Arsip untuk Kategori 'Uncategorized'

15
Mei
12

KETUA BARU KOOR WIJK 6 HKBP PEJUANG

Minggu, 13 Mei 2012 Peternakan Lele Kel. J. Togatorop/ Br. Sianturi

Akhirnya setelah eksis melayani selama lebih kurang  7 tahun (tahun 2005 sd. 2012) The Wijk 6 Choir (TW6C) melaksanakan acara pemilihan pengurus baru. Bertempat di kolam peternakan lele Kel. J. Togatorop/ Br. Sianturi acara pemilihan pengurus baru tersebut dilaksanakan.

Acara ini sudah cukup lama direncanakan, namun karena berbenturan dengan kegiatan2 bona taon keluarga anggota dan jadwal kegiatan2 Gereja HKBP Pejuang sehingga tertunda sampai akhirnya disepakati pada Hari Minggu tanggal 13 Mei 2012 acara tersebut bisa dilaksanakan.

Acara ini diagendakan berawal dari suasana latihan TW6C setiap Rabu yang dari minggu ke minggu dan bulan ke bulan semakin sepi, banyak anggota2 yang sudah lama tidak hadir latihan. Yang kedua karena Ketua TW6C yang lama (Amang E. Sitohang) mendapat beasiswa tugas belajar mengambil program magister dari Instansi tempatnya bekerja, sehingga kemungkinan akan banyak waktu dan pikirannya tersita dalam perkuliahannya nanti.

Dengan dipanitiai oleh guru koor TW6C sendiri (Amang E.S. Silitonga), dilaksanakan lah acara tersebut dengan judul yang tertera pada undangan yang disampaikan kepada anggota TW6C (yang aktif maupun yang sudah lamam non aktif) dan ruas wijk 6 HKBP Pejuang “Penyegaran Rohan dan Pemilihan Pengurus Baru Punguan Koor Wijk 6 HKBP Pejuang”.

Jadwal acara nya dimulai dari Pukul 06.00 WIB dengan kebaktian bersama  di Gereja HKBP Pejuang seraya menyanyikan lagu Pujian “Bapa Kami” Karya : Drs. Bonar Gultom (GORGA), sepulang dari acara kebaktian, TW6C berangkat ke Peternakan Lele Kel. J. Togatorop/Br. Sianturi. Sambil menunggu datangnya makanan yang disiapkan oleh Ny. Sinurat Br. Tumanggor (Ayam Pinadar dan Sayur Tauco Terong Medan), Amang H. Silitonga dan Kel HPT. Purba (RW-Kung Rica-Rica dan Nasi), beberapa anggota bersama2 dengan Kel. Amang J. Togatorop menyiapkan tempat pelaksanaan acara.

Satu demi satu anggota dan undangan TW6C berdatangan dan tepat pkl 10.00 WIB acara dimulai dibuka dalam doa oleh Amang St. B. Manullang. Dilanjutkan pembahasan2 program2 TW6C yang telah dilaksanakan dan yang akan dilaksanakan. Terjadi perdebatan2 kecil antara sesama anggota maupun anggota TW6C dengan Parhalado/Sintua Wijk 6, namun pada akhirnya dapat diputuskan kesepahaman bersama demi kemajuan dan eksistensi pelayanan TW6C ke depannya.

Tepat pukul 11.00 WIB acara pemilihan pengurus baru TW6C dimulai, dikomandoi oleh Dewan Formatur yang dipimpin Amang Yeffry Nelson Panjaitan dan jajarannya Amang L. Sagala dan Amang St. JH. Parhusip. Acara pemilihan berlangsung cukup meriah dan santai diiringi canda dan banyolan dari ketua dewan formatur. Kandidat yang terpilih setelah melalui “Penjaringan, Pertukangan, Pedongkelan dan Penjagalan” (He… He… salah satu banyolan ketua panitia formatur) oleh Dewan formatur adalah :

  1. Amang R. Simanjuntak / Br. Saragih
  2. Amang J. Togatorop / Br. Sianturi
  3. Amang L.J. Sihombing / Br. Silalahi
  4. Amang M. Situmorang / Br. Siagian
  5. Amang H. Silitonga / Br. Sihombing
  6. Amang H.P.T. Purba / Br. Simamora

Setelah dilakukan pencoblosan oleh setiap anggota dan undangan (berjumlah 30 orang), maka Kandidat yang mendapat jumlah suara terbanyak adalah Amang J. Togatorop/Br. Sianturi dengan jumlah orang yang memilih 22 orang, yang kedua adalah Amang M. Situmorang/Br Siagian dengan jumlah orang yang memilih 5 orang, yang ketiga Amang H.P.T. Purba/Br. Simamora dengan jumlah orang yang memilih 2 orang dan yang keempat Amang L.J. Sihombing/Br. Silalahi dengan jumlah orang yang memilih 1 orang.  Sementara Amang R. Simanjuntak/Br. Saragih dan Amang H. Silitonga/Br. Sihombing tidak mendapat suara.

Berdasarkan peraturan yang dibuat oleh Dewan Formatur, yang mendapat suara terbanyak menjadi Ketua TW6C dan posisi suara terbanyak kedua menjadi Sekretaris TW6C. Namun sebelum ditetapkan oleh Dewan Formatur , Amang M. Situmorang pemilik suara terbanyak kedua, memohon agar sekretaris yang seharusnya adalaah beliau diserahkan kepada Amang HPT. Purba. Karena Amang HPT. Purba tidak keberatan maka Dewan Formatur menetapkan Amang J. Togatorop/Br. Sianturi menjadi Ketu Baru TW6C (Pinguan Koor Wijk 6) dan Amang H.P.T. Purba/Br. Simamora sebagai Sekretaris TW6C, sementara Bendahara belum dilaksanakan pemilihan berhubung Bendahara yang lama Inang Ny. S.Simanjuntak Br. Napitu sedang Tour Wisata Rohani ke Bona Pasogit bersama Punguan Parompuan HKBP Pejuang.

