Bicara musim mungkin yang pertama muncul dalam pikiran adalah musim2 yang mengenakkan, misalnya musim buah2-an (musim duren, mangga harum manis, musim duku dll…). Musim seperti ini selalu ditunggu-tunggu, apalagi kalau panennya melimpah, makin sedap lah rasanya, karena biasanya akan diikuti penurunan harga yang lebih murah dan terjangkau per Kg-nya.
Tapi musim yang satu ini lain dari musim2 diatas. Mungkin, musim yang ini paling dibenci oleh masyarakat Jabodetabek. Musim apa sih itu? Pura2 nanya lagi.. ya musim banjir lah..!!!

Musim banjir kayaknya sudah mulai lagi, musim yang selalu menghantui hampir semua warga yang berdomisili di bagian utara Kota Bekasi, tak terkecuali anggota TW6C. Komplek perumahan Puri harapan dan Villa Mutiara Gading Kabupaten Bekasi adalah 2 perumahan dimana anggota TW6C bertempat tinggal. (entah kenapa … pada senang tinggal di daerah banjir ya??). Sudah seminggu belakangan ini jalan2 di kedua perumahan ini selalu kebanjiran, tergenang karena curah hujan yang sudah mulai turun dengan derasnya dan sering pula frekwensinya. Kesalnya lagi “Sang Hujan” ini turunnya selalu pada dini hari sampai menjelang pagi (waktu orang mulai berangkat kantor).
Latihan koor rutin TW6C yang sedianya dilaksanakan pada Rabu malam tanggal 14 Januari 2009 kemarin di rumah Kel. St. J.H. Parhusip / Br. Hasibuan batal dilaksanakan. Bagaimana tidak, karena hujan deras yang turun jalan depan rumah Kel. St. J.H. Parhusip tergenang dan hampir masuk ke dalam rumah. Takut merepotkan sahabat2-nya anggota TW6C, Amang St. J.H. Parhusip meminta (melalui telepon kepada sekretaris TW6C) agar latihan koor di rumahnya ditunda.
Banjir sampai ke rumah.
Hujan deras kembali turun mulai Minggu malam tanggal 18 Januari 2009 sampai pagi hari sekitar pukul 05.00 WIB (senin 19 Januari 2009). Akhirnya air banjir itu mengalir sampai jauh memasuki rumah2 anggota TW6C yang berada di Puri Harapan (macam lagu “Bengawan Solo” nya Gesang ya.. Air mengalir sampai jauh… He.. He..). Rumah Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang sudah kebanjiran sejak pukul 02.00 WIB, Beliau menelepon Ketua TW6C Amang E. Sitohang (yang adalah anaknya) memberitahu rumahnya sudah kemasukan air banjir. Kaget juga Amang E. Sitohang, “Koq bisa ya, padahal hujan malam itu tidak sederas malam2 sebelumnya” (pikir amang E. Sitohang). Setelah itu Amang E. Sitohang bergegas melihat ke depan melalui jendela rumahnya, “gawat… air sudah hampir sampai pintu rumah” kata nya dalam hati. Cepat2 Amang E. Sitohang membangunakan Istrinya, dan berdua mereka bekerjasama mengangkat barang2 yang bisa diselamatkan sebelum air mengalir sampai rumah.

Rumah Amang E. Sitohang tidak sampai kebanjiran, air hanya sampai teras rumah mendekati bibir pintu rumah (mungkin karena lokasi tanah nya yang lebih tinggi dibanding lokasi anggota2 TW6C yang lain yang rumahnya kemasukan air banjir).

Rumah : Kel. Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang, Kel. Inang Ny. M. Sinaga Br. Sihotang, Kel. R. Panjaiatan /Br. Siburian dan Kel. Inang Ny. S. Simanjuntak Br. Napitu adalah beberapa rumah anggota TW6C yang kemasukan air banjir. Yang lain belum dikonfirmasikan apakah air banjir masuk atau tidak ke dalam rumahnya. Sementara kabar terakhir sekitar pukul 03.00 WIB (senin 19 Januari 2009) via sms Ketua TW6C kepada Sekretaris yang berdomisili di Villa Mutiara Gading mengabarkan bahwa banjir masih sampai jalan saja dan belum sampai masuk rumah2 mereka.
Belakangan diketahui bahwa banjir ini diakibatkan adanya tanggul air yang jebol di daerah Pondok Ungu Permasi Bekasi Utara. Yang pasti, akibat banjir ini, Ketua TW6C dan mungkin beberapa anggota TW6C yang lain jadi tidak pergi ke kantor.
Buat Semua anggota TW6C yang kebanjiran rumahnya…. Sabar lah ya… Semoga Tuhan kasih rejeki sama kita semua supaya bisa pindah rumah ke daerah yang lebih tinggi dan bebas banjir… Amin!!! (ETS)


Komentar Terakhir