonar Gultom (Gorga)“Udah lama tidak kita nyanyikan lagu ini” kata Ketua yang disetujui oleh semua anggota.

“Pancing Kecil” ala Amang H. Silitonga

Teringat saat di latihan pemantapan di rumah Kel. Amang St. J.H. Parhusip/Br. Hasibuan, rencana Bona Taon TW6C tanggal 31 januari 2009 di rumah Kel. E. Silitonga / Br. Sitohang (Guru Koor TW6C) hampir gagal dilaksanakan. Masalah biaya dan penolakan anggota yang terpilih sebagai koordinator (seksi repotnya) acara boba taon sebagai pemicunya.  Karena saling lempar tanggung jawab dan menolak sebagai seksi repot dalam acara bona taon itu,   Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang mengusulkan supaya ditunda aja acara bona taonnya kalau memang tidak ada yang bersedia sebagai seksi repot.  Dan usul ini hampir disetujui oleh Ketua dan seluruh anggota TW6C.  Tiba2 sambil mengacungkan tangan Amang H. Silitonga menyampaikan sarannya :  ”Saya mau memberi usul, jangan terburu-buru memngambil keputusan. Jangan ditunda acara bona taonnya, tetap lah dilaksanakan. Gini aja, pokoknya untuk suksesnya acara bona taon kita, saya dan keluarga siap memasak ”Kung Rica2”, itulah sumbangan dari keluarga kami”.  Saran ini langsung disambut oleh Sekretaris TW6C  ”Ate, boha sian na asing?” (Bagaimana dengan yang lain) katanya. Langsung anggota yang lain pada ngikut,  Ketua menyumbang 4 DoZ Aqua Gelas,  grup Sopran : Ikan Mas Arsik,  Alto : Ayam Goreng dan Guru Koor sebagai tuan rumah menyediakan nasinya. Sambil tersenyum senang, Amang H. Silitonga ”manggoit” (mencolek) seraya berkata :  ”He… He…., berhasil kan Lae, seperti istilah orang medan, Pancing Kecil lah ini namanya… He… He….”. Tertawa ngakak Ketua TW6C mendengar istilah Pancing Kecil-nya Amang H. Silitonga,  apalagi kemudian Amang H. Silitonga menambahi perkataannya :  ” Biar pancingannya kecil, tapi hasilnya besarkan Lae”. Dan ”Pancing Kecil” ala Amang H. Silitonga itu berlanjut terus hasilnya pada latihan Rabu Kemarin di rumah Kel. Amang R. Sinambela / Br. Sianturi. Dalam acara diskusi untuk memantangkan acara bona taon TW6C itu, ketua menyampaikan kepada anggota yang tidak hadir saat latihan pemantapan apabila mereka mau menyumbangkan seuatu untuk kemeriahan acara boa taon. Amang St. B. Manullang menyambutnya : ”Mewakili Tenor, Saya dan Lae J. Tambunan yang menyiapkan Cocacola dan Birnya” katanya.  Disambut tepuk tangan seluruh anggota.  ”Bagaimana dengan Bass, kayaknya dari menu2 yang disiapkan, belum ada yang beraroma B2” pancing Ketua lagi.  Terpancing juga ternyata grup suara Bass. Sekretaris TW6C Amang H.P. Purba sebagai personal Bass bersedia menyiapkan menu B2 Kecap sebagai sumbangan dari Keluarganya. Tidak hanya itu, keesokan harinya melalui telepon, amang L. Sagala bertanya mengenai kepastian acara bona taon TW6C (kebetulan beliau tidak hadir dalam 2 latihan koor terakhir).  Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh ketua TW6C menanyakan kesediaan Amang L. Sagala menyumbangkan partisipasinya dalam acara bona taon TW6C.  ”Durian Montong aja ya dari Lae” kata ketua sedikit memaksa.. ”He… He… boleh lah itu” kata Amang L. Sagala menimpali.

Demikianlah jadinya, ”Pancing Kecil” ala Amang H. Silitonga ternyata berhasil menghidupkan kembali semangat TW6C untuk ”marbona taon”. Dari kesepakatan bersama dalam diskusi, acara bona taon ini akan disusun dalam konsep Kebaktian Ucapan syukur, yang acaranya akan disusun oleh Amang St. M.T. Napitupulu. Setelah Acara kebaktian akan dilanjutkan dengan makan bersama dan acara ”martahun baru” (mandok hata selamat Tahun baru dari anggota kepada anggota dan membicarakan program2 TW6C Tahun 2009). Acara Bona Taon ini akan dilaksanakan pada Hari Sabtu 31 Januari 2009 mulai pukul 18.00 WIB di rumah Kel. E. Silitonga/Br. Sitohang Perumahan Wahana Harapan Blok A.

Acara malam itu ditutup pukul 23.15 WIB, dengan pesan kepada seluruh anggota, Latihan rutin hari Rabu minggu depan akan dilaksanakan di rumah Kel. P. Sibue/Br. Pardosi.

28
Jan
09

Anakkonhi do Hamoraon Di Au

foto430

Latihan Pemantapan Sabtu 24 Januari 2009, Rumah Kel. St. J.H. Parhusip / Br. Hasibuan

Setelah tertunda karena banjir yang melanda jalan2 perumahan Villa Mutiara Gading, akhirnya terlaksana juga latihan pemantapan TW6C di rumah kel. Amang St. J.H. Parhusip/Br.Hasibuan. Hujan sempat turun sebentar, namun tidak menghalangi niat anggota TW6C untuk datang latihan pemantapan. Walau beberapa orang jadi terlambat karenanya. Termasuk rombongan Ketua TW6C (Istri, Pariban dan Bundanya). Latihan dimulai tepat pukul 21.00 WIB, karena sudah agak larut malam, guru koor langsung tancap Gas. Si Putri Malu TW6C “yang sudah tidak malu lagi” pun sudah siap di depan keyboar-nya. Dan semakin pintar aja dia mengiringi TW6C, langsung pas dan tidak sampai memakan waktu lama, latihan pemantapan lagu “Nang Humuntal pe Robean”  selesai tepat pukul 22.00 WIB.

Lanjut kemudian acara kedua, mamoholi keluarga Amang St. J.H. Parhusip / Br. Hasibuan. Setelah menanti-nanti sekian lama (7 tahun usia pernikahan) kehadiran anak ditengah-tengah keluarganya, akhirnya Tuhan mengabulkan doa2 Kel. Amang St. J.H. Parhusip/Br. Hasibuan. Dititipkan Tuhan seorang anak laki2 untuk dirawat dan dibesarkan oleh Amang St. J.H. Parhusip dan Inang Ny. St. J.H. Parhusip. “Anakkonhi do Hamoraon di Au”  demikian judul lagu yang ditulis oleh Nahum Situmorang, lagu yang menggambarkan bergitu besar nilai seorang anak dalam satu keluarga. Sehingga disebut bahwa Anak adalah Harta yang sangat berharga dalam satu  keluarga/rumah tangga.

foto424

“Namanya si Timotius Samuel Pandapotan”  kata Amang St. J.H. Parhusip sebagai pembuka sebelum perwakilan anggota TW6C menyampaikan ucapan/ kata2 selamatnya. Wajah Amang St. J.H. Parhusip dan Inang sungguh sangat berbinar cerah bahagia malam itu. Mereka kini telah memiliki harta yang paling berharga itu, Tuhan yang Maha Baik memberi kesempatan dan kepercayaan buat mereka merawat dan membesarkan seorang anak  laki-laki yang ganteng, lucu, sehat dan pintar.  Ucapan2 selamatpun kemudian disampaikan oleh perwakilan2 setiap suara. Sopran diwakili oleh Inang Ny. S. Simanjuntak/Br. Napitu, Alto oleh Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang, Tenor oleh Amang P. Sibuea dan Bass oleh Amang R. Simanjuntak. “Selamat atas kahadiran anak yang sehat ini di dalam keluarga Amang Sintua Nami, segera dibawa ke Gereja untuk dibaptis, Jaga ksesehatan, pupuk kerjasama merawat si Timotius, dan semoga Amang dan Inang diberikan Tuhan Rejeki yang lebih lagi untu dapat membesarkan si kecil”  demikian intisari ucapan2 selamat yang disampaikan oleh perwakilan2 suara anggota TW6C. Ucapan selamat ini ditutup oleh Ketua TW6C mewakili pengurus harian. Beliau mencoba menyampaikan ucapan selamat dengan cara menarik pengertian dari nama yang diberikan oleh Kel. Amang St. J.H. Parhusip kepada anak mereka. “Timotius adalah seorang cendikia/yang terpelajar namun rendah hatinya (setelah dipikir2 ternyata Ketua salah mengartikan dalam benaknya terlintas adalah Nikodemus), Samuel artinya Aku Telah meminta dan Tuhan memberikannya kepadaku (doa “Hanna” ibu Samuel dlm Alkitab) dan Pandapotan artinya mendapatkan berkat”  kata Ketua TW6C mengartikan nama si Kecil Anak Kel. Amang St. J.H. Parhusip/Br. Hasibuan.  

Berbahagialah Kel. Amang St. J.H. Parhusip dan Inang Br. Hasibuan. Harta/Hamoraon yang paling berharga itu sudah hadir dalam keluarganya. Tuhan telah mengabulkan doa2 mereka dengan cara-Nya sendiri. Jangan pandang apakah dia darah dagingku sendiri atau bukan. Nilai cinta kasih yang tulus diantara Amang dan Inang akan menutupi semua pandangan2 itu, dan Berbahagialah Si Timotius Samuel Pandapotan mendapatkan orang tua Seperti Amang St. J.H. parhusip dan Inang Br. Hasibuan. Doakan anggota2 TW6C yang lain yang masih terus menanti kehadiran Harta paling berharga itu dalam rumah tangganya.

 

Latihan pemantapan dan acara mamoholi ditutup pada pukul 23.00 WIB. Dengan pesan buat semua anggota TW6C bahwa latihan rutin TW6C hari Rabu tanggal 28 Januari 2009  akan dilaksanakan di rumah Kel. R. Sinambela / Br. Sianturi. Selain acara latihan koor rutin akan dilaksanakan pula acara mangapuli/penghiburan buat kel.  tuan rumah (atas meninggalnya Bapak tercinta Amang R. Sinambela pada bulan Desember 2008 yang lalu). (ETS).

23
Jan
09

Si Putri Malu mulai unjuk kebolehan…

foto428

Rabu 21 Januari 2009, Rumah Kel. M. Sinaga / Br.  Sihotang

Banjir sudah berlalu,  jalan2 di perumahan Puri Harapan pun sudah mulai kering, tapi di beberapa bagian yang agak rendah masih terdapat genangan2 air becek kecoklatan.  “Mudah2-an hujan tidak turun lagi”.  Harapan ini dipanjatkan dalam hati oleh anggota2 TW6C , terutama Inang Ny. M. Sinaga Br. Sihotang. Rabu malam tanggal 21 Januari 2009, giliran rumah mereka menjadi tempat TW6C latihan koor rutin.  Waktu hari selasa malam 20 Januar 2009 Ketua TW6C datang ke rumahnya mengkonfirmasikan bahwa jadwal tempat latihan hari rabu akan dilaksanakan di rumahnya, dengan sedikit kawatir  Inang Ny. M. Sinaga Br. Sihotang berkata : “Takutnya banjir lagi nanti, gimana dong?”,   “tenanglah gak akan banjir itu” (kata Ketua dengan sok yakinnya bak Mama Loren yang bisa meramal hari esok).

Puji Tuhan sepanjang hari Rabu, mulai pagi sampai malam, hujan tidak turun. Puri Harapan Bebas Banjir… latihan koor TW6C pun digelar kembali. Banyak anggota yang hadir, kangen kali sudah 2 minggu tidak ketemu dalam latihan, maklum aja, latihan minggu lalu tanggal 14 Januari 2009 kan batal dilaksanakan karena jalan2 di Villa Mutiara Gading masih tergenang air yang cukup dalam. Ada juga yang mau curhat2-an, karena merasa senasib rumahnya kebanjiran beberapa hari yang lalu.