Dalam kata sambutannya yang pertama sebagai Ketua TW6C, Amang J. Togatorop menyampaikan, beliau sebenarnya merasa agak berat menerima kepengurusan ini, dikarenakan kesibukan beliau. Namun beliau berharap agar setiap anggota dan pengurus yang lama mendukung dan membantu beliau melaksanakan tugas nya sebaga Ketua TW6C yang baru. Tak lupa beliau menyampaikan terima kasih kepada Ketua TW6C yang lama seraya berdoa agar berkat2 Tuhan semakin ditambahi bagi kehidupan kel. Ketua lama dan seluruh anggota. Selesai mengucapkan kata sambutan, seluruh anggota TW6C dan undangan bertepuk tangan dan menyalami Amang J. Togatorop dan Inang Ny. Togatorop br. Sianturi seraya mengucapkan selamat.

Acara terkahir adalah makan bersama dan acara bebas/santai sambil bernyanyi diiringi keyboard. Satu persatu, anggota pulang dan berakhirlah acara tersebut pada pukul 16.30 WIB. Akhir kata segenap admin TW6C Diary mengucapkan Selamat atas terpulihnya Amang J. Togatorop/br. Sianturi sebagai Ketua TW6C dan Amang H.P.T. Purba/Br. Simamora yang dipilih kembali menjadi Sekretaris TW6C, dan buat Ketua lama TW6C Aman E. Sitohang/Br. Manurung selamat menempuh Pendidikan dan semoga berhasil meraih gelar Masternya sesuai dengan waktu yang ditetapkan. (ETS)

31
Des
09

Gus Dur “Sang Humanis” Pembela Kaum Tertindas Telah Tiada

Langit Jakarta mendung dan beranjak gelap. Hari Rabu 30 Desember 2009 pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, K.H. Abdurahman Wahid “Gus Dur” telah berpulang menghadap Tuhan, meninggalkan keluarga yang dicintainya, meninggalkan kaum minoritas yang selalu dibelanya, meninggalkan orang2 tertindas dan terpinggirkan yang selalu berharap kepadanya, meninggalkan bangsa indonesia yang memuja bahkan menentangnya.

Ya… Sang Humanis pembela kemanusiaan, Sang pelopor kemajemukan, Sang penyokong Kebinekaan Bangsa Indonesia telah tiada. Rakyat Indonesia Berkabung, tetesan air mata orang2 yang mencintainya beruraian tidak terbendung membanjiri bumi pertiwi. Telah hilang lagi satu Putra terbaik bangsa ini.

Sungguh banyak pelajaran dan pemikiran yang telah ditorehkan oleh Sang Humanis ini bagi bangsa Indonesia yang bahkan oleh sebagian masyarakat dianggap “Nyeleneh dan Kontroversial”. Beliau pernah hendak menggantikan ucapan “Assalamualaikum WmWb” yang dianggapnya bersifat sektarian dengan ucapan “Selamat Pagi, Selamat Siang atau Selamat Malam” yang dianggapnya lebih membumi dan lebih “Indonesia”. Bahkan di tengah-tengah umatnya Beliau pernah mengkritik tentang peraturan yang mempersulit pendirian rumah2 ibadah agama minoritas di Indonesia yang tengah marak saat itu. Walau beliau ditentang bahkan dihujat oleh karena pemikirannya itu tapi Beliau tidak gentar dan selalu siap “pasang badan” untuk tetap memperjuangkan apa yang dianggapnya benar dan akan berguna untuk mendidik banggsa ini.

Sang Penggemar karya2 Mozzard, Sebastian Bach, Bethoven dan Handle. Lagu Great Halleluya karya Handle adalah salah satu lagu kesukaannya. Hal ini pernah diucapkannya saat perayaan natal nasional dimana dia hadir saat menjabat sebagai Presiden RI ke-4.

Masih banyak hal2 besar yang sudah dan hendak disampaikannya kepada Bangsa Ini. Namun Tuhan lebih mencintainya. Walau Sang Humanis Gus Dur telah tiada, tapi ucapan, pemikiran dan hal2 besar itu akan tetap bertumbuh subur dan diteruskan oleh orang2 yang mencintainya.

Selamat Jalan Sang Humanis, Selamat Jalan Gus Dur, Kami yakin dan percaya Hari ini Engkau sudah berada di Firdaus Sorga Kekal bersama Bapa Surgawi. Kami sangat berduka dan Haru biru dengan kepergianmu.

06
Nov
09

Sang Maestro “GORGA” Idola TW6C

GORGA_n_ModeratorSudah lama moderator Diary TW6C ingin mengetahui dan membuat artikel mengenai Bonar Gultom (GORGA) sang maestro pujaan TW6C. Terus terang dan tidak perlu ditutup-tutupi, lagu-lagu Karya GORGA sangat dikagumi oleh TW6C. Sebagian besar  (mungkin sekitar 80%) lagu yang pernah dibawakan oleh TW6C  dalam pelayanannya adalah Lagu2 koor karya/gubahan sang maestro GORGA. Bahkan diawal – awal dibentuknya TW6C, ketua TW6C Amang E. Sitohang pernah melemparkan ide kepada guru koor TW6C Amang E. Silitonga untuk membuat TW6C sebagai kelompok paduan suara dengan ciri khas lagu2 berirama tradisonal batak yang notabene sebagian besar lagu2 koor dengan irama tradisional batak itu adalah karya cipta GORGA. Dan memang ide itu walaupun tidak diproklamirkan secara resmi kepada seluruh anggota, sepertinya sedikit banyak sudah diterapkan oleh TW6C dalam pelayanan2 nya.

