Sabtu, 22 Agustus 2009 (Latihan Pemantapan di rumah Kel. L. Sagala / Br. Gultom)
Songgot-songgot yang dalam bahasa Indonesianya bisa diartikan sebagai kejutan2 atau spontanitas ternyata diperlukan untuk menghidupkan semangat yang mulai luntur. Dan songgot2 ini tanpa rencana (sepertinya ini rencana Tuhan) terlaksana dalam latihan pementapan di rumah Kel. L. Sagala / br. Gultom (personil Tenor dan Sopran TW6C) Cluster Aralia Blok HY 25 No. 5 Harapan Indah II hari Sabtu tanggal 22 Agustus 2009.
Berawal dari kegalauan hati pengurus dan anggota TW6C pada latihan hari Rabu tanggal 19 Agustus 2009 di gereja HKBP pejuang yang menunggu sampai pukul 21.30 WIB baru dapat tempat latihan (selama bulan Ramadhan dijadwal latihan di Gereja HKBP Pejuang oleh pengurus), padahal hari Minggu tanggal 23 Agustus 2009 dalam acara kebaktian ke-2 pukul 10.00 WIB, TW6C akan tampil dalam pelayanan sesuai dengan jadwal yang telah diatur oleh Parhalado HKBP Pejuang. Malam itu ada 3 kelompok paduan suara yang latihan, paduan suara Wijk-3 (yang memang sudah rutin melaksanakan latihan gereja), paduan suara N-HKBP Pejuang (yang berlatih untuk persiapan mereka melayani dalam acara partumpolon salah satu anggota mereka) dan TW6C. Kehadiran paduan suara N-HKBP yang tidak diduga akan latihan malam itu (yang biasanya latihan koor tiap Sabtu malam) mengagetkan TW6C. Ditambah pula kedatangan anggota TW6C yang kebiasaan ngaret alias terlambat menyebabkan TW6C tidak dapat tempat latihan (ruang yang bisa dipakai latihan hanya 2 yaitu ruang gereja dan konsistori). “Gak benar lagi ini” kata ketua TW6C dalam hatinya, ditambah lagi pertanyaan anggota TW6C pada pengurus “dimanalah kita latihan pemantapan hari Sabtu?”. “Ku telepon dulu Lae Sagala, siapa tau bersedia menerima kita latihan pemantapan di rumahnya” kata ketua memberi solusi. Kel. Sagala kebetulan belum datang malam itu. Puji Tuhan, ternyata mereka setuju, dan memberitahukan mereka akan segera datang ke gereja latihan.
Akhirnya TW6C bisa latihan malam itu. Paduan suara Wijk-3 selesai latihan pukul 21.30 dan tempat mereka langsung dimasuki oleh TW6C. Waktu 30 menit dimanfaatkan guru koor (Lae E. Silitonga) dengan baik memoles lagu akan dibawakan pada hari minggu. Usai latihan dilanjutkan dengan pengumuman2 dari pengurus. Sebelum acara ditutup, datang songgot2 (kejutan) dari Kel. L. Sagala/ Br. Gultom. “Pa… gimana?” kata Inang Ny. Sagala br. Gultom. ”Ya udah… kamulah yang bilang!” kata Lae L. Sagala menimpali pertanyaan istrinya. ”Ada apa rupanya Ito” pukas ketua TW6C. Kemudian Inang Ny. Sagala br. Gultom menyampaikan niatnya ingin menjamu TW6C makan malam dalam latihan pemantapan di rumahnya. ”Tapi kalau boleh pukul 18.30 WIB lah kita mulai ya, supaya, sempat kita makan malam dulu” kata Inang itu. Undangan ini disambut semua anggota TW6C dengan senyum berbinar…. ”Wah… terima kasih bangat2 lah buat Lae dan Ito” kata ketua TW6C menjawab undangan itu.