Si Putri Malu (borunya TW6C)

Diawali dengan doa dan pembacaan Renungan Harian yang dibawakan oleh Skretaris TW6C Amang H.P. Purba, latihan koor rutin TW6C pun dimulai. Lagu “Nang Humuntal pe Robean” karya GORGA dilatih kembali malam itu. Guru meminta supaya langsung menyanyikan teksnya… baaa.. babbb.. langsung tergagap2 semua, ternyata penundaan latihan seminggu telah membuat TW6C lupa nada2 lagu itu. Padahal saat latihan di kediaman Kel.  Amang H. Silitonga / Br. Sihombong (yang mangallang “Kung” itu tahe) 2 minggu yang lalu, Notasi  lagu “Nang Humuntal Pe Robean” sudah tammat dilatih. Ada pula yang langsung patah semanagat, “Jangan dipaksakan lah lagu ini dinyanyikan hari minggu, masih belum bisa kok, lagu yang lain saja lah!!!” katannya. Tapi dengan keyakinannya, guru koor TW6C tetap memaksa dan melatih terus lagu ini, “Jangan terus patah semangat, .. kita latih per-suara dulu”   kata beliau.  Ternyata keyakinan guru koor benar juga, setelah dilatih per-suara, akhirnya bisa juga TW6C menyanyikan teks2 lagu “Nang Humuntal Pe Robean” itu.

“Esraaaa…, mana tadi si Esra itu?” panggil guru koor TW6C. (si Esra ini adalah putri semata wayang Amang St. M.T. Napitupulu / Br. Situmeang, masih kecil lho.. baru kelas  5  SD).  “Iringilah Esra…., coba dulu intronya!” kata guru koor. Mulanya masih malu2 dan agak terlambat temponya, tapi setelah diulang beberapa kali, akhirnya   jari2 lentik Esra Br. Napitupulu menari dengan lincahnya di atas tuts2 keyboar Yamaha FGZ 1500-nya mengiringi TW6C.

“Wah.. pintar kali lah si Esra ini, borunya siapalah ini..? Borunya Wijk 6 aja ya .. He.. He..” celetuk Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang menunjaukkan rasa salutnya atas kepiawaian Esra Br. Napitupulu bermain keyboar.  Akhirnya si Putri Malu mulai menunjukkan kebolehannya dan tidak malu2 lagi. Sebenarnya Esra Br. Napitupulu sudah lama mengiringi dalam acara sekolah minggu di gereja, tapi setiap diminta mengiringi TW6C, dia masih malu dan tidak percaya diri (PD).  “Gitu dong Eca… gak boleh malu2 lagi ya…”  kata anggota yang lain.

Usai berlatih lanjut dengan acara ramah tamah (mangallang napinatupa ni tuan rumah),  keluar lah mie gomak… “Hm… asyik nih… udah lama juga ya kita gak makan mie gomak..”. pukas Ketua TW6C, yang diiyakan oleh seluruh anggota TW6C sambil menyantap mie gomaknya.

Acarapun ditutup, diselingil dengan pengumuman2 dari ketua dan dilanjutkan dengan kata sambutan dan pemberitahuan (soso2) dari ketua Pesta Huria HKBP Pejuang Amang St. S.M. Manik yang kebetulan berasal dari Wijk 6. “Asa tadukung ma panitia Pesta Huria taon on, ala sian wijk 6 do sude panitia inti-na dippilit” (mari kita dukung panitia Pesta Huria tahun ini, karena seluruh panitia inti yang terpilih berasal dari Wijk 6) kata Amang St. S.M. Manik. Menurut cerita beliau, mulai tahun ini (2009)  panitia Pesta Huria dipilih per-wijk, dan karena tahun lalu ketua panitia berasal dari wijk 7 maka tahun ini giliran wijk 6 yang menjadi panitia inti. Mudah2-an lah parhalado dan seluruh wijk memegang komitmen ini (semoga!!). Tepat pukul 23.00WIB acara latihan koor rutin TW6C bubar jalan, dengan pesan, latihan pemantapan hari Sabtu tanggal 24 Januari 2009 akan dilaksanakan di Rumah Kel. St. J.H. Parhusip / Br. Hasibuan.

19
Jan
09

Musim banjir….

Bicara musim mungkin yang pertama muncul dalam pikiran adalah musim2 yang mengenakkan, misalnya musim buah2-an (musim duren, mangga harum manis, musim duku dll…). Musim seperti ini selalu ditunggu-tunggu, apalagi kalau panennya melimpah, makin sedap lah rasanya, karena biasanya akan diikuti penurunan harga yang lebih murah dan terjangkau per Kg-nya.

Tapi musim yang satu ini lain dari musim2 diatas. Mungkin, musim yang ini paling dibenci oleh masyarakat  Jabodetabek. Musim apa sih itu? Pura2 nanya lagi.. ya musim banjir lah..!!!

Banjir Puri harapan  Foto by ETS

Musim banjir kayaknya sudah mulai lagi, musim yang selalu menghantui hampir semua warga yang berdomisili di bagian utara Kota Bekasi, tak terkecuali anggota TW6C.  Komplek perumahan Puri harapan  dan Villa Mutiara Gading Kabupaten Bekasi adalah 2 perumahan dimana anggota TW6C bertempat tinggal. (entah kenapa … pada senang tinggal di daerah banjir ya??). Sudah seminggu belakangan ini jalan2 di kedua perumahan ini selalu kebanjiran, tergenang karena curah hujan yang sudah mulai turun dengan derasnya dan sering pula frekwensinya. Kesalnya lagi “Sang Hujan” ini turunnya selalu pada dini hari sampai menjelang pagi (waktu orang mulai berangkat kantor). 

Latihan koor rutin TW6C yang sedianya dilaksanakan pada Rabu malam tanggal 14 Januari 2009 kemarin di rumah Kel. St. J.H. Parhusip / Br. Hasibuan  batal dilaksanakan. Bagaimana tidak, karena hujan deras yang turun jalan depan rumah Kel. St. J.H. Parhusip tergenang dan hampir masuk ke dalam rumah. Takut merepotkan sahabat2-nya anggota TW6C, Amang St. J.H. Parhusip meminta (melalui telepon kepada sekretaris TW6C) agar latihan koor di rumahnya ditunda.

Banjir sampai ke rumah.  

Hujan deras kembali turun mulai Minggu malam tanggal 18 Januari 2009 sampai pagi hari sekitar pukul 05.00 WIB  (senin 19 Januari 2009). Akhirnya air banjir itu mengalir sampai jauh memasuki rumah2 anggota TW6C yang berada di Puri Harapan (macam lagu “Bengawan Solo” nya Gesang ya.. Air mengalir sampai jauh… He.. He..).  Rumah Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang sudah kebanjiran sejak pukul 02.00 WIB, Beliau menelepon Ketua TW6C Amang E. Sitohang (yang adalah anaknya) memberitahu rumahnya sudah kemasukan air banjir. Kaget juga Amang E. Sitohang,  “Koq bisa ya, padahal hujan malam itu tidak sederas malam2 sebelumnya” (pikir amang E. Sitohang).  Setelah itu Amang E. Sitohang bergegas melihat ke depan melalui jendela rumahnya, “gawat… air sudah hampir sampai pintu rumah” kata nya dalam hati. Cepat2 Amang E. Sitohang membangunakan Istrinya, dan berdua mereka bekerjasama mengangkat barang2 yang bisa diselamatkan sebelum air mengalir sampai rumah.

hampir masuk  foto by.Ets

Rumah Amang E. Sitohang tidak sampai kebanjiran, air hanya sampai teras rumah mendekati bibir pintu rumah (mungkin karena lokasi tanah nya yang lebih tinggi dibanding lokasi anggota2 TW6C yang lain yang rumahnya kemasukan air banjir).

 

banjir puri harapan - Foto by.Ets

Rumah : Kel. Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang, Kel. Inang Ny. M. Sinaga Br. Sihotang, Kel. R. Panjaiatan /Br. Siburian dan  Kel. Inang Ny. S. Simanjuntak Br. Napitu adalah beberapa rumah anggota TW6C yang kemasukan air banjir. Yang lain belum dikonfirmasikan apakah air banjir masuk atau tidak ke  dalam rumahnya. Sementara kabar terakhir sekitar pukul 03.00 WIB (senin 19 Januari 2009) via sms Ketua TW6C kepada Sekretaris yang berdomisili di Villa Mutiara Gading mengabarkan bahwa banjir masih sampai jalan saja dan belum sampai masuk rumah2 mereka. 

Belakangan diketahui bahwa banjir ini diakibatkan adanya tanggul air yang jebol di daerah Pondok Ungu Permasi Bekasi Utara. Yang pasti, akibat banjir ini, Ketua TW6C dan mungkin beberapa anggota TW6C yang lain jadi tidak pergi ke kantor.

Buat Semua anggota TW6C yang kebanjiran rumahnya…. Sabar lah ya… Semoga Tuhan kasih rejeki sama kita semua supaya bisa pindah rumah ke daerah yang lebih tinggi dan bebas banjir… Amin!!!  (ETS)

08
Jan
09

Makan “Kung” (RW / B1) Rica2… Hmmm.. Sedaaap..

RW_Rica2 / Efrael

RW_Rica2 / Efrael

Rabu 7 Januari 2009, Rumah Kel. H. Silitonga / Br. Sihombing

Latihan Koor perdana TW6C Tahun 2009 dilaksanakan kemarin malam di rumah Kel. H. Silitonga / Br. Sihombing (personil Tenor dan Alto TW6C). Suasana tahun baru masih cukup terasa, saat bersalaman dengan tuan rumah dan sesama anggota yang hadir ucapan ”Selamat Tahun Baru” terucap dari setiap anggota.

Setelah cukup banyak anggota yang hadir, Amang H. Silitonga memberi kode kepada Ketua supaya acara marsipanganon (makan) bisa dimulai. Kayaknya Amang H. Silitonga sudah tidak sabar ingin segera menjamu TW6C makan malam di rumahnya. Seperti soso2 (pemberitahuan) yang disampaikannya kepada anggota TW6C yang hadir saat acara syukuran rumah baru guru koor TW6C Sabtu tanggal 3 Januari 2009 kemaren ”asa unang pola mangan di jabuna be, ala marsipanganon do dibahen inanta dijabu” dan malam itu jamuan makan malam sudah disiapkan keluarga Amang H. Silitonga/Br. Sihombing. Semua anggota langsung menyanggupi/menyetujui. Rupanya sudah pada lapar juga semua anggota. Soso2 Amang H. Silitonga ditambah sms Ketua ke semua anggota ”asa unang pola mangan sian jabu na be” berhasil dan ”ditolopi” (disanggupi) oleh anggota TW6C. Acara pun dibuka dengan doa dan pembacaan renungan harian oleh ketua, dilanjutkan kemudaian dengan doa makan oleh tuan rumah (Inang Ny. H. Silitonga / Br. Sihombing)

Saat tiba di dapur, di meja makan sudah terhidang makanan yang lezaat2 (Hmmm…. jadi ngileer nih), menunya cukup beragam Ayam Goreng Krenyes2, Udang Asam Manis, Sayur lalap dan yang paling spesial adalah menu Daging ”Kung” (RW/B1) Rica2 made in Amang H. Silitonga. Melihat menu spesial itu (Daging Kung) serempak Amang St. M.T. Napitupulu dan Amang H. Purba berujar : ”Sudah kuduga pasti ada jagal (daging) Kung Rica2, mantaff lah ini”. Sambil menyendok makan ke piringnya, tak henti2nya Amang St. M.T. Napitupulu dan Amang H. Purba mempromosikan kepada semua anggota tentang begitu sedapnya Daging Kung buatan Amang H. Silitonga, ”Pedes tapi bikin ketagihan” begitu kata mereka berpromosi. Tambah semangatlah pulak bapak2-nya TW6C pengen menyantap Daging Kung Rica2 itu.

Memang benar lah pulak…. gak percuma rupanya Amang St. M.T. Napitupulu dan Amang H. Purba berpromosi. Nikmat dan sedap betul Daging Kung buatan Amang H. Silitonga itu. Pedas dan memancing keluar keringat saat makan, dan segar rasanya saat keringat mengucur di dahi dan badan. Hampir semua Bapak2-nya TW6C tambah makannya, ada yang 2 piring, bahkan ada pula yang nambah sampai 3 piring. Ibu2 nya juga gak mau kalah, Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang berujar tabo do tutu bah, asli hian dope angka bumbu2 nai, hera masakan na di huta-huta” (memang enak ya, asli bumbu2nya, seperti masakan di kampung). Tapi kasihan juga anggota2 TW6C yang tidak suka makan Daging Kung (Amang L. Sagala, Inang Ny. M. Sinaga Br. Sihotang dan Inang Ny. St. M.T. Napitupulu Br. Situmeang), mereka hanya mesem2 saja menyaksikan kawan2nya begitu menikmati hidangan daging kung itu. Untuk menghibur diri sendiri, Amang Sagala berujar mengapa Dia tidak mau makan daging kung ”Kasihan saya, anjing kan binatang paling setia, dan saya pecinta binatang” ( He.. He… bisa aja ngelesnya Amang L. Sagala ini).
Usai makana malam, istirahat sambil ngobrol2 sebentar. Ketua berseloroh kepada Amang H. Silitonga ”Yang pernahnya Amang tinggal di Manado? Pas bangat rasa masakan Amang ini dengan masakan di restoran2 Manado itu”. Amang H. Silitonga kemudian menceritakan bagaimana sejarahnya Ia sampai bisa memasak Daging Kung Rica2. Rupanya Beliau pernah tinggal lama di Batam dan di sana Beliau banyak bergaul dengan orang2 Ambon, Flores dan Manado yang memang suka memasak dan makan Daging Kung Rica2 ini. (O..o..o… gitu rupanya ceritanya..). ”Harusnya Amang segera bergabung dengan koor ama, karena koor ama suka sekali makan Daging Kung” kata Ketua TW6C. ”He… He…, boi ma i” kata Amang H. Silitonga.