Secara tidak sengaja pada saat searching di mesin pencari “google” tentang Yamuger (Yayasan Musik Gereja),  Moderator TW6C menemukan tulisan tentang biodata Bonar Gultom “GORGA” di Blogs dengan judul “ENSIKLOPEDIA TOKOH BATAK”. Dan tulisan mengenai biodata dan pengalaman2 hidup GORGA dalam artikel ini 100% disadur dari artikel dalam Blogs tersebut.

bonar-gultomGORGA yang nama aslinya Drs. Bonar Gultom lahir di Siborongborong pada tanggal 30 Juni 1934. Beliau mengenyam pendidikan Dasar di Sekolah Rakyat (SR) Dolok Sanggul – Humbang Hasundutan (Wuiiihhh… ternyata dekat bangat dengan kampung halamannya moderator TW6C di Parlilitan), kemudian dilanjutkan dengan Pendidikan Menegah Atas (MULO) di Siborongborong-Tapanuli Utara. Ternyata beliau (GORGA) adalah seorang yang berprestasi di bidang pendidikan, terbukti selama kuliah hingga berhasil meraih gelar Sarjana dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta pada tahun 1963 beliau dibiayai dengan beasiswa penuh oleh sebuah Perusahaan Belanda NV. Vereenigde Deli Maatschappijen

Ternyata prestasi beliau (GORGA) tidak hanya di bidang pendidikan saja, prestasi itu nyata juga saat terjun dalam bidang pekerjaan. Hal ini terlihat dengan Jabatan terakhir beliau sebelum pensiun tahun 1989 sebagai Direktur Komersial dan Umum pada PT Perkebunan Negara XIII, Bandung, Jawa Barat (Hmmm…. sama lagi nih dengan Moderator…. sama2 Abdi Negara/Pegawai Pemerintah).

Leila Ester Sitompul adalah wanita yang sangat berbahagia karena GORGA memilihnya sebagai Istri yang menjadi pasangan Hidupnya. Keluarga GORGA dikaruniai dengan 6 orang anak (3 orang putera dan 3 orang puteri) yang semuanya telah berumah tangga saat ini. Dari buah pernikahan putera-puterinya, GORGA saat ini telah mempunyai 10 orang cucu.

Seorang Anak Manusia pilihan yang dikaruniakan Tuhan dengan Talenta besar mencipta lagu, ya… sungguh2 merupakan Talenta besar dari Tuhan, ternyata kemampuan mencipta lagu dan bermusik GORGA diperoleh secara Otodidak. Memang sejak kecil (umur 8 tahun) Beliu senang menyanyi. Walau bakat Beliau diperoleh secara otodidak, namun prestasi yang pernah diperoleh dalam mengikuti perlobaan2 menyanyi sudah cukup banyak, antara lain Juara I menyanyi seriosa Pekan Kesenian Mahasiswa Seluruh Indonesia pada 1958 di Yogyakarta dan tahun 1960 di Denpasar- Bali; Juara-I menyanyi seriosa bintang Radio Republik Indonesia di Medan dan kemudian di Jakarta (Nasional) 1968.
Pengalaman beliau dalam bidang Paduan Suara (Koor) jangan ditanya lagi, aktif sebagai anggota Paduan Suara Gereja sejak SMA dan diteruskan selama Mahasiswa. Beliau adalah pemimpin dan pelatih Paduan Suara Gerejawi dan Nasional sejak Mahasiswa 1958 hingga sekarang. Brikut adalah Paduan Suara – Paduan Suara yang bernah dilatih dan dibina oleh GORGA :

  • Paduan Suara NHKBP Menteng Jalan Jambu, Jakarta.
  • Paduan Suara SERDAM ROHANI, Jakarta, mendampingi bapak E.L Pohan
  • Paduan Suara Ibukota, Jakarta mendampingi Binsar Sitompul
  • Paduan Suara Pria Immanuel GKPI Medan
  • Paduan Suara Gabungan GKPI Medan
  • Paduan Suara Exaudi GKPI Ciliwung-Bandung
  • PS Anugerah HKBP Jakarta
  • PS Gerja Bethel Indonesia, Tanjung Priok- Jakarta
  • PS Sola Gratia GKPI Menteng- Jakarta

Khusus sebagai pelatih  PS Anugerah HKAP Jakarta, Gorga—pernah mengantarkan 2 kali Paduan Suara ini tampil dalam konser internasional di Amerika Serikat tour – I ke Los Angeles Conductor. Beliau juga pernah memimpin gabungan Paduan Suara yang terdiri dari kontingen yang berasal dari 33 Provinsi di Indonesia, menyanyikan Mazmur 150 ciptaanya yang menjadi lagu wajib pada Pesperawi Nasional ke VI di Istora Senayan, Jakarta, dihadapan Presiden RI.

GORGA sudah menciptakan sekitar 150 lagu rohani dan non rohani—sekaligus mengarasemen untuk segala jenis musik dalam Paduan Suara. Dari sekian banyak lagu2 ciptaannya itu, berikut adalah lagu2 yang pernah dijadikan sebagai Lagu Wajib dalam ajang  Festival Pesparawi Nasional :

  • “Doa Bagi Negara” menjadi lagu wajib PS-SATB Golongan A pada Pesparawi ke III di Medan 2006
  • “Langit Menceritakan” menjadi lgu pilihan wajib PS-SATB golongan B pada Pesparawi ke VIII di Medan tahun 2006
  • “Yesusku juru Selamatku” menjadi lagu pilihan trio SSA pada Pesparawi ke VIII di Medan tahun 2006
  • “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung” menjadi lagu wajib solis remaja pada Pesparawi ke Vii di Makassar tahun 2003
  • “Kepada siapa Aku Harus Takut” menjadi lagu pilihan pertama PS-SATB pada pesparawi ke VII di Makassar tahun 2003
  • “Pujian Allah di tempat kudusNya” menjadi Lagu Wajib pada Pesparawi ke VII di Jakarta tahun 2000
  • “Persaudaraan Yang Rukun” menjadi lagu pilihan pada Pesparawi ke V di Surabaya tahun 1996

Selain mencipta lagu paduan suara, GORGA juga sudah banyak membuat terjemahan sekaligus mengaransemen lagu-lagu asing ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Batak dan juga mengaransemen lagu-lagu cipataan komposer lagu2 rohani tanah air . Berikut adalah judul lagu2 tersebut :