Benar2 songgot yang bermakna. Walau belum semua anggota TW6C hadir, namun acara pemantapan hari Sabtu malam tanggal 22 Agustus 2009 berlangsung meriah. Makan malamnya nikmat, enak semua menunya… ada Ayam kecap, Udang sambal merah dan Gurame goreng sambal kecap plus Sayur lalapan. ”Masakan Nyonya semua itu Lae”... kata Amang L. Sagala kepada teman2nya bapak2 TW6C saat menyantap makanan malam itu. Usai acara makan dilanjut dengan latihan pemantapan. Lagu ”Marparange Na Denggan Ma” kembali dilatih dan dipoles dengan serius oleh guru koor TW6C. Pukul 21.30 WIB lagu yang dipersiapkan sudah mantap dilatih, musik piano yang dibawakan ”Si CantiK” Esra pun sudah klop dengan lagu dan dirasa oleh guru koor sudah siap untuk dibawakan dalam pelayanan besoknya di gereja.
Ternyata acara tidak cukup sampai disitu. “Nyanyi2 aja kita, kan ada keyboard”…kata Amang L. Sagala. Disambut antusias anggota TW6C terutama ibu2nya. Mereka asyik berjoged diringi alunan keyboard yang dibawakan oleh Amang R. Sinambela. Rasanya semua joged dibawakan oleh ibu2, tak ada yang terlewatkan mulai joged poco2, dangdut, chaca, sajojo,dan waltz semua bisa. Gak ada sungkan dan ragu. Para Bapak2-nya sekali-sekali nimbrung menyanyi lagu kesukaannnya. Sampai pukul 23.00 WIB baru pada puas jogednya.
Sebelum acara ditutup, amang L. Sagala berujar “Kayaknya sudah pada rindu semua ya, acara nyanyi2 dan joged… segera lah Lae acara perlombaan nyanyi nya diadakan”. Memang pada bulan2 sebelumnya TW6C sudah berencana mengadakan acara makan2 bersama dan lomba nyanyi antar anggota TW6C untuk menggugah kembali semangat semua anggota yang mulai kendor (songgot2 yang direncanakan). Akhirnya disepakati oleh semua anggota, acara tersebut akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 19 September 2009 di rumah Kel. L. Sagala / Br. Gultom lagi.
Terakhir…. trims buat Amang L. Sagala dan Keluarga untuk songgot2- nya yang bermakna. Semoga kita semua khusunya Amang Sagala dan keluarga tetap dipakai oleh Tuhan menjadi saluran berkat-Nya menggugah semangat orang2 yang mulai kendor. Amin (ETS)
Kebaktian Minggu Gereja HKBP Pejuang, 25 Mei 2009
Tibalah saat yang dianantikan, TW6C menyanyikan lagu pujiannya dengan mantap. Lagu Puji Tuhan Hai Jiwaku mengalun dengan mantap. Irama tradisonal bataknya dapat. Dan semua anggota sangat menikmati menyanyikan lagu ini. Bahkan ketua TW6C sampai bergoyang-goyang bedannya menyanyikannya. Amang R.Sinambela pun dapat mengiringi musik lagu dengan santainya. Apresiasi sekaligus pembelajaran juga diberikan oleh Amang Pendeta R. Sianturi, STh. Ende (nyanyian) adalah sarana yang sangat baik untuk menyembuhkan penyakit (penyakit tondi/jiwa; penyakit hati/roha; penyakit pikiran dan penyakit pardagingon/badan). “Maka bernyanyilah jika hatimu, jiwamu, tondimu atau badanmu sakit. Jangan pikirkan/pedulikan kamu bisa menyanyi atau tidak, senandung sederhana (nana.. nana.. lala.. lala…) juga adalah merupakan nyanyian. Dan berbahagialah mereka2 yang senantiasa rindu bergabung dengan kelompok2 paduan suara karena kalian adalah pelayanan2 Tuhan, karena nyanyian2 koor dalam ibadah2 gereja adalah merupakan kotbah yang sangat efektif, bahwa sebenarnya kalau kita mau menghayati lebih dalam makna yang diungkapkan melalui syair2 indah lagu koor itu maka sebenarnya kotbah pendeta tidak perlu lagi panjang2. Janganlah antong kita hanya menikmati lagunya yang enak, serasa kita terbang ke awan mendengarnya tapi kita tidak mnghayati makana dari syair2 lagu yang dibawakan. Jadikanlah penampilanmu dalam kebaktian untuk melayani sepenuh hati dan tidak menjadikan penampilan di gereja seperti ajang festival paduan suara” kata amang Pendeta R. Sianturi,STh. dalam kotbahnya.
Sabtu 28 Maret 2008, Rumah Kel. E Silitonga / Br. Sitohang 





Komentar Terakhir