Cukup lama juga waktu yang tersisa dalam acara makan malam bersama. Sampai pukul 22.00 WIB. Gak apa2 lah ya… kan suasana taun baru. Walau begitu latihan koor tetap dilaksanakan. Lagu ”Nang Humuntal Pe Robean” karya Drs. Bonar Gultom (Gorga) dipilih guru koor sebagai lagu yang dilatih malam itu. Awalnya susah, namun berhasil juga TW6C menyanyikannya sampai bait terakhir.

Acara latihan diakhiri tepat pukul 22.45 WIB, diselingi dengan pengumuman2 dari ketua tentang rencana ”Bona Taon” TW6C yang akan dilaksanakan akhir bulan Januari 2009 (tanggal 31 Januari 2009 kalau tidak ada perubahan) dan disepakati dilaksanakan di Kediaman Kel. Amanag L. Sagala/Br. Gultom Aralia Blok HY-25 No. 5 Harapan Indah. Untuk acara latihan Rabu depan tanggal 15 Januari 2009 disepakati dilaksanakan di rumah Kel. St. J.H. Parhusip / Br. Hasibuan sekalian melaksanakan acara mamoholi bagi keluarga mereka.

07
Jan
09

Rumah Baru Guru Koor Kami…

rumah-guru

Tahun Baru, Semangat Baru, Harapan Baru, Tekad Baru, janji dalam hati yang baru. Banyak yang baru yang ingin kita raih di tahun baru 2009 ini, semua masih dalam angan2 dan penuh dengan ketidakpastian.

Tapi ada yang sudah pasti lho!!! Apa itu ya??? Keluarga Guru Koor TW6C (Amang E. Silitonga / Br. Sitohang) punya rumah baru. Pasti senang bangat ya!! Tahun Baru, dapat rumah baru pulak. Puji Tuhan atas berkat2 Nya yang melimpah buat keluarga Guru Koor TW6C.

Sabtu 3 Januari 2009 secara resmi Keluarga Guru Koor TW6C (E. Silitongan / Br. Sitohang) pindah rumah ke rumah barunya di Perumahan Wahana Harapan Blok A-.. No. … Kabupaten Beekasi. Setelah 3 tahun mengontrak rumah Laenya di Perumahan Puri Harapan Blok C-18 No. 34 Kabupaten Bekasi. Sejak hari Kamis s/d Jumat (1 s/d 2 Januari 2009) ditemani Lae dan pariban-nya pindahan (angkat2 barang2 dari rumah lama ke rumah baru) dilaksanakan dan akhirnya selesai hari Jumat sekitar pukul 23.00 WIB. Lelah bercampur lega terpancar dari wajah Guru Koor kami. Selesai satu tanggung jawab menyediakan rumah untuk keluarganya. Acara partangiangan (kebaktian) ucapan syukur memasuki rumah baru pun diadakan keluarga guru koor kami. Mengundang keluarga besar (dongan tubunya) Silitonga, keluarga Hula-Hulanya Sitohang, Dongan Sahutanya yang lama dari Puri Harapan dan Dongan Sahutanya yang baru dari Wahana Harapan.

Wah… curang nih Guru koor TW6C… masa gak ada undangan buat TW6C? Secara guru koornya masuk rumah baru tega2 nya gak ngundang anak buahnya anggota TW6C??? He.. He….

Keluhan yang sama juga disampaikan oleh pengurus harian parsahutaon Puri Harapan kepada Ketua TW6C (dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Parsahutaon dan terbilang sebagai keluarga dekat/Lae kandung guru koor TW6C) pada saat ngobrol2 usai acara makan bersama dalam acara itu. “boasa dang adong songon boa2 tu punguan na laho pindah jabu amang E.Silitonga. Paling tidak dohot hian do hami mangurupi mengangkut barang2 nasida” (Koq gak ada pemberitahuan kepada kumpulan rencana kepindahan Amang E. Silitonga, paling tidak harus ikut kami mengangkut barang2 mereka) kata wakil ketua parsahutaon Puri Harapan (Amang S Simanjuntak suami Bendahara TW6C). “Rencana ini memang spontan sifatnya dan Amang E. Silitonga tidak enak jika nanti menggangu acara Tahun Baruan Kawan-Kawan Parsahutaon” kata ketua TW6C kepada wakil ketua parsahutaon Puri Harapan.

Walau begitu acara kabaktian ucapan syukur masuk rumah baru guru koor TW6C berlangsung dengan baik dan lancar. Dan terpancar sukacita yang besar dari wajah2 undangan pada saat menyampaikan kata2 selamat kepada keluarga guru koor TW6C. Banyak juga anggota TW6C yang hadir saat itu dalam kapasitasnya sebagai bagian keluarga besar Silitonga, keluarga besar Sitohang maupun bagian dari parsahutaon Puri Harapan.

Soso-Soso Amang H. Silitonga (asa unang pola mangan sian jabu)
Amang H. Silitonga (anggota suara Tenor TW6C) hadir juga dalam acara itu. Usai acara dan sebelum beranjak pulang sempat ngobrol2 dengan anggota TW6C yang lain di teras rumah baru guru koor TW6C. Ketua TW6C berseloro mengingatkan bahwa latihan koor pertama tahun 2009 tanggal 7 Januari 2009 akan dilaksanakan di rumahnya, “Siap” kata Amang H. Silitonga seraya mengacungkan jempolnya. “Paboa Lae tu angka dongan, dipatupa Inanta do sipanganon, Asa Unang pola mangan sian jabuna be, mangan di jabu ma hita”(kasi tau sama kawan2, istri saya menyiapkan makanan, gak usah makan di rumah masing2, supaya makan di rumah kami lah kita) kata Amang H. Silitonga kemudian. “Mantaff”… serentak anggota TW6C berujar. Terima kasih buat keluarga Amang H. Silitonga / Br. Sihombing atas soso2nya buat TW6C.

Kemudian… Inang Bendahara TW6C (Ny. S. Simanjuntak Br. Napitu) juga, gak mau kalah pulak nitip soso2 kepada Ketua TW6C supaya disampaikan kepada seluruh anggota bahwa Kas TW6C sudah hampir kandas, jadi dipesankan buat semua anggota agar menyiapkan ”Tek-Tek an” yang agak besar sedikit untuk dikumpulkan pada saat latihan koor supaya ada lagi dana kas TW6C.

Demikian… Hita ingot be ma soso2 i (mari kita ingat pemberitahuan itu).. dan buat Keluarga guru koor TW6C Selamat atas Rumah Barunya…. ditunggu undangan khusus buat TW6C.

06
Jan
09

Harapan2 di Tahun Baru 2009

foto_natal_kecil

Oleh : Efrael T.H. Sitohang

Masuk sudah kita di Tahun Baru 2009. Gembira tentunya ya! Bagaimana tidak gembira. Kita kembali diberi Tuhan kesempatan melampaui 1 tahun kehidupan kita dan 1 tahun lagi yang akan kita jalani. Tapi ingat selalu jangan terlalu larut dalam kekegembiraan, karena msh banyak orang yang bersedih karena ada anggota keluarganya yang tidak diberi kesempatan masuk ke Tahun 2009. Untuk mereka mari kita doakan agar tidak terlarut dalam kesedihan

Banyak harapan2 yang hendak kita raih di Tahun 2009. Semuanya penuh dengan ketidakpastian apabila kita mengandalkan pada kekuatan kita sendiri. Dengan berserah dan tidak lelah berdoa kepada-Nya, semoga Tuhan mengabulkan harapan itu kepada Kita. Seperti tertulis dalam Roma 12 ayat 12 : Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Atau dalam bahasa Bataknya : ”Marlas ni roha ma hamu mangkirim! Marbenget ni roha ma dihaporsuhon! Jugul hon hamu ma tanginag!

Mungkin tidak ada salahnya jika kita menuliskan harapan2 itu dalam Diary ini. Harapan adalah ”Doa”. Dengan menuliskan harapan2 itu, kita berharap semoga para pembaca yang melihat tulisan harapan2 itu akan turut membantu dalam doa kepada-Nya.

Sebagai pembuka saya akan mencoba menuliskan harapan saya yang paling besar di Tahun 2009. Menjelang acara kebaktian tahun baru (bona taon) keluarga kami pukul 00.00 WIB di rumah orang tuaku (Ny. Sitohang Br. Sitohang / Opung ni si Benjamin), perasaan dalam hatiku begitu kuatnya mendorong pikiranku agar membuat harapan dan doa kepada Tuhan supaya kerinduanku dalam rumah tanggaku yang sudah memasuki usia 5 tahun pernikahan diberikan ”KETURUNAN” ya Keturunan. Itulah harapan yang terbesar yang muncul dalam hati dan pikiranku saat itu. Hatiku ”merekah” menyampaikan harapanku dalam kebaktian tahun baru malam itu. Aku kembali berpikir dan berkata dalam hati : ”Tidak ada salahnya juga kali ya kalau saya meminta dukungan doa kepada saudara2 di awal tahun baru ini, agar harapan2 ku itu lebih kuat dan di dengar oleh Tuhan”. Pada kesempatan acara ”Mandok hata sada-sada” (mengucapkan kata satu-satu)” selamat tahun baru kepada masing2 anggota keluarga, permohonan dukungan doa ini saya sampaikan kepada seluruh anggota keluarga yang hadir pada kebaktian itu (Mama-ku, Abangku, Laengku, Itoku dan Istriku). Usai acara ibadah entah berapa puluh sms saya kirimkan kepada saudara2 (terutama Hula2-ku dan Tulangku) mengucapkan selamat tahun baru dan permohonan dukungan doa mereka agar harapanku mendapatkan ”KETURUNAN” di tahun 2009 ini dikabulkan oleh Tuhan. Sedih dan bercampur harapan besar ada dalam batinku saat menuliskan sms itu. Apalagi Tulangku (pamanku) par Bamban, Simatuaku doli (Bapak mertuaku) par-Surabaya dan Paribanku par-Cilegon membalas smsku dengan harapan mereka yang besar juga agar keluargaku diberi keturunan. Perikop Roma 12 : 12 yang aku tuliskan di atas dikirimkan Simatuaku Doli di sms-nya untuk menguatkan dan memberi keyakinan padaku.

Terima kasih saudara2-ku (terutama Tulangku, Simatuku Doli dan Paribanku) atasdukungan doa Kalian semua. Semoga Tuhan yang maha Baik mendengarnya dan mengabulkan Harapan itu.

SELAMAT TAHUN BARU 2009

17
Des
08

TW6C di Perayaan Natal Parsahutaon “Dos Roha” Puri Harapan

TW6CSabtu 13 Desember 2008, Gereja BEZALEL Taman Harapan Baru

Memenuhi undangan Panitia Natal Parsahutaon “Dos Roha” Puri harapan, pada hari Sabtu tanggal 13 Desember 2008 TW6C datang melayani di Perayaan Natal Parsahutaon “Dos Roha” Puri Harapan yang dilaksanakan di gedung Gereja Bezalel Taman Harapan Baru. Didahului dengan kehadiran Inang Ny. H.P. Purba / Br. Simamora yang tiba di tempat perayaan pada pukul 17.45 WIB (catatan : beberapa anggota yang terlibat sebagai panitia natal telah hadir juga) kemudian disusul satu persatu anggota yang lain. Soso2/pengumuman ketua agar TW6C memakai seragam “Festival”nya dipenuhi oleh hampir semua anggota yang hadir (tapi ada beberapa yang tidak berseragam merah karena terlibat sebagai panitia). Anggota yang hadir tidak komplit, Sopran 6 orang, Alto 4 orang, Tenor 4 orang dan Bas 4 orang.  Amang L.Sagala (dan Nyonya), Amang Y.N. Panjaitan, dan Amang St. J.H. Parhusip (dan Nyonya) tidak bisa datang karena ada acara lain yang waktunya bersamaan dengan Perayaan Natal tersubut.

Walau personil tidak lengkap, TW6C tetap tampil dengan baik menyanyikan lagu pujian ”Bangunlah Jiwaku”. Mengisi acara sebagai paduan suara terakhir sebelum kotbah/renungan natal yang dibawakan oleh Pdt. Sianturi (Pendeta Gereja Pasundan Bekasi). Pada saat tampil membawakan lagu pujianya, Dirigent TW6C Amang E. Silitonga memandu TW6C untuk naik ke atas panggung/mimbar gereja. Lagu ”Bangunlah Jiwaku” pun melantun dengan agungnya dari panggung gereja.

”Integritas Diri” diangkat oleh Amang Pdt. Sianturi sebagai tema kotbah/renungan natal malam itu (sesuai dengan subtema batal yang dipilih panitia). Menarik sekali kotbahnya. Integritas diri yang arti sederhananya ”lakukan segala sesuatu dengan apa adanya ( sebaiknya suatu hal dilakukan seperti itu adanya)”. Ada yang bisa dijadikan pedoman dan motivasi kita bergabung dalam kelompok paduan suara. ”Integritas Diri sebagai anggota paduan suara bukan supaya kita dibilang rajin, bukan supaya kita dipuji, bukan supaya dibilang orang paduan suara kita bagus. Kalau itu motivasinya, berarti kita belum mempunyai integritas diri sebagai anggota paduan suara/suatu paduan suara, suara yang bagus diibaratkan sebagai ’korek kuping/telinga’ hanya enak di telinga. Seharusnya, motivasi kita bernyanyi adalah untuk memuji dan memuliakan Tuhan, itu saja intinya. Walaupun suara kita ada fals2-nya dikit, nilainya akan lebih berharga kalau hati kita tertuju memuliakan Tuhan” demikian kata Amang Pdt. Sianturi. Semoga seluruh anggota TW6C mempunyai Integritas Diri sebagai anggota kelompok paduan suara.

Terakhir, terima kasih untuk Panitia Natal Parsahutaon Dos Roha Puri Harapan, yang telah mengundang TW6C melayani di acara natalnya. Sedikit banyak menambah jam terbang TW6C menjadi pelayanan-pelayan Tuhan melalui nyanyian.

16
Des
08

Mutiara Kata….. Penuh Insprirasi

Kata Mutiara dari Email sahabat TW6C : Baktiar Sitohang

Tuhan yang Maha baik memberi kita ikan,

tetapi kita harus mengail untuk mendapatkannya.

Demikian juga Jika kamu terus menunggu waktu yang tepat,

mungkin kamu tidak akan pernah mulai.

Mulailah sekarang…

mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya.



Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai,

tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.





Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah,


dan biarkan mata kamu setengah terpejam sesudahnya.


Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya


sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya.


Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah .

hati seorang wanita.




Begitu juga Persahabatan, persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga


Persahabatan sejati layaknya kesehatan,


nilainya baru kita sadari setelah kita kehilanganNya.


Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatiMu


dan akan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya.


Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga Kita.


Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan,


tapi Jangan pernah menyesal untuk bertemu dengan orang lain…


tapi menyesal-lah jika orang itu menyesal bertemu dengan kamu.


Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran.

Dialah hiasan dikala kamu senang dan perisai diwaktu kamu susah.


Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman,


jika kamu mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.


Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa melihat kebaikannya

dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya


tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan


kalau kamu tidak bisa melihat keduanya.



Begitu juga Kebijakan, Kebijakan itu seperti cairan,


kegunaannya terletak pada penerapan yang benar,


orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal,


sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat.


Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja,


tetapi juga berdasarkan pada perasaan dan fakta.


Tak seorang pun sempurna.


Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.


Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah.




Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita


adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.




Kamu tak bisa mengubah masa lalu….


tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan.

Bila Kamu mengisi hati kamu ..

dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan,


Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri.


Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan


dan hari esok tanpa rasa takut,


berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju sukses.




12
Des
08

Dari “Nada La (6)”… sampai… “Kesepakatan Bersama”

nada_laRabu 10 Desember 2008, Rumah Kel. St. M.T. Napitupulu / Br. Situmeang

Latihan Koor TW6C telat lagi dimulai. Jam dinding di rumah Amang St. M.T. Napitupulu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Guru Koor (Amang E. Silitonga) belum datang. Ibu2 anggota TW6C ngobrol2 di dalam rumah sementara Bapak2-nya di teras rumah ngerokok sambil membahas issue2 yang lagi hangat saat ini. “Ta mulai ma booo…!” ( “ayo dong dimulai”) kata Inang Bendahara TW6C (Ny. S. Simanjuntak / Br. Napitu). ”Eta ma bah, nunga jam tonga 9 hape” (”ayolah, sudah stengah 9 rupanya”) kata Ketua. Latihan pun dimulai, seperti biasa diawali dengan doa pembuka dan dilanjutkan dengan pembacaan Renungan Harian tanggal 10 Desember 2008 yang dibawakan oleh Inang Bendahara.

Usai doa pembuka dan pembacaan firman, Bendahara menyampaikan acara selanjutnya kepada Ketua ”Pinasahat ma tu Ketua memimpin latihan” (”saya sampaikan kapada ketua memimpin latihan”) kata Bendahara. Ketua bingung gimana caranya ini. Memang repot juga kalau kelompok paduan suara hanya mengandalkan 1 orang pengajar dalam latihannya. Karena ketua bingung, akhirnya Inang Bendahara ”turun tangan” menarik nada dasar lagu yang akan dilatih malam itu. Ketemu, kemudian ketua memberi aba2 (satu… dua.. tiga… ya!) lagu ”Bangunlah Jiwaku” pun mulai dilantunkan. Bisa juga akhirnya walaupun dinamika lagu kurang pas karena tidak ada dirigent yang memimpin. Satu putaran lagu selesai, guru koor TW6C tiba juga. Ternyata beliau lembur di kantornya sehingga telat datang latihan. Amang R. Simanjuntak (personil suara Bass TW6C) mengusulkan agar lagu ”Bangunlah Jiwaku” lah yang dibawakan oleh TW6C dalam pelayanannya memenuhi undangan Panitia Perayaan Natal Parsahutaon Puri Harapan hari Sabtu tanggal 13 Desember 2008. Guro koor dan semua anggota setuju, latihanpun dilanjutkan lagi dengan pimpinan guru koor TW6C Amang E. Silitonga. Langsung mantap dan Agung terdengar lantunan lagu ”Bangunlah Jiwaku”, dinamika lagunya pun sudah pas terdengar. Setelah lima kali mengulang menyanyikan lagu, akhirnya latihan koor selesai.

Acara ramah tamah pun dimulai. Inang Ny. St. M.T. Napitupulu Br. Situmeang dibantu ibu2 anggota TW6C dari VMG yang rajin “marhobas”. Setelah piring2 snack yang dihidangkan oleh tuan rumah tiba di hadapan anggota TW6C, “Si Raja Ngocol se-TW6C” (Amang L.Sagala) nyeletuk “bah… patut ma hape nangkin dang adong nada mi (3) ate.. alai nada La (6) do nagodang di endentai” (“bah.. pantesan rupanya tadi tidak ada nada mi (3).. tapi nada La (6) yang banyak di lagu kita itu”). He… He… dasar Si Raja Ngocol. Malam itu tuan rumah Kel. St. M.T Napitupulu /Br. Situmeang menghidangkan Lappet, Salak, Kacang dan Minuman Bandrek Susu” untuk menjamu TW6C. Amang St. M.T. Napitupulu senyum2 saja mendengar celetukan Amang L.Sagala. Beberapa anggota menimpali celetukan Amang L.Sagala dengan perkataan ”Tumagon nama songonon dibahen snacka, molo sai mangallangi mie gabe mokmohan Hita annon” (”Lebih baik memang snack seperti ini dibuat, kalau makan mie melulu bisa jadi kegemukan nanti kita”). Sambil menikmati Snack yang disediakan tuan rumah, Sekretaris TW6C (Amang H.P. Purba) menyampaikan soso-soso/pemberitahuan sebelum kantong tek-tekan (partisipasi TW6C untuk mendukung Perayaan Natal Ama-Ina HKBP Pejuang) dijalankan. Beliau menekankan agar seluruh anggota boleh mendukung Perayaan Natal itu dengan sebaik-baiknya, dengan pertimbangan : partisipasi TW6C mendukung Natal Gabungan Ina se-Ressort HKBP Jakasampurna saja bisa terkumpul Rp. 750.000,-, ”masa untuk perayaan Natal yang dilaksankan Gereja Kita sendiri dan Panitianya dari anggota TW6C pula, gak bisa kita beri dukungan yang lebih baik”. Soso-soso Amang sekretaris ”manjur” juga, terkumpul tek-tekan yang cukup banyak malam itu. Dua ratus ribu lebih, ditambah dengan tek2-an dalam dua kali latihan sebelumnya bararti sudah terkumpul dana sementara empat ratus ribu lebih . Puji Tuhan!!!. Semoga dalam sisa 2 latihan lagi dana yang lebih dari Rp. 750.000 itu bisa terkumpul. Amin.

Selanjutnya ketua TW6C berdiri menyampaikan tambahan soso-soso. Sebelum berangkat latihan beliau telah mengcopy lembaran ”Kesepakan Bersama”. Kesepakatan Bersama?? Barang apa pulak ini?? Sambil mengedarkan foto copian tersebut, ketua memberi penjelasan bahwa ”Kesepakan Bersama” ini adalah semacam missi sosial TW6C terhadap anggota2-nya pada saat ada kejadian bahagia maupun duka yang dialami oleh anggota TW6C, dan hal ini sudah dijalankan semenjak TW6C terbentuk. ”Seperti model AD/ART dalam parsahutaon” kata ketua. Ada sedikit pertanyaan-pertanyaan mengenai point kespakatan bersama itu dari anggota yang baru bergabung, tapi akhirnya semua mengatakan bahwa poin2 itu sudah cukup baik untuk bisa dijalankan oleh seluruh anggota TW6C. Lembaran yang dibagikan malam itu adalah lembaran Kesepakatan Bersama hasil revisi terbaru yang dibuat pada saat acara Bona Taon TW6C di Puncak bulan Februari 2008 yang lalu, namun baru dibagikan karena kelupaan dari pengurus harian (pikirnya kali : ”kan anggota sudah pada tau nya”).

Sehubungan dengan point2 yang terdapat dalam Kespekakatan Bersama itu, ketua menyampaikan pada seluruh anggota bahwa ada 2 peristiwa yang dialami oleh anggota TW6C baru-baru ini. Yang pertama kabar bahagia dengan kelahiran anak ke-2 (putri) guru koor TW6C Amang E. Silitonga dan yang kedua kabar dukacita yang tengah dialami Kel. Amang J. Tambunan karena Ibundanya telah lebih dahulu dipanggil Tuhan. ”Hita aturma tingki laho mamoholi sambil latihan koor tu keluarga ni Gurunta, dungi molo dung mulak kel. Amang J. Tambunan sian Bonapasogit asa laho hita mangapuli tu bagas nasida” (”Kiata aturlah waktu kita untuk ’mamoholi’ sambil lat. Koor ke kel. Guru kita, kemudian kalau kel. Amang J. Tambunan sudah kembali dari kampung halaman, kita pergi memberi penghiburan ke rumah mereka”. Acara mamoholi kerumah guru koor TW6C akhirnya diputuskan akan dilaksanakan Hari Rabu tanggal 17 Desember 2008 dengan mengalihkan jadwal latihan koor yang seharusnya di rumah Kel. Ny. M. Sinaga Br. Sihotang ke rumah keluarga guru koor TW6C Amang E. Silitonga / Br.Sitohang.

Sebelum acara ditutup, keluarga L. Sagala / Br. Gultom meminta waktu untuk menyampaikan pemberitahuan kepada selururuh anggota TW6C bahwa kediaman Mereka telah pindah dari Perumahan Villa Mutiara Gading ke Aralia Blok HY-25 No. 5 Harapan Indah. ”Undangan untuk Acara syukuran masuk rumah baru akan disampaikan lagi kemuaian” kata Inang Ny. L.Sagala Br. Gultom dan disambut antusias oleh seluruh anggota TW6C dengan ucapan : ”Selamat buat Kel. L. Sagala / Br. Gultom, berarti mamotong lagi kita.” Acara latihan berakhir tepat pukul 22.30 WIB, ditutup dengan doa oleh ketua.

10
Des
08

Artikel Kiriman Laenta R. Simanjuntak (Personil Bass)

R.simanjuntakBindu 25
Nabisuk Nampuna Hata,
Na Oto Tu Panggadisan

Ijuk di parapara, hotang dipallabian. Na bisuk do nampuna hata, alai na oto ma tu panggadisan. Huroha nungnga somal masa pangalaho sisongon i di tongatonga ni halak hita na jolo. Ai molo angka nabisuk, angka jolma parhata do i, namalo mangalusi nasa hata, mangalusi sungkunsungkun nang mangalusi na di bagasan roha. Alai molo halak na oto, mura ma i otootoan. Ai manang aha nidok, manigor i do undukononna. Aha na hinatahon, manigor i do haporseaonna. Halak na oto mamparhatutuhon luhut hatahata, alai anggo halak na bisuk, ditimbang do langkalangka. (Poda 14 :15).

Asa si jalahan do habisuhon, ai marhite ido gabe jolma sitangihonon ni halak iba. Alai sabalikna, sipasidingon jala sipadaoon ma haotoon, asa unang gabe marlomolomo halak tu iba. Parhata do na bisuk, sitangihononhon jala sisungkunon di ragam ni hapistaran. Alai sai si sogo do halak na oto, ai ndang mangantusi aha na masa, aha na niulana, jala ndang tarpasingot di haotoonna. Togir do dalan ni na oto di rohana, alai anggo halak napistar, olo do tumangihon hata sipaingot.’ (Poda 12:15). Sisogo do nang halak na oto di tongatonga ni bagasna, alai gabe anak halasan do angka anak na pistar di tongatonga ni jabuna. “Anak napistar palas roha ni amana, alai jolma na oto sahali do manang ise na olo palea inana” (Poda 15:20). “Hajepolon ni amana do halak na oto, jala arsak ni roha ni inana tumubuhon ibana. “ (Poda 18:25).

Adong do na mandok, anggo umpasa i sasintongna songon on do : Na bisuk nampuna hata, asa unang adong na oto na gabe tu panggadisan. Na uli ma tutu i molo gabe halak na bisuk mangondihon halak na oto. Alai pangantusion di halak hita Batak ma ra i. Manang pangantusion si saonari on na ma i. Ai hira so masuk do tu roha molo gabe adong na bisuk na mangondihon halak na oto. Ai alana, umbahen na oto pe didok ibana, ndada ala ni holan na humurang pingkiranna, alai alani jungkat ni rohana do. Alai na adong do di ibana pangalaho na roa, na jahat, na sai manuntun lomona, na so olo marpanungkun manang tu ise pe, atik pe so diboto agia aha. Asa ndang tarpadomu halak nabisuk tu halak na oto.

Adong sada halak na losok marsingkola, na gabe dajal ibana di huta, jala holan na manusai natorasna ulaonna. Halak na oto do rajumon ibana. Ai pareme do nian natorasna, parhauma na bidang, alai nanggo SD pe ndang tammat ibana. Hira holan ibana nama di huta sian angka dongan torbangna. Hira ibana do na umoto sian dongan magodangna. Alai molo manghatai do, ndang na taralo ibana. Lumobi molo marpollung dohot marhata mangmang. Hatna do sude nasa hata.
Di sada tingki dijujui natorasna ma ibana laho mangaranto, tu Kalimantan manang tu Irian Jaya. Ala tammat SD do ibana, tusi nama dirajumi roha ni natorasna na boi ibana laku. Alai ndang diolio ibana hata ni natorasna i. Olo do ibana mangaranto, asal ma tu Jakarta. Ala sai di jugulhon do ingkon tu Jakarta mangaranto, gabe dipaborhat natorasna ma ibana. Disuru ma ibana manopot angkangna, anak ni bapatuana sian ompungna na martinodohon. Nunga direktur perusahaan anak ni angkangna i di Jakarta. Dibahen natorasna ma surat boanonna, hira dalan patandahon anakna i tu anak ni angkangna i, anggiat boi adong dibahen karejona, manang karejo aha pe taho. Ai ianggo di natorasna i, asal ma unang di huta be anakna i. Ai holan manusai natorasna do ulaonna.

Borhat ma ibana tu Jakarta. Jala jumpangsa do angkangna tubu ni amangtuana sian ompung na martinodohon i. Tinggal di jabu ni angkangna i ma ibana paima adong karejona. Disada tingki, di jou angkangna i ma ibana manghatai. Disungkun angkangna i ma ibana dohot harorona.
“Jadi puang anggia, nungnga hujaha surat ni uda na binoanmi. Namangalului karejo do ho hape tu Jakarta on.”, ninna angkangna i ma mamungka pangkataion nasida.
“Tutudo angkang, na mangalului karejo do ahu ro tu Jakarta on!”, ninna ibana mangalusi.
“Antong, molo songon i, sarjana aha ma ho puang, sarjana ekonomi do manag na insinyiur, asa bi noto pahombarhon tu parkarejoan siluluan tu ho”, ninna angkangna i.
“Dia ma dohon angkang. Songon dia bahenon gabe sarjana, ai hansit do ngolu dihuta. Jala ndang ala na sarjana ahu umbahen na ro tu Jakarta on, laho mangalului karejo do. Jadi urupi angkang ma jolo ahu asa adong karejongku.”
“Bo, ndang sarjana ho hape. Antong, molo songon i, jurusan aha ma ho tahe di SMA ? IPA do manang na IPS ?”, ninna angkangna i muse manungkun.
“Bah i pe, dia ma dohonon angkang. Ai dung ro Indorayon siboan nabusuk i, so adong be hasea pangulaon ni halak papak. Asa mansai hansit do ngolungolu alani na masa i. Ido umbahen na songon on ahu.”
“Bah, jadi dang tamat ho sian SMA ? Na laos holan tamat SMP do ho ?”, ninna angkangna i muse. Nunga longang rohana mambege alus ni angina i.
“Ba, tung i pe nuaeng, dia ma dohon angkang. Ai leleng do omak na marsahitsahit i. Dibege angkang do ra na marbulanbulan omak obname di rumasakit Balige. Jadi tung so tarhatahon do i sude”’ ninna mangalusi angkangna i. Lamboklambok do dihatahon hatana i, hape ianggo angkangna i nunga mulai pangarimason umbegesa.
:Jadi maksudmu, na so tammat do ho nanggo SMP? Na holan tamat SD do ho ?”, ninna angkangna i dohot soara nagogo. Nungnga jut rohana jala muruk idaon.
“Ba, tung i pe nuaeng dia ma dohonon angkang. Nunga bagianniba songon on. Na ringkot nuaeng di ahu, tung lului angkang ma jolo karejongku!”.
“Jadi SD pe hape ndang tamat ho ? Ah, ndang huantusi be i”, ninna angkangna i, huhut mansampathon surat ni udana i tu meja na di jolona, na sai tiniopna sian nangkin. “Ndang huboto boasa suruon ni uda ho tu Jakarta on. Aha ma na boi karejom? Ndang adong! Jadi ndang tarbahen ahu mangalului karejom. Ho ma namanontuhon karejom. Anggo ahu, tung so tarbahen aho do mangalului karejom,” ninna angkangna i di bagasan murukna. Alai sai lambok do anggina i mangalusi. Hira na so diboto do idaon naung muruk angkangna i. Gabe didok ma:
“Burju ni angkang do na mandok asa ahu manontuhon karejongku?”, ninna ibana.
“Olo, ho ma manontuhon. Dok ma saonari, aha ma karejom didok roham.” Ninna angkangna i mardongan muruk.
“Mauliate ma. Botima i angkang. Hubege sian bapak, nungnga direktur hape angkang nuaeng!”, ninna mansai lambok.
“Olo, jadi aha maksudmu?” ninna angkangna i hatop, ai naeng botoonna aha na di roha ni anggina i.
“Maksudhu nian angkang, sapala naung ro ahu tu Jakarta on, bahen angkang ma ahu gabe wakil direkturmu!”
“Aha nimmu? Bodat! So ditanda ho do dirim!!!”, ninna angkangna i huhut di tinggalhon anggina i.
Ndang sadia leleng mulak ma anggina i tu huta ala so adong karejo dapotsa di Jakarta. Na jumorbut muse, gabe mar hata balik do ibana tu natorasna. Ai didok do, na mansai kejam angkangna i, jala manigor ginjang do rohana ala naung direktur i. I ma panghorhon ni haotoon i, na so boi mangantusi halak jala ndang mananda dirina. Asa ndang tarpadomu halak na oto tu halak na bisuk.

Di ganup bangso sai adong do halak na bisuk, suang songon i nang halak na oto. Jala ganup bangso do marsintasinta asa gabe angka jolma nabisuk angka jolma bangso i, jala sai unang ma nian adong halak na oto. Alai asing do pangantusion ni bangso Jahudi taringot tu halak na oto dohot na bisuk, lumobi molo pinartimbanghon tu pangantusion ni angka bangso na asing. Mangihuthon halak Jahudi, sian Debata do Habisuhon, alai sian portibi on, jala sian sibolis do haotoon. Ala sian Debata do habisuhon i, asa manang ise na mabiar mida Jahowa sai na dapotan habisuhon do. I do umbahen na didok: “Biar mida Jahowa do parmulaan ni hapistaran, jala parbinotoan ni angka na badia do hapantason” (Poda 9:10). “Biar mida Jahowa do parmulaan ni parbinotoan, alai halak na oto manoisi hapistaran dohot pangajaran” (Poda 1:7).

Asa molo di tongatonga ni bagas ni halak Jahudi ndada pola sai tarbege poda ni natoras tu anakhon na mandok: Unang ula hajahaton ate! Ulahon ma na denggan ate! Ndang songon i poda nasida. Alai na somal poda ni natoras tu anakna i ma: Ingkon halak napistar do ho ate! Ingkon halak nabisuk do ho! Sotung gabe halak na oto ho! Lapatan ni i, molo di halak Jahudi: Ingkon si oloio Debata do ho ate, ingkon habiaranmu do Debata asa gabe halak nabisuk ho. Sotung gabe si oloi si bolis ho. Sotung gabe halak naoto! Asa habisuhon ndada holan marpardomuan tu pingkiran manang hamaloon, alai dohot do tu haporseaon dohot pangoloion tu Debata. Suang songon i do nang haotoon, ndada holan nahurang dipingkiran, alai nahurang diharohaon do dohot haporseaon. Ala dang di tanda na oto Debata dohot lomo ni rohaNa.

Asa mansai bagas do lapatan ni hapistaran dohot habisuhon di bangso Jahudi. Ai ndada holan parbinotoan sambing i, alai dohot do panandaon tu Debata. Paboa halak napistar halak, sai na ulahonon ni i do lomo ni roha ni Debata. Alana, mantat pasupasu ni Debata do ganup ulaon nahombar tu lomo ni roha ni Debata. Molo napistar sadasada halak, dang olo i mambahen na hinasogohon ni roha ni Debata, ai ibana sandiri do na rugi disi. Alai anggo na oto, ndang dirohahon i dia lomo ni roha ni Debata jala dia na solomo ni rohana. Hape molo di ulahon na so lomo ni roha ni Debata, mangae ma ibana. Ai ndang tarpasupasu be ulaonna. Baliksa gabe uhum do na ro tu ibana.

I do umbahen di dok apostel Jakobus: “Ise hamu nabisuk jala na pantas marroha? Sian denggan ni parangena ma dipataridahon ibana angka ulaonna mar hitehite halambohon ni habisuhon i” (Jak 3:13). Ai habisuhon i sian ginjang do i, sian Debata. Mamboan dame dohot las ni roha do habisuhon i, ndada laho manusai jolma. Asa manang ise na mameop habisuhon na sian Debata, na bontor do i, na lambok, olo mardame jala siboan dame. Gok las ni roha do ibana, jala dibagasan dame ibana manabur angka hatigoran tu saluhut halak (Jak3:17-18).
Asa angka na pistar jala na bisuk do halak na porsea tu Debata. Alai angka na oto do jolma na so porsea tu Debata. Di buku Poda Raja Salomo didok songon on: “Sai eahi hapistaran, eahi ma tutu pangantusion; unang tung halupahon, jala unang tundali angka hata ni pamanganku” (Poda 4:5). “Tuhori ma hasintongan, jala unang gadishon hapistaran, pangajaran dohot roha hapantason” (Poda 23:23). “Parmulaan ni hapistaran on do: Tuhori hapistaran i, jala tuhorhon sandok na niomom tumuhor pangantusion” (Poda 4:7). Ima paboa na ringkot hapistaran i. “Ai umarga do hapistaran sian mutiha, jala saluhut mata intan ndang tarpatudos tusi” (Poda 8:11). Asa manang ise na mangeahi hapistaran, na mangalului habisuhon do i. Manang ise na manjalahi parbinotoan, na pahombarhombar tu lomo ni roha ni Debata do nasinangkapan ni rohana. Alani i sai unang ma adong na oto ianakhonta. Alai sai tubu ma anak na bisuk jala na pistar, na mambahen las roha ni amana dohot inana, suang songon i situan natorop. Jala gabe halomoan ni Debata ma nang ibana, antong!

09
Des
08

Rest In Peace (RIP) Ibunda Lae J. Tambunan

“Nunga loja au o Tuhan, di siulubalang ari

naeng tumibu au pajumpang, rap dohot Ho di Surgo i

Nunga Bot mataniari, lam jonok nang ajalhi

Nunga loja au oTuhan, radema baen ingananki”

Selepas ibadah minggu siang, handphone ketua TW6C berbunyi tanda sms masuk. Tercantum sms masuk dari J.Tambunan. ”Nunga jumolo be Oma nami, mohon doa semoga dosa-dosanya diampuni dan beroleh tempat di sisi kanan Tuhan.”, demikian bunyi sms Amang J. Tambunan (catatan : Amang J. Tambunan adalah personil Tenor TW6C). Sedih tentu menerima berita duka ini, baru seminggu kemarin perwakilan anggota TW6C pergi membesuk Ibunda Amang J. Tambunan yang sedang terbaring lemah menahan sakitnya yang begitu berat di rumah anaknya di daerah Tanah Kusir Jakarta Selatan.

Sudah lebih 3 bulan almarhum Ibunda Amang J.Tambunan terbaring lemah akibat penyakitnya. Penyakit yang sangat berat ”kanker” telah menggerogoti kesehatan Ibunda yang sangat dicintai oleh Amang J. Tambunan dan seluruh anggota keluarganya. Usaha keras sudah Mereka lakukan untuk mengobati penyakit Ibunda tercinta Mereka. Operasi pengangkatan sel tumor dilakukan ± 2 bulan yang lalu di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta Selatan. Sel tumor berhasil dioperasi/diangkat, tapi sel kanker sudah terlanjur menyebar (berdasarkan keterangan Amang J.Tambunan). Selepas operasi Ibunda Amang J. Tambunan dirawat intensif di rumah (kediaman saudara tertua Amang J. Tambunan di daerah Tanah Kusir) karena menurut dokter yang merawatnya selama di rumah sakit, akan lebih efektif apabila Ibunda Amang J. Tambunan dirawat intensif di rumah oleh keluarga agar perhatian seluruh keluarga bisa tercurah kepada Ibunda, dan Ibunda bisa lebih dekat dengan anak-anaknya. Memang benar, seluruh anggota keluarga dan sanak saudara Amang J. Tambunan berlomba-lomba memncurahkan perhatian mereka kepada Ibundanya dan mencari alternatif tambahan untuk mendukung pengobatannya. Tapi rencana manusia, bukan rencana Tuhan. Tuhan lah yang menjadi penentu dan Sang Empunya kehidupan setiap orang. Minggu tanggal 7 Desember 2008 pukul 11.00 WIB, Tuhan telah memanggil ke hadapan-Nya Ibunda tercinta Amang J.Tambunan.

Genap berusia 74 tahun Ibunda Amang J. Tambunan saat dipanggil Sang Pencipta Tuhan Kita Yesus Kristus ke hadapan-Nya. Meninggalkan 7 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan yang semuanya sudah berumah tangga. “Saur Matua”, ya… itulah kebanggaan anak-anak yang ditinggalkannya. Ibunda mereka telah berhasil mencapai tingkat tertinggi sebagai oarang tua dalam tatanan budaya batak. Saur Matua yang arti sederhananya berhasil menghantarkan anak-anak/keturunnya (selama hidupnya di dunia ini) menjadi pribadi2 yang mandiri dan mempunyai rumah tangga sendiri (marhasohotan/berumah tangga).

”Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Inang yang kita cintai, semoga Amang dan seluruh keluarga diberi kekuatan dan ketabahan oleh Tuhan Yesus Kristus!” kata ketua dalam balasan sms nya kepada Amang J.Tambunan. Selepas itu, ketua men-forward sms Amang J. Tambunan kepada seluruh anggota TW6C, agar seluruh anggota membawa dalam doa keluarga besar Amang J.Tambunan/Br. Manalu.

Hari Minggu 7 Desember s/d Selasa 9 Desember 2008 secara bergantian rombongan2 kecil anggota TW6C berangkat melayat ke kediaman keluarga Amang J.Tambunan di Tanah Kusir. Ada yang bergabung dengan rombongan parsahutaon dos roha Puri Harapan maupun dengan rombongan punguan marganya. Hari selasa sore ± pukul 15.00 WIB Ketua (& Ny. Ketua) dan sekretaris (& Ny. Sekretaris) TW6C pergi melayat sebagai perwakilan TW6C.

Infomasi yang diterima TW6C dari keluarga Amang J. Tambunan, Almarhum Ibunda Amang J. Tambunan akan disemayamkan sampai dengan hari selasa tanggal 9 Desember 2008 di rumah Abang/ Kakak laki2 dari Amang J. Tambunan yang berada di Tanah Kusir, dan rencana keluarga hari Rabu tanggal 10 Desember 2008 pukul 04.00 WIB, Almarhum Ibunda Amang J. Tambunan akan dibawa ke kampung halaman (bona pasogit) untuk dimakamkan.

04
Des
08

Ada Mie Goreng di Rumah Amang Sekretaris

Sekretaris_n'_NyosekRabu 3 Desember 2008, Rumah Kel. H.P.T. Purba / Br. Simamora

Entah kenapa pikiran dan bayangan tentang mie goreng begitu terasa dalam latihan rutin TW6C tadi malam di rumah sekretaris TW6C (Amang H.P.T.Purba/Br. Simamora). Apakah karena anggota terbawa postingan catatan harian latihan di Rumah Amang St.B.Manullang beberapa hari yang lalu (“Cerita Mie Goreng yang tak jadi…”). Setiap ketemu nada mi (3) pasti pada dikeras-kerasin suaranya, mancing perhatian tuan rumah atau apa gak ngerti juga. Apalagi Amang L.Sagala ( si Raja Ngocol se TW6C), biarpun nada mi (3) cuma satu (3), tapi biar tamba rame pikrnya ditambahinya dua titik (3 . .) biar panjang mi – nya katanya pula (dasar Lu..). “Wah… bagimana jadinya ini nanti, kalau snack ramah tamah yang disediakan tuan rumah bukan mie goreng?” pikir ketua dalam hatinya. Bisa-bisa makin “tarhirim” (ngidam/pengen) nanti para anggota TW6C.

Mie Goreng itu akhirnya ada juga, usai latihan Inang Ny. H.P.T.Purba Br. Simamora sudah langsung bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan ramah tamahnya dibantu ibu-ibu anggota TW6C yang berdomisili di Villa Mutiara Gading (nilai plus dari Ibu2 yang dari VMG, rajin2 kali marhobas bah..). Tak lama kemudian dihadapan masing-masing anggota sudah tersaji piring2 penuh dengan Mie Hun Goreng daging B2. Mantaff dan sedaaap… “Yang Lae bacanya cerita mie goreng yang tak jadi di blog’s kita itu?” tanya ketua sama Amang Purba (ketua teringat tanggapan yang disampaikan Amang Lubis Junior di blog’s TW6C). “Tidak Lae, sory sibuk terus jadi gak sempat aku buka internet” kata Amang H.P.Purba. Berarti “gayung bersambut” atau “cinta tidak bertepuk sebelah tangan”. Keinginan anggota TW6C menyantap mie goreng disambut keluarga tuan rumah Amang H.P.Purba / Br. Simamora malam itu.

Banyak lagi cerita-cerita bahagia dalam latihan tadi malam. Guru/Dirigent TW6C Amang E.Silitonga yang datang agak terlambat disambut dengan salaman ucapan : ”Selamat atas kelahiran Putri ke-2-nya” oleh seluruh anggota TW6C yang hadir pada malam itu. “Terima kasih, maaf saya telat, nyari warung padang dulu, soalnya nyonya rumah masih diwawat, tidak ada yang masak makanan di rumah .” Kata Amang E. Silitonga. Tek-tek an untuk partisipasi TW6C mendukung dana Natal Gabungan Ama-Ina HKBP Pejuang 2008 juga terkumpul cukup banyak. “Saya yakin, dengan pertolongan Tuhan Kita Yesus Kristus, dalam 4 kali latihan lagi, partisipasi punguan kita sebesar Rp. 500.000,- untuk Natal Gabungan Ama-Ina pasti terkumpul.” Kata ketua.

Dalam pengumuman-pengumuman malam itu juga disampaikan ketua bahwa TW6C mendapat undangan dari Panitia Natal Parsahutaon Dos Roha Puri Harapan untuk hadir sebagai tamu menyumbangkan lagu-lagu pujian pada Perayaan Natal Parsahutaon Dos Roha Puri Harapan pada hari sabtu 13 Desember 2008. Anggota menyambut dengan antusias. “Lagu Mari Sukacita ini saja nanti kita bawakan dalam acara itu.” Kata beberapa anggota (catatan : tadi malam TW6C berlatih Lagu Natal ”Mari Sukacita Lah” karya Drs. Bonar Gultom/Gorga).

Latihan pun selesai tepat pukul 22.30 WIB, dengan pesan kepada seluruh anggota bahwa latihan ruti hari Rabu malam akan dilaksankan di rumah keluarga Amang St.M.T.Napitupulu / Br. Situmeang di Perumahan Villa Mutiara Gading. Acara ditutup dengan doa yang dibawakan oleh Amang St. J.H. Parhusip.

03
Des
08

Anak Ke-2 Guru Kami (Cucu ke-3 Ny. Sitohang Br. Sihotang & Berenya Ketua) Lahir…

Kita telah memasuki Masa-masa Adven:
mari menyatukan hati
dengan semua yang sedang menanti-nantikan Tuhan:
menanti-nantikan jawaban doanya,
menanti-nantikan kesembuhannya,
menanti-nantikan kehadiran anak buah cintanya,
menanti-nantikan bertemu dengan pasangan hidupnya,
menanti-nantikan pemulihan rumah tangganya,
menanti-nantikan panen dan buah hasil usahanya…….

Ya mari kita berdoa dalam keheningan,
dengan semua yang merintih dan menangis
dan berjuang agar tidak kehilangan pengharapan……

Marilah kita berdoa: Ya Tuhan, datanglah!

(Sajak : “Ya Tuhan, Datanglah ¡” Oleh Pdt. DTA.Harahap http://www.Rumametmet.com)

foto2804

Setelah sembilan bulan bertumbuh dalam kandungan ibunya, Senin 1 Desember 2008 Pukul 12.00 WIB melalui operasi cesar yang berlangsung dengan lancar (lebih kurang 1 Jam) di Rumah Sakit Seto Hasbadi Seroja Bekasi, anak ke-2 Guru Koor (Dirigent) TW6C lahir ke dunia. Perempuan dengan berat badan 3,5 Kg dan tinggi 50 Cm, berarti komplit sudah sepasang. Anaknya yang pertama laki-laki Benjamin (Beny) Silitonga namanya sekarang sudah berumur 2 tahun 6 bulan. Puji Tuhan atas berkat dan penyertaan-Nya, Inang Ny. E. Silitonga Br. Sitohang (Istri guru kami) dan bayinya yang baru lahir dalam keadaan sehat.

Sukacita besar ada dalam keluarga besar TW6C terutama keluarga besar guru kami saat ini dengan kehadiran anak keduanya ke dunia, bertambah lagi calon2 penyanyi generasi baru TW6C. Kesibukan sudah mulai terasa sehari menjelang hari operasi cesar. Minggu 30 Nopember 2008 pukul 20.00 WIB dalam suasana hujan rintik-rintik, diantar oleh Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang (mertua Guru kami; Inang Pangintubu ketua kami), Ketua TW6C dan Inang Ny. E.Sitohang Br. Manurung (Istri Ketua) berangkat lah Inang Ny. E.Silitonga Br. Sitohang naik mobil kijang ketua menuju rumah sakit Seto Hasbadi. Guru Kami menyusul dari belakang dengan mengendarai motornya. Sampai di rumah sakit pukul 20.30 WIB. Berdasarkan informasi dokter yang akan menangani operasi cesar Inang Nyonya Ketua kami, operasi dapat dilakukan keesokan harinya sekitar pukul 10.00 WIB. Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang, Ketua dan Nyonya Ketua pulang duluan. Guru kami dan Istrinya masih harus menunggu tes darah oleh dokter, kemudian mendaftar untuk mendapat ruang kamar untuk opname malam itu dan pemulihan setelah operasi. Baru saja tiba di rumah Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang, datang telepon dari Inang nyonya guru memberitahu bahwa tes darah sudah selesai dilaksanakan dan kamar untuk rawat inap sudah didapatkan di ruang Nusa Indah 3 Rumah Sakit Seto Hasbadi. Informasi dari guru kami, Inang Nyonya guru akan dirawat disana sampai hari kamis tanggal 4 Desember 2008.

Selamat berbahagia lah buat guru dan Inang Nyonya guru kami atas kelahiran putri keduanya. Semoga dengan kelahiran putrinya, guru kami semakin semangat mengajar dan melatih The Wijk 6 Choir. Harapan kami TW6C dan harapan kita semua semoga si Butet yang baru lahir dapat bertumbuh dengan sehat, menjadi anak kebanggaan yang patuh terhadap orang tua, anak yang berguna bagi masyarakat dan anak yang takut akan Tuhan. Bona ni ari ara pinangait ngaithon, nunga tubu di guru nami boru na uli na lagu, sai simbur magodang ma ibana sitongka panahit-nahitan”

Selamat juga buat Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang (Oppung ni si Benjamin) atas kelahiran cucunya yang ke 3, tambah ”bilang-bilang” (banyak) nya cucu Inang, semoga samakin berbahagia Inang dan semakin panjang umur.

Tak lupa juga buat Ketua TW6C Amang E. Sitohang dan Nyonya, selamat atas kelahiran berenya, semoga Tuhan mendengar doa-doa kita semua, Amang dan Inang segera diberi Keturunan. Jangan lelah berdoa dan berpengharapan kepada Tuhan… Amin

13
Nov
08

Lae Munthe Berlabuh…. The Wijk 6 Choir Berseri Lagi

lae_munthe

Rabu 12 Nopember 2008, Rumah Kel. H.Munthe / Br. Silalahi

Lae Munthe berlabuh kembali. Setelah lebih kurang 7 bulan menunaikan pekerjaannya sebagai anak buah kapal Cargo di Perairan Indonesia. Sukacita ada di hatinya. Lama sudah dia memendam kerinduan pada keluarga dan saudara2-nya anggota The Wijk 6 Choir. Setback sedikit, Lae Munthe adalah anggota suara Bass The Wijk 6 Choir, karena tugas pekerjaan yang didapatkannya harus meninggalkan keluarganya dan The Wijk 6 Choir mulai berlayar pada bulan April2008.

Momen latihan koor rutin The Wijk 6 Choir setiap hari rabu dimanfaatkan untuk menjamu dan melepas rindu pada punguan (perkumpulan). Bertepatan dalam minggu ini (kamis 13 Nopember 2008) si buah hati tercintanya (borunya) Silvi Maria Margaretha br. Munthe berulang tahun yang ke-5.

Puji Tuhan atas kuasa-Nya, The Wijk 6 Choir yang pada latihan minggu lalu dicobai dengan permasalahan/perselisihan kecil berseri kembali. Banyak yang hadir, Sopran 7 orang, Alto 6 orang, Tenor 5 orang dan Bas 6 orang. Total 24 orang + 1 direjen. Suasana sukacita begitu terasa di setiap anggota. Ritual bersalaman dan berpelukan dilakukan untuk melepas rindu dengan Lae Munthe. Dirijen koor dan Ketua/pengurus The Wijk 6 Choir yang masih terasa agak kaku. Tapi terlihat usaha Ketua untuk menjalin kembali suasana berbaikan. Sapaan Ketua kepada dirijen mencairkan suasana kaku itu.

Acara pun dimulai, dibuka dengan Doa oleh Ketua, dilanjutkan Pembacaan Firman oleh Amang St.B.Manullang sekalian doa makan. Lapar pasti sudah dirasakan oleh setiap anggota (yang tidak lapar, pasti yang tak biasa nahan lapar sampai jam 20.30, jadi makan dulu di rumahnya), bagimana tidak soso-soso yang disampaikan Sekretaris Punguan Lae H.Purba “asa unang pola mangan sian jabu” (jangan makan dari rumah) disambut antusias oleh semua anggota. Menu Babi Kecap, Gulai Bebek, Ikan Mas Arsik dan Lalapan Pete semakin menanmbah rasa lapar setiap anggota yang hadir. Piring penuh dengan nasi dan lauk ada di tangan hampir setiap anggota yang dengan lahap menyantap makanannya, yang sudah sempat makan di rumah rada2 menyesal juga jadi kurang banyak porsi makanan yang disendok ke piringnya (takut kegemukan).

Usai mardaun pogu (makan bersama), acara dilanjutkan dengan latihan kor. Sumber perdebatan pada latihan pada minggu yang lalu mengenai jadwal tampil untuk melayani/bernyanyi di gereja diluruskan oleh Dirijen dan Amang Sintua bahwa minggu ke-4 sebagai jadwal Rutin The Wijk 6 Choir melayani bertepatan dengan minggu jujur taon parhuriaon. Lagu ”Sipata Sai Sungkun-Sungkun” dipilih Dirijen untuk dibawakan oleh The Wijk 6 Choir dengan pertimbangan jadwal latihan (pemantapan) tingal 2 kali saja.

Acara latihan berlangsung dengan baik. Karena lagu yang dipilih adalah lagu yang sudah pernah di bawakan The Wijk 6 Choir pada pelayanan2 sebelumnya jadi sudah cukup familier di ingatan masing2 anggota. Pukul 22.30 latihan berakhir dengan pengumuman dari sekretrais bahwa latihan minggu depan hari rabu malam tanggal 19 Nopember 2008 akan dilaksankan di rumah Kel. Ny. S.P.Tambunan Br. Simanungkalit dan doa penutup yang dibawakan oleh Amang sekretaris H. Purba.

15
Mei
12

KETUA BARU KOOR WIJK 6 HKBP PEJUANG

Minggu, 13 Mei 2012 Peternakan Lele Kel. J. Togatorop/ Br. Sianturi

Akhirnya setelah eksis melayani selama lebih kurang  7 tahun (tahun 2005 sd. 2012) The Wijk 6 Choir (TW6C) melaksanakan acara pemilihan pengurus baru. Bertempat di kolam peternakan lele Kel. J. Togatorop/ Br. Sianturi acara pemilihan pengurus baru tersebut dilaksanakan.

Acara ini sudah cukup lama direncanakan, namun karena berbenturan dengan kegiatan2 bona taon keluarga anggota dan jadwal kegiatan2 Gereja HKBP Pejuang sehingga tertunda sampai akhirnya disepakati pada Hari Minggu tanggal 13 Mei 2012 acara tersebut bisa dilaksanakan.

Acara ini diagendakan berawal dari suasana latihan TW6C setiap Rabu yang dari minggu ke minggu dan bulan ke bulan semakin sepi, banyak anggota2 yang sudah lama tidak hadir latihan. Yang kedua karena Ketua TW6C yang lama (Amang E. Sitohang) mendapat beasiswa tugas belajar mengambil program magister dari Instansi tempatnya bekerja, sehingga kemungkinan akan banyak waktu dan pikirannya tersita dalam perkuliahannya nanti.

Dengan dipanitiai oleh guru koor TW6C sendiri (Amang E.S. Silitonga), dilaksanakan lah acara tersebut dengan judul yang tertera pada undangan yang disampaikan kepada anggota TW6C (yang aktif maupun yang sudah lamam non aktif) dan ruas wijk 6 HKBP Pejuang “Penyegaran Rohan dan Pemilihan Pengurus Baru Punguan Koor Wijk 6 HKBP Pejuang”.

Jadwal acara nya dimulai dari Pukul 06.00 WIB dengan kebaktian bersama  di Gereja HKBP Pejuang seraya menyanyikan lagu Pujian “Bapa Kami” Karya : Drs. Bonar Gultom (GORGA), sepulang dari acara kebaktian, TW6C berangkat ke Peternakan Lele Kel. J. Togatorop/Br. Sianturi. Sambil menunggu datangnya makanan yang disiapkan oleh Ny. Sinurat Br. Tumanggor (Ayam Pinadar dan Sayur Tauco Terong Medan), Amang H. Silitonga dan Kel HPT. Purba (RW-Kung Rica-Rica dan Nasi), beberapa anggota bersama2 dengan Kel. Amang J. Togatorop menyiapkan tempat pelaksanaan acara.

Satu demi satu anggota dan undangan TW6C berdatangan dan tepat pkl 10.00 WIB acara dimulai dibuka dalam doa oleh Amang St. B. Manullang. Dilanjutkan pembahasan2 program2 TW6C yang telah dilaksanakan dan yang akan dilaksanakan. Terjadi perdebatan2 kecil antara sesama anggota maupun anggota TW6C dengan Parhalado/Sintua Wijk 6, namun pada akhirnya dapat diputuskan kesepahaman bersama demi kemajuan dan eksistensi pelayanan TW6C ke depannya.

Tepat pukul 11.00 WIB acara pemilihan pengurus baru TW6C dimulai, dikomandoi oleh Dewan Formatur yang dipimpin Amang Yeffry Nelson Panjaitan dan jajarannya Amang L. Sagala dan Amang St. JH. Parhusip. Acara pemilihan berlangsung cukup meriah dan santai diiringi canda dan banyolan dari ketua dewan formatur. Kandidat yang terpilih setelah melalui “Penjaringan, Pertukangan, Pedongkelan dan Penjagalan” (He… He… salah satu banyolan ketua panitia formatur) oleh Dewan formatur adalah :

  1. Amang R. Simanjuntak / Br. Saragih
  2. Amang J. Togatorop / Br. Sianturi
  3. Amang L.J. Sihombing / Br. Silalahi
  4. Amang M. Situmorang / Br. Siagian
  5. Amang H. Silitonga / Br. Sihombing
  6. Amang H.P.T. Purba / Br. Simamora

Setelah dilakukan pencoblosan oleh setiap anggota dan undangan (berjumlah 30 orang), maka Kandidat yang mendapat jumlah suara terbanyak adalah Amang J. Togatorop/Br. Sianturi dengan jumlah orang yang memilih 22 orang, yang kedua adalah Amang M. Situmorang/Br Siagian dengan jumlah orang yang memilih 5 orang, yang ketiga Amang H.P.T. Purba/Br. Simamora dengan jumlah orang yang memilih 2 orang dan yang keempat Amang L.J. Sihombing/Br. Silalahi dengan jumlah orang yang memilih 1 orang.  Sementara Amang R. Simanjuntak/Br. Saragih dan Amang H. Silitonga/Br. Sihombing tidak mendapat suara.

Berdasarkan peraturan yang dibuat oleh Dewan Formatur, yang mendapat suara terbanyak menjadi Ketua TW6C dan posisi suara terbanyak kedua menjadi Sekretaris TW6C. Namun sebelum ditetapkan oleh Dewan Formatur , Amang M. Situmorang pemilik suara terbanyak kedua, memohon agar sekretaris yang seharusnya adalaah beliau diserahkan kepada Amang HPT. Purba. Karena Amang HPT. Purba tidak keberatan maka Dewan Formatur menetapkan Amang J. Togatorop/Br. Sianturi menjadi Ketu Baru TW6C (Pinguan Koor Wijk 6) dan Amang H.P.T. Purba/Br. Simamora sebagai Sekretaris TW6C, sementara Bendahara belum dilaksanakan pemilihan berhubung Bendahara yang lama Inang Ny. S.Simanjuntak Br. Napitu sedang Tour Wisata Rohani ke Bona Pasogit bersama Punguan Parompuan HKBP Pejuang.

Dalam kata sambutannya yang pertama sebagai Ketua TW6C, Amang J. Togatorop menyampaikan, beliau sebenarnya merasa agak berat menerima kepengurusan ini, dikarenakan kesibukan beliau. Namun beliau berharap agar setiap anggota dan pengurus yang lama mendukung dan membantu beliau melaksanakan tugas nya sebaga Ketua TW6C yang baru. Tak lupa beliau menyampaikan terima kasih kepada Ketua TW6C yang lama seraya berdoa agar berkat2 Tuhan semakin ditambahi bagi kehidupan kel. Ketua lama dan seluruh anggota. Selesai mengucapkan kata sambutan, seluruh anggota TW6C dan undangan bertepuk tangan dan menyalami Amang J. Togatorop dan Inang Ny. Togatorop br. Sianturi seraya mengucapkan selamat.

Acara terkahir adalah makan bersama dan acara bebas/santai sambil bernyanyi diiringi keyboard. Satu persatu, anggota pulang dan berakhirlah acara tersebut pada pukul 16.30 WIB. Akhir kata segenap admin TW6C Diary mengucapkan Selamat atas terpulihnya Amang J. Togatorop/br. Sianturi sebagai Ketua TW6C dan Amang H.P.T. Purba/Br. Simamora yang dipilih kembali menjadi Sekretaris TW6C, dan buat Ketua lama TW6C Aman E. Sitohang/Br. Manurung selamat menempuh Pendidikan dan semoga berhasil meraih gelar Masternya sesuai dengan waktu yang ditetapkan. (ETS)

01
Agu
11

Gabriel Alvaro Tumpal Hasiholan Sitohang (The Gift from Heaven)

Oleh : Efrael Sitohang (Ama ni Gabriel)

Segala sesuatu adalah berasal dari Tuhan, dan Dia yang memberi segala sesuatu yang kita minta dalam Doa-Doa kepadanya menurut waktu yang telah ditentukan-Nya. Semua adalah oleh karena Anugerah-Nya, diberikan-Nya kepada kita. Bersyukur jika kita diberi kesempatan menerima Anugerah tersebut dan senantiasa bersabar dan berpengharapan kepada-Nya jika masih diberikan bagi kita waktu untuk menanti.

Terimah kasih Tuhan… akhirnya Anugerah_Mu yang besar itu telah Engkau titipkan di tengah2 keluarga kami. Telah lahir Anak Pertama kami pada hari Sabtu tanggal 25 Juni 2011 Pukul 07.45 melalui operasi Caesar di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Barat, seorang Anak laki-laki yang sehat dengan panjang 46 Cm dan berat 2,9 Kg.

Terima kasih Tuhan, karena Engkau senantiasa mengiringi langkah kami sebagai suami-istri selama 7 tahun masa pengharapan/penantian kami. Kami bisa memiliki keluarga, sahabat-sahabat yang Engkau pilihkan dan utus untuk  mendukung kami agar tetap setia dalam Rumah Tangga kami yang utuh sehingga kami tidak mengalami suatu kendala yang besar dalam masa penantian itu, kami bisa menikmati masa2 itu dengan terus berupaya, berdoa dan berpangharapan kepada-Mu.

Terima kasih Untuk Saudara-Saudara yang Engkau utus menunjukan tempat sebagai saluran berkatmu terjadi dalam keluarga kami sehingga kami bisa mendapatkan program pengobatan yang mendukung terjadinya Anugerah itu di dalam keluarga kami.

Terima kasih untuk Para Dokter2 dan Paramedis yang engkau tunjukan bagi kami untuk membantu dan memberikan ketenangan bagi kami dalam masa2 program pengobatan dan proses kehamilan hingga lahirnya Anugerah_Mu yang besar itu.

Terima kasih Tuhan… Terima Kasih… Engkau telah memberikan Hadiah, Anegarah dan berkat_Mu yang besar itu dari Sorga. Kiranya, ajar dan tuntun kami agar menjadi Orang tua yang benar, Orang Tua yang Baik, dan Orang tua yang mampu menjaga, membesarkan, mendidik anak itu, Anugerah_Mu itu dengan baik. Sehingga kelak Ia bisa bertumbuh sehat, menjadi besar, menjadi anak yang patuh pada orang tuanya, anak yang baik dan berguna di tengah2 masyarakat bangsa dan negara serta yang terutama menjadi anak yang Cinta kepada_Mu Tuhan nya.

Ijinkan kami memberikan nama buat Anugerhmu dari sorga itu, Nama yang kami berikan kepadanya adalah Gabriel Alvaro Tumpal Hasiholan Sitohang. Gabriel artinya malaikat sebagai anugerhmu yang besar bagi kami malaikat_Mu yang senantiasa mengandalkan Tuhan sebagai kekuatannya dalam hidupnya, Alvaro artinya Bijaksana dan penjaga yang baik agar kelak Ia menjadi orang yang bijaksana dalam kehidupannya di tengah keluarag dan masyarakat dan penjaga keutuhan keluarga, Tumpal Hasiholan diberi oppung borunya Tuhan artinya Anugerah_Mu itu adalah Mahkota Kerinduan kami selama ini yang telah Engkau anugerhkan di tengah keluarga kami. Kiranya engkau memberkati nama itu Tuhan menjadi nama yang sesuai  baginya dan berkenan di Hadapan_Mu.

Tak lupa kami memohon kepada Mu Tuhan yang Maha Baik, masih ada saudara2 kami yang masih menanti dan berpengharapan agar Anugerh-Mu itu Engkau titpkan juga kepada mereka. Saudara2 kami itu juga Tuhan senantiasa mendukung kami dalam doa, bersama-sama dengan kami berupaya mencari pengobatan sebagai sarana saluran Anugerah-Mu. Mereka adalah orang2 baik Tuhan, orang2 setia mengikut_Mu. Tunjukan ya Tuhan Kuasa-Mu, seperti Engkau telah tunjukan dalam Keluarga kami, Kami mohon berikanlah juga  kepada Saudara2 kami itu. Terima Kasih Tuhan….

25
Mei
11

Tragedi Minggu Pagi (Kel. St. B. Manullang dalam Pencobaan)

Minggu pagi 22 Maei 2011 Amang Sintua B. Manullang dan Istrinya berdiri di depan gereja HKBP Pejuang menunggu kedatangan 4 putri kesayangannya yang hendak ber-sekolah minggu pagi hari itu. Sudah lebih dari 20 menit sejak di sms putri pertamanya Grace br. Manullang bahwa mereka sudah berangkat menuju Gereja HKBP Pejuang. Menit-menit berlalu sudah mendekati setengah jam tapi ke-4 Putri kesayangnnya belum juga sampai di gereja. Amang St. B. Manullang dan Inang itu mulai panik, dicoba menelepon ke rumah kata anak laki-lakinya si Bobby, kakak dan adik2nya sudah berangkat dari tadi, dicoba lagi menghubungi Hp si Grace putrinya, tapi tidak diangkat.

Akhirnya penantian itu pun berujung, seorang dengan sepeda motor menghampiri Amang St. B. Manullang seraya bertanya : “Amang Manullang ya?” katanya,  “Iya” dijawab oleh Amang St. B. Manullang. “Gak usah terlalu kaget Amang ya, putri Amang tadi kecelakaan di perempatan jalan Taman Harapan Baru dekat kolam renag”. kata orang itu. Meledaklah tangis sendu Inang Ny. St. B. Manullang mendengar berita itu…. dibayangkannya yang tidak2 sudah terjadi kepada ke-4 putri kesayangnnya itu. Orang yang membawa berita tersebut kemudaian berusaha mengurangi kekawatiran Amang St. B. Manullang dan Inang itu seraya berkata : “Udah.. gak apa2 kok, Putri Bapak sudah di bawa ke RS. Citra Harapan”.

Dengan perasaan hati yang campur aduk oleh kesedihan dan kekuatiran, Amang St. B. Manullang dan Inang bergegas menuju RS. Citra Harpan. Sesampainya di sana didapatinya Putri pertamanya Grace dan Putri keduanya Icha sudah berbaring di tempat tidur UGD RS.Citra Harapan sambil menangis kesakitan, rupanya  kedua putrinya ini mengalami patah dan retak pada tulang kakinya. Setelah melihat keadaan putri pertama dan putri keduanya, Amang St. B. Manullang kemudian menanyakan keberadaan 2 putrinya lagi. Orang2 yang menolong yang masih berada di RS tersebut mengatakan sudah diamankan. Kembali pikiran yang tidak2 memenuhi otak dan hati Amang St. B. Manullang, “berarti putri ketiganya Tessa dan Putri keempatnya gladys lebih parah keadaannya” katanya dalam hati. “Diamankan bagaimananya maksudnya” tanya Amang St. B. Manullang memperjelas maksud omongan orang2 tersebut. Tak lama sambil menangis putri ketiganya Tessa menghambur  ke pelukan Amang St. B. Manullang dan Putri keempatnya Gladys di gendong orang yang menolong dibawa kepada Amang St. B. Manullang. Syukurlah kedua putrinya yang paling kecil itu tidak terlalu parah keadaannya, hanya terdapat luka lecet dan membiru di kaki putri keempatnya Gladys.

Setelah keadaan hati semakin tenang, Amang St. B. Manullang menanyakan bagaimana kronologis terjadinya kecelakaan tersebut, dan oleh orang2 yang melihat kejadiannya diceritakanlah. Rupanya kecelakaan tersebut terjadi ketika ke-4 putrinya melalui perempatan jalan SD Bezalel menuju kolam renang THB, sekonyong2 ada seorang Bapak bersama pemandunya sedang belajar menyetir mobil. Karena panik si Bapak tersebut yang bermaksud menginjak rem mobil, ternyata malah menginjak pedal gas,  sehingga mobil tersebut menabrak ke-4 putri Amang St.B. Manullang secara telak dari arah samping. Bahkan motor yang di kendarai oleh ke-4 putri Amang St. B. Manullang  terseret  sampai 1 meter. Yang paling menghawatirkan lagi, putrinya yang paling kecil Gladys berusia 2 tahun sempat terperosok ke kolong mobil tersebut. Untunglah tidak terjadi apa2 cuma bengkak membiru di kaki kirinya.

Dengan perasaan menyesal teramat dalam si Bapak yang menabrak ke-4 putri Amang St. B. Manullang (yang memang terus mendampingi ke-4 putri Amang St. B. Manullang sampai ke RS) meminta maaf dan mengatakan akan bertanggung jawab sepenuhnya membiayai pengobatan ke-4 putri Amang St. B. Manullang sampai sembuh dan mengganti kerusakan motor yang dikendarai ke-4 putrinya tersebut. Setelah membuat beberapa pertimbangan Pengobatan patah dan retak tulang kaki kedua putri Amang St. B. Manullang dilanjutkan di Klinik Patah Tulang Surbakti Pulo Gebang.

Pada hari Selasa 24 Mei 2011 saat pengurus TW6C membesuk Kel. St. B. Manullang ke klinik tersebut, keadaan kedua putri Amang St. B. Manullang sudah agak membaik. Kaki putri pertamanya Grace dan Putri keduanya Icha sudah digips dan dibalut perban, dan sakitnya sudah mulai hilang kata mereka. Berdasarkan informasi dari ahli patah tulang di klinik tersebut, pengobatan keduan putrinya akan memakan waktu lebih kurang 28 hari sampai sembuh. Melihat keadaan tersebut, Amang St. B. Manullang menyewa 1 kamar untuk kedua putrinya di klinik tersebut dan merekapun rencananya akan menemani kedua putrinya sampai sembuh di sana.

Pada saat “mangampu” (menjawab) kata2 penghiburan yang disampaiakan oleh pengurus TW6C, Amang St. B. Manullang menganggap kejadian tersebut adalah pencobaan bagi keluarganya, semuanya adalah rencana Tuhan yang akan mebawa kabaikan dan mempertebal keimanan keluarganya. Bahwa rencana Tuhan adalah rencana Damai sejahterah yang membawa kebaikan bagi umatnya bukan rencana kecelakaan, sambil beliau berlogika mengatakan : “Putri saya mau ‘Mar-minggu’ kok ke gereja bukan mau berbuat jahat, pasti semua ini sudah dalam rencana Tuhan buat keluarga saya”.

Amin… Punguan Koor Wijk 6 / TW6C juga mendoakan semoga Grace, Icha, Tessa dan Gladys cepat sembuh dan keluarga Amang St. B. Manullang diberikan kekuatan dan ketabahan menjalani pencobaan ini. (ETS)




Radio Online

Waktu Hari ini :

performing arts
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter performing arts
free counter

BeasiswA n’ Lowongan Kerja

Info Beasiswa D1 D3 S1 S2

Blog Stats

  • 19,550 hits

IP-Ku

My Popularity (by popuri.us)
April 2014
S S R K J S M
« Agu    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Info Geotoolbar

performing arts
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter performing arts
free counter

Nilai Blog’s TW6C

free counters

Peta Lokasi Pengunjung :


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.