  • O Holy night (Malam Suci / Borgin Na Badia) karya Adolphe Adams
  • No Body Knows (Holan Tuhan Yesus) Negro Spritual Deep River (didia) Negro Spritual
  • My Heavenly Father Watches Over me (Tuhan ku menjaga aku) karya Charles Gabriel
  • God And Alone (hanya Allah Hu ) karya Phil Mc Hugh
  • Majesty (Pujianlah Yesus) karya Jack Hayfort
  • He is Exalted (Tuhanlah Raja Semesta) karya Twila Paris
  • You Raise Me Up karya Rolf Lovland (dipopulerkan oleh Josh Groban dan davi Foster)
  • Bagai Tetesan Embun karya Putri dan Maruli Simorangkir ,SH
  • Terima Kasih Tuhan karya Putri dan Maruli Simorangkir, SH
  • Bunga Pansur karya Cadman dan roger Wagner
  • Dolok Betany karya NN (Transkripsi dari kaset berbahasa Jerman)
  • Yesus Gembala Yang Baik karya H. R Palmer
  • Were You There (Uju I di atas ni sada dolok) Negro Spritual
  • Natarsilang do Kristus karya W.A Mozart
  • Narer My God to Thee karya sarah Adams dan Lowell Mason
  • Holan Tuhan Jesus, Negro Spritual
  • Nyanyian Kidung Natal karya W.A Mozart
  • Nearer my God to Thee karya Sarah Adams dan
  • God be With You Sai Tuhanta mandongani Ho karya William G. Tomer
  • Laiseir d’Amour Tuiahn Berkatilah karya Giovani Martini
  • Sejauh Timur dari Barat karya Jonathan Prawira
  • Maha Mulia (Namarmulia) karya G.F Handel
  • Ada saatnya kita jumpa karya Taralamsyah Saragih
  • Ya Allah Bapa karya st A. K Saragih
  • Tumbuhan Poyon-Poyon karya St A.K Saragih
  • The Prayer karya Carol Sager dan David Foster
  • Ave Maria karya Franz Schubert

Sebaliknya, untuk lebih memperkenalkan lagu etnik Indonseia ke dunia internasional, Beliau juga mengarensemen lagu-lagu etnik Indonesiake dalam Bahasa Inggris, diantaranya Yamko Rambe Yamko (Papua) menjadi stand Tall, God Loves Us ALL, Jali-jali (Betawi) menjadi Up And Down dan Bukit Kemenangan Karya Djuahari menjadi My God is Near Me.

Adalah tidak berlebihan rasanya dan memang sudah sepantasnyalah kalau dalam Diary TW6C ini, moderator menyebut GORGA sebagai Sang Maestro, karena karya2 ciptanya yang sungguh fantastis.  Khususnya buat orang Batak, bersyukurlah orang Batak memiliki seorang Maestro berdarah Batak yang dengan Talentanya itu telah mampu mengangkat irama dan musik batak sehingga dikenal dalam skala Nasional maupun Internasional. Benar2 seorang yang Multi Talenta. Bukan hanya berkarya lewat lagu dan musik, seni drama suku batak yang lebih dikenal dengan sebutan Opera Batak juga tak luput dari perhatian beliau. GORGA juga telah menciptakan cerita2 untuk dibawakan dalam Opera Batak, diantaranya adalah cerita2 opera sebagai berikut :

  • Argado Bona Ni Pinasa (Opera Batak), 1969
  • Parsorion ni Parmitu (opera Batak), 1970
  • Kembali ke Betlehem (Opera Natal) 1972
  • Putih dan Hitam (opera Natal) 1972
  • Nostalgia Masa Hasiswa (Opera Komedi) 1979
  • Tumba Singamangara XII (Opera Sejarah) 1980
  • Kasih Paling Agung (Opera Paskah) 1982
  • Lilin-lilin Perdamaian (Opera Natal) 1983
  • Si Boru Tudosan (Opera Budaya Batak) 1989

Karya – Karya cipta GORGA berupa lagu2 paduan suara maupun scrip Opera saat ini sudah diterbitkan dalam bentuk buku oleh Yayasan Musik Gereja (Yamuger). Sudah banyak dan sudah berulang ulang dicetak karena banyaknya permintaan dari gereja-gereja maupun kelompok2 Paduan Suara. Berikut antara lain buku2 yang telah diterbitkan oleh Yamuger :

  • Kumpulan Lagu-lagu Rohani Untuk Paduan Suara jilid I 2002
  • Kumpulan Lagu-lagu rohani untuk Paduan suara jilid II, 2005
  • Opera Natal Putih dan Hitam 2005
  • Kumpulan lagu-lagu rohani untuk Paduan Suara Wanita untuk PS Wanita jilid 2006

Pengankuan akan indah dan berbobotnya karya cipta,  paduan suara dan Opera Batak binaan GORGA dapat dilihat dengan diundangnya beliau memimpin paduan suara untuk berkonser  dalam menyambut tamu2 negara dan pemerintah. Berikut adalah konser2 yang dipandu oleh GORGA dalam menyambut tamu2 pemerintah Sumatera Utara di Medan lewat Opening dan Closing Ceremony Medan Fair (Pekan Raya Medan) :

  • Konser dalam menyambut Pageran Bernard dari Kerajaan Belanda (1972)
  • Konser dalam menyambut Raja Boumdewijn dan Ratu Fabiola dari kerjaan Belgia (1974)
  • Konser dalam menyambut Menyambut perdana menteri Lee Kwan Yew dari Singapura (1975)
  • Konser dalam menyambut Toen Abdul Razak dari Malaysia (1976) dengan pementasan “Arga do Bona Ni Pinasa” di alam terbuka ditepi pantai Danau Toba, Parapat.

Prestasi selau diikuti dengan Penghargaan, demikian pula dengan GORGA. Prestasi dalam karya musik banyak mengundang appreasi berupa penghargaan dari pihak2 yang merasa kagum dengan karya2 Beliau. Berikut adalah beberapa penghargaan yang pernah diterima oleh     GORGA :

  • Pada tahun 1975 menerima penghargaan dari pangeran Bernard dalam undangan khus ke Istana Kerjaan Belanda Soesdijk
  • Menerima penghargaan dari KNPI Sumatera Utara sebagai penghargaan atas peranyan dalam pengemabangan generasi muda Sumatera Utara 1980
  • Pada 1982 menerima penghargaan dari Pangkowilhan Sumatera Utara sebagai putra teladan.
  • Pada 1998 menrima penghargaan sari Gubernur Suamtera Utara atas lagu ciptaanya “Marsipature Hutanabe”
  • Pada tahun 2003 menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas prestasinya yang dicapainya saat menyutradarai pementasan Opera Arga Do Bona Ni Pinasa pada Pesta Rakyat Danau Toba di Kota Parapat sebagai opera yang melibatkan pemain terbanyak 232 orang dan merupakan pendudukan setempat.

Terakhir, bagi yang ingin berkunjung atau berkirim surat dengan GORGA, boleh dialamatkan ke Alamat rumah Beliau Jalan Ayahanda No 57, RT 02/04 Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta 13430 atau melalui e-mail beliau BonarGultom @ Yahoo.com. (ETS)

19
Jan
09

Musim banjir….

Bicara musim mungkin yang pertama muncul dalam pikiran adalah musim2 yang mengenakkan, misalnya musim buah2-an (musim duren, mangga harum manis, musim duku dll…). Musim seperti ini selalu ditunggu-tunggu, apalagi kalau panennya melimpah, makin sedap lah rasanya, karena biasanya akan diikuti penurunan harga yang lebih murah dan terjangkau per Kg-nya.

Tapi musim yang satu ini lain dari musim2 diatas. Mungkin, musim yang ini paling dibenci oleh masyarakat  Jabodetabek. Musim apa sih itu? Pura2 nanya lagi.. ya musim banjir lah..!!!

Banjir Puri harapan  Foto by ETS

Musim banjir kayaknya sudah mulai lagi, musim yang selalu menghantui hampir semua warga yang berdomisili di bagian utara Kota Bekasi, tak terkecuali anggota TW6C.  Komplek perumahan Puri harapan  dan Villa Mutiara Gading Kabupaten Bekasi adalah 2 perumahan dimana anggota TW6C bertempat tinggal. (entah kenapa … pada senang tinggal di daerah banjir ya??). Sudah seminggu belakangan ini jalan2 di kedua perumahan ini selalu kebanjiran, tergenang karena curah hujan yang sudah mulai turun dengan derasnya dan sering pula frekwensinya. Kesalnya lagi “Sang Hujan” ini turunnya selalu pada dini hari sampai menjelang pagi (waktu orang mulai berangkat kantor). 

Latihan koor rutin TW6C yang sedianya dilaksanakan pada Rabu malam tanggal 14 Januari 2009 kemarin di rumah Kel. St. J.H. Parhusip / Br. Hasibuan  batal dilaksanakan. Bagaimana tidak, karena hujan deras yang turun jalan depan rumah Kel. St. J.H. Parhusip tergenang dan hampir masuk ke dalam rumah. Takut merepotkan sahabat2-nya anggota TW6C, Amang St. J.H. Parhusip meminta (melalui telepon kepada sekretaris TW6C) agar latihan koor di rumahnya ditunda.

Banjir sampai ke rumah.  

Hujan deras kembali turun mulai Minggu malam tanggal 18 Januari 2009 sampai pagi hari sekitar pukul 05.00 WIB  (senin 19 Januari 2009). Akhirnya air banjir itu mengalir sampai jauh memasuki rumah2 anggota TW6C yang berada di Puri Harapan (macam lagu “Bengawan Solo” nya Gesang ya.. Air mengalir sampai jauh… He.. He..).  Rumah Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang sudah kebanjiran sejak pukul 02.00 WIB, Beliau menelepon Ketua TW6C Amang E. Sitohang (yang adalah anaknya) memberitahu rumahnya sudah kemasukan air banjir. Kaget juga Amang E. Sitohang,  “Koq bisa ya, padahal hujan malam itu tidak sederas malam2 sebelumnya” (pikir amang E. Sitohang).  Setelah itu Amang E. Sitohang bergegas melihat ke depan melalui jendela rumahnya, “gawat… air sudah hampir sampai pintu rumah” kata nya dalam hati. Cepat2 Amang E. Sitohang membangunakan Istrinya, dan berdua mereka bekerjasama mengangkat barang2 yang bisa diselamatkan sebelum air mengalir sampai rumah.

hampir masuk  foto by.Ets

Rumah Amang E. Sitohang tidak sampai kebanjiran, air hanya sampai teras rumah mendekati bibir pintu rumah (mungkin karena lokasi tanah nya yang lebih tinggi dibanding lokasi anggota2 TW6C yang lain yang rumahnya kemasukan air banjir).

 

banjir puri harapan - Foto by.Ets

Rumah : Kel. Inang Ny. Sitohang Br. Sihotang, Kel. Inang Ny. M. Sinaga Br. Sihotang, Kel. R. Panjaiatan /Br. Siburian dan  Kel. Inang Ny. S. Simanjuntak Br. Napitu adalah beberapa rumah anggota TW6C yang kemasukan air banjir. Yang lain belum dikonfirmasikan apakah air banjir masuk atau tidak ke  dalam rumahnya. Sementara kabar terakhir sekitar pukul 03.00 WIB (senin 19 Januari 2009) via sms Ketua TW6C kepada Sekretaris yang berdomisili di Villa Mutiara Gading mengabarkan bahwa banjir masih sampai jalan saja dan belum sampai masuk rumah2 mereka. 

Belakangan diketahui bahwa banjir ini diakibatkan adanya tanggul air yang jebol di daerah Pondok Ungu Permasi Bekasi Utara. Yang pasti, akibat banjir ini, Ketua TW6C dan mungkin beberapa anggota TW6C yang lain jadi tidak pergi ke kantor.

Buat Semua anggota TW6C yang kebanjiran rumahnya…. Sabar lah ya… Semoga Tuhan kasih rejeki sama kita semua supaya bisa pindah rumah ke daerah yang lebih tinggi dan bebas banjir… Amin!!!  (ETS)

30
Des
08

Kabar Dukacita Dari Kel. R. Sinambela / Br. Sianturi

Kesibukan moderator TW6C Diary menjelang Natal (banyak acara Natal yang diikuti dan sedang cuti pulak) membuat postingan kabar duka ini terlambat dipublish.

Selasa 23 Desember 2008 Inang Ny. R. Sinambela Br. Sianturi memberitahu kabar duka ini kepada ketua lewat sms. “Amang nunga jumolo be Simatuangku Doli dialap Tuhanta, tolong pasahat tu dongan parsahutaon, Hami berangkat do tu Tarutung jam 16.00 WIB” (“Amang, sudah mendahului kita dipanggil oleh Tuhan Bapak Mertua saya, tolong disampaikan kepada teman2 sekampung, kami akan berangkat ke Tarutung pukul 16.00 WIB”) kata Inang itu dalam sms-nya. Kabar ini disampaikan kepada Ketua TW6C dalam kapasitas Ketua sebagai Bendahara di Parsahutaon Dos Roha Puri Harapan.

Tidak ada tanda2 yang didapat oleh keluarga dalam detik2 meninggalnya Bapak tercinta Amang R. Sinambela, memang beberapa tahun terakhir Beliau mengidap sakit asma dan dianggap sudah biasa oleh keluarga krn dengan perawatan di Rumah sakit, biasanya Beliau segera sembuh.

Namun setiap manusia memang sudah ditetapkan oleh Tuhan jalannya untuk dipanggil menghadap Dia. Bermula dari terpeleset/terjatuh di kamar mandi pada hari Senin 22 Desember 2008, Bapak tercinta Amang R. Sinambela tidak sadarkan diri dan dibawa oleh keluarga di Tarutung ke rumah sakit. Segera ditangani oleh Dokter namun tidak lama kemudian Beliau meninggal dunia. (berdasarkan keterangan Amang R. Sinambela). Kesedihan mendalam terlihat di wajah Amang R. Sinambela saat menceritakan peritiwa itu. Apalagi sepertinya ada satu tanda2 yg tidak bisa diartikan oleh Amang R. Sinambela seminggu sebelum meninggalnya Bapak tercintanya. Entah kenapa saat menemani anak2-nya membeli baju natal mata Amang R. Sinambela selalu tertuju ke kemeja hitam yang tergerai di display toko kemeja.

Usia 74 tahun Bapak tercinta Amang R. Sinambela saat meninggal dunia. Meninggalkan 5 Anak laki2, 2 anak perempuan (boru) serta 45 cucu. Tinggal 1 orang saudara perempuan Amang R. Sinambela yang belum berumah tangga, namun Bapak amang R. Sinambela sudah dianggap “Saur Matua”) dalam acara adat penguburan.

Segenap anggota TW6C Turut Berdukacita yang sedalamnya atas meninggalnya Bapak tercinta Amang R. Sinambela, kiranya Kristus Tuhan memberi penghiburan dan ketegaran kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan.

10
Des
08

Artikel Kiriman Laenta R. Simanjuntak (Personil Bass)

R.simanjuntakBindu 25
Nabisuk Nampuna Hata,
Na Oto Tu Panggadisan

Ijuk di parapara, hotang dipallabian. Na bisuk do nampuna hata, alai na oto ma tu panggadisan. Huroha nungnga somal masa pangalaho sisongon i di tongatonga ni halak hita na jolo. Ai molo angka nabisuk, angka jolma parhata do i, namalo mangalusi nasa hata, mangalusi sungkunsungkun nang mangalusi na di bagasan roha. Alai molo halak na oto, mura ma i otootoan. Ai manang aha nidok, manigor i do undukononna. Aha na hinatahon, manigor i do haporseaonna. Halak na oto mamparhatutuhon luhut hatahata, alai anggo halak na bisuk, ditimbang do langkalangka. (Poda 14 :15).

Asa si jalahan do habisuhon, ai marhite ido gabe jolma sitangihonon ni halak iba. Alai sabalikna, sipasidingon jala sipadaoon ma haotoon, asa unang gabe marlomolomo halak tu iba. Parhata do na bisuk, sitangihononhon jala sisungkunon di ragam ni hapistaran. Alai sai si sogo do halak na oto, ai ndang mangantusi aha na masa, aha na niulana, jala ndang tarpasingot di haotoonna. Togir do dalan ni na oto di rohana, alai anggo halak napistar, olo do tumangihon hata sipaingot.’ (Poda 12:15). Sisogo do nang halak na oto di tongatonga ni bagasna, alai gabe anak halasan do angka anak na pistar di tongatonga ni jabuna. “Anak napistar palas roha ni amana, alai jolma na oto sahali do manang ise na olo palea inana” (Poda 15:20). “Hajepolon ni amana do halak na oto, jala arsak ni roha ni inana tumubuhon ibana. “ (Poda 18:25).

Adong do na mandok, anggo umpasa i sasintongna songon on do : Na bisuk nampuna hata, asa unang adong na oto na gabe tu panggadisan. Na uli ma tutu i molo gabe halak na bisuk mangondihon halak na oto. Alai pangantusion di halak hita Batak ma ra i. Manang pangantusion si saonari on na ma i. Ai hira so masuk do tu roha molo gabe adong na bisuk na mangondihon halak na oto. Ai alana, umbahen na oto pe didok ibana, ndada ala ni holan na humurang pingkiranna, alai alani jungkat ni rohana do. Alai na adong do di ibana pangalaho na roa, na jahat, na sai manuntun lomona, na so olo marpanungkun manang tu ise pe, atik pe so diboto agia aha. Asa ndang tarpadomu halak nabisuk tu halak na oto.

Adong sada halak na losok marsingkola, na gabe dajal ibana di huta, jala holan na manusai natorasna ulaonna. Halak na oto do rajumon ibana. Ai pareme do nian natorasna, parhauma na bidang, alai nanggo SD pe ndang tammat ibana. Hira holan ibana nama di huta sian angka dongan torbangna. Hira ibana do na umoto sian dongan magodangna. Alai molo manghatai do, ndang na taralo ibana. Lumobi molo marpollung dohot marhata mangmang. Hatna do sude nasa hata.
Di sada tingki dijujui natorasna ma ibana laho mangaranto, tu Kalimantan manang tu Irian Jaya. Ala tammat SD do ibana, tusi nama dirajumi roha ni natorasna na boi ibana laku. Alai ndang diolio ibana hata ni natorasna i. Olo do ibana mangaranto, asal ma tu Jakarta. Ala sai di jugulhon do ingkon tu Jakarta mangaranto, gabe dipaborhat natorasna ma ibana. Disuru ma ibana manopot angkangna, anak ni bapatuana sian ompungna na martinodohon. Nunga direktur perusahaan anak ni angkangna i di Jakarta. Dibahen natorasna ma surat boanonna, hira dalan patandahon anakna i tu anak ni angkangna i, anggiat boi adong dibahen karejona, manang karejo aha pe taho. Ai ianggo di natorasna i, asal ma unang di huta be anakna i. Ai holan manusai natorasna do ulaonna.

Borhat ma ibana tu Jakarta. Jala jumpangsa do angkangna tubu ni amangtuana sian ompung na martinodohon i. Tinggal di jabu ni angkangna i ma ibana paima adong karejona. Disada tingki, di jou angkangna i ma ibana manghatai. Disungkun angkangna i ma ibana dohot harorona.
“Jadi puang anggia, nungnga hujaha surat ni uda na binoanmi. Namangalului karejo do ho hape tu Jakarta on.”, ninna angkangna i ma mamungka pangkataion nasida.
“Tutudo angkang, na mangalului karejo do ahu ro tu Jakarta on!”, ninna ibana mangalusi.
“Antong, molo songon i, sarjana aha ma ho puang, sarjana ekonomi do manag na insinyiur, asa bi noto pahombarhon tu parkarejoan siluluan tu ho”, ninna angkangna i.
“Dia ma dohon angkang. Songon dia bahenon gabe sarjana, ai hansit do ngolu dihuta. Jala ndang ala na sarjana ahu umbahen na ro tu Jakarta on, laho mangalului karejo do. Jadi urupi angkang ma jolo ahu asa adong karejongku.”
“Bo, ndang sarjana ho hape. Antong, molo songon i, jurusan aha ma ho tahe di SMA ? IPA do manang na IPS ?”, ninna angkangna i muse manungkun.
“Bah i pe, dia ma dohonon angkang. Ai dung ro Indorayon siboan nabusuk i, so adong be hasea pangulaon ni halak papak. Asa mansai hansit do ngolungolu alani na masa i. Ido umbahen na songon on ahu.”
“Bah, jadi dang tamat ho sian SMA ? Na laos holan tamat SMP do ho ?”, ninna angkangna i muse. Nunga longang rohana mambege alus ni angina i.
“Ba, tung i pe nuaeng, dia ma dohon angkang. Ai leleng do omak na marsahitsahit i. Dibege angkang do ra na marbulanbulan omak obname di rumasakit Balige. Jadi tung so tarhatahon do i sude”’ ninna mangalusi angkangna i. Lamboklambok do dihatahon hatana i, hape ianggo angkangna i nunga mulai pangarimason umbegesa.
:Jadi maksudmu, na so tammat do ho nanggo SMP? Na holan tamat SD do ho ?”, ninna angkangna i dohot soara nagogo. Nungnga jut rohana jala muruk idaon.
“Ba, tung i pe nuaeng dia ma dohonon angkang. Nunga bagianniba songon on. Na ringkot nuaeng di ahu, tung lului angkang ma jolo karejongku!”.
“Jadi SD pe hape ndang tamat ho ? Ah, ndang huantusi be i”, ninna angkangna i, huhut mansampathon surat ni udana i tu meja na di jolona, na sai tiniopna sian nangkin. “Ndang huboto boasa suruon ni uda ho tu Jakarta on. Aha ma na boi karejom? Ndang adong! Jadi ndang tarbahen ahu mangalului karejom. Ho ma namanontuhon karejom. Anggo ahu, tung so tarbahen aho do mangalului karejom,” ninna angkangna i di bagasan murukna. Alai sai lambok do anggina i mangalusi. Hira na so diboto do idaon naung muruk angkangna i. Gabe didok ma:
“Burju ni angkang do na mandok asa ahu manontuhon karejongku?”, ninna ibana.
“Olo, ho ma manontuhon. Dok ma saonari, aha ma karejom didok roham.” Ninna angkangna i mardongan muruk.
“Mauliate ma. Botima i angkang. Hubege sian bapak, nungnga direktur hape angkang nuaeng!”, ninna mansai lambok.
“Olo, jadi aha maksudmu?” ninna angkangna i hatop, ai naeng botoonna aha na di roha ni anggina i.
“Maksudhu nian angkang, sapala naung ro ahu tu Jakarta on, bahen angkang ma ahu gabe wakil direkturmu!”
“Aha nimmu? Bodat! So ditanda ho do dirim!!!”, ninna angkangna i huhut di tinggalhon anggina i.
Ndang sadia leleng mulak ma anggina i tu huta ala so adong karejo dapotsa di Jakarta. Na jumorbut muse, gabe mar hata balik do ibana tu natorasna. Ai didok do, na mansai kejam angkangna i, jala manigor ginjang do rohana ala naung direktur i. I ma panghorhon ni haotoon i, na so boi mangantusi halak jala ndang mananda dirina. Asa ndang tarpadomu halak na oto tu halak na bisuk.

Di ganup bangso sai adong do halak na bisuk, suang songon i nang halak na oto. Jala ganup bangso do marsintasinta asa gabe angka jolma nabisuk angka jolma bangso i, jala sai unang ma nian adong halak na oto. Alai asing do pangantusion ni bangso Jahudi taringot tu halak na oto dohot na bisuk, lumobi molo pinartimbanghon tu pangantusion ni angka bangso na asing. Mangihuthon halak Jahudi, sian Debata do Habisuhon, alai sian portibi on, jala sian sibolis do haotoon. Ala sian Debata do habisuhon i, asa manang ise na mabiar mida Jahowa sai na dapotan habisuhon do. I do umbahen na didok: “Biar mida Jahowa do parmulaan ni hapistaran, jala parbinotoan ni angka na badia do hapantason” (Poda 9:10). “Biar mida Jahowa do parmulaan ni parbinotoan, alai halak na oto manoisi hapistaran dohot pangajaran” (Poda 1:7).

Asa molo di tongatonga ni bagas ni halak Jahudi ndada pola sai tarbege poda ni natoras tu anakhon na mandok: Unang ula hajahaton ate! Ulahon ma na denggan ate! Ndang songon i poda nasida. Alai na somal poda ni natoras tu anakna i ma: Ingkon halak napistar do ho ate! Ingkon halak nabisuk do ho! Sotung gabe halak na oto ho! Lapatan ni i, molo di halak Jahudi: Ingkon si oloio Debata do ho ate, ingkon habiaranmu do Debata asa gabe halak nabisuk ho. Sotung gabe si oloi si bolis ho. Sotung gabe halak naoto! Asa habisuhon ndada holan marpardomuan tu pingkiran manang hamaloon, alai dohot do tu haporseaon dohot pangoloion tu Debata. Suang songon i do nang haotoon, ndada holan nahurang dipingkiran, alai nahurang diharohaon do dohot haporseaon. Ala dang di tanda na oto Debata dohot lomo ni rohaNa.

Asa mansai bagas do lapatan ni hapistaran dohot habisuhon di bangso Jahudi. Ai ndada holan parbinotoan sambing i, alai dohot do panandaon tu Debata. Paboa halak napistar halak, sai na ulahonon ni i do lomo ni roha ni Debata. Alana, mantat pasupasu ni Debata do ganup ulaon nahombar tu lomo ni roha ni Debata. Molo napistar sadasada halak, dang olo i mambahen na hinasogohon ni roha ni Debata, ai ibana sandiri do na rugi disi. Alai anggo na oto, ndang dirohahon i dia lomo ni roha ni Debata jala dia na solomo ni rohana. Hape molo di ulahon na so lomo ni roha ni Debata, mangae ma ibana. Ai ndang tarpasupasu be ulaonna. Baliksa gabe uhum do na ro tu ibana.

I do umbahen di dok apostel Jakobus: “Ise hamu nabisuk jala na pantas marroha? Sian denggan ni parangena ma dipataridahon ibana angka ulaonna mar hitehite halambohon ni habisuhon i” (Jak 3:13). Ai habisuhon i sian ginjang do i, sian Debata. Mamboan dame dohot las ni roha do habisuhon i, ndada laho manusai jolma. Asa manang ise na mameop habisuhon na sian Debata, na bontor do i, na lambok, olo mardame jala siboan dame. Gok las ni roha do ibana, jala dibagasan dame ibana manabur angka hatigoran tu saluhut halak (Jak3:17-18).
Asa angka na pistar jala na bisuk do halak na porsea tu Debata. Alai angka na oto do jolma na so porsea tu Debata. Di buku Poda Raja Salomo didok songon on: “Sai eahi hapistaran, eahi ma tutu pangantusion; unang tung halupahon, jala unang tundali angka hata ni pamanganku” (Poda 4:5). “Tuhori ma hasintongan, jala unang gadishon hapistaran, pangajaran dohot roha hapantason” (Poda 23:23). “Parmulaan ni hapistaran on do: Tuhori hapistaran i, jala tuhorhon sandok na niomom tumuhor pangantusion” (Poda 4:7). Ima paboa na ringkot hapistaran i. “Ai umarga do hapistaran sian mutiha, jala saluhut mata intan ndang tarpatudos tusi” (Poda 8:11). Asa manang ise na mangeahi hapistaran, na mangalului habisuhon do i. Manang ise na manjalahi parbinotoan, na pahombarhombar tu lomo ni roha ni Debata do nasinangkapan ni rohana. Alani i sai unang ma adong na oto ianakhonta. Alai sai tubu ma anak na bisuk jala na pistar, na mambahen las roha ni amana dohot inana, suang songon i situan natorop. Jala gabe halomoan ni Debata ma nang ibana, antong!

27
Nov
08

MOMENTOMORI…. (Ingatlah Hari Kematianmu)

Minggu 23 Nopember 2008, Kebaktian “Ujung Taon Parhuriaon (Parningotan di Angka Na Monding) di Gereja HKBP Pejuang.

“Tongon do sadarion goar ni minggunta minggu ujung taon parhuriaon, jala laos sadarion do ingotonta angka donganta ruas ni hurianta naung parjolo monding i. Mangihuthon haporseaonta, tapatupa parningotan on laho manghehei rohanta do asa ingot hita di ari-ari parpudi ni ngolunta, jala somal do tadok I di pandohan na asing “MOMENTOMORY” lapantanna “Ingot Ari Hamamatem” (Tepat pada hari ini minggu kita dinamakan ujung tahun parhuriaon, dan pada hari ini lah kita mengenang saudara2 anggota jemaat kita yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Sesuai dengan iman kepercayaan kita, diadakan acara peringatan ini adalah untuk mengingatkan kita akan saat-saat terakhir hidup kita, atau dalam bahasa asing sering disebut ”MOMENTOMORI” yang artinya “Ingatlah Hari Kematianmu”), demikian panggilan beribadah yang diucapkan oleh Liturgis Inang St. R. Br. Simanjuntak dalam kebaktian minggu kemarin.

Sangat berkesan bagi The Wijk 6 Choir, karena salah seorang anggotanya Inang Ny. S.P. Tambunan Br. Simanungkalit kembali terkenang akan Anak laki-lakinya yang sangat Ia cintai Yance Tambunan yang telah mendahuluinya pada bulan Maret 2008. Setback sedikit pada saat meninggalnya saudara kita Yance Tambunan, kesedihan yang teramat sangat dirasakan oleh Keluarga Inang Ny. S.P. Tambunan Br. Simanungkalit, bagaimana tidak, Almarhum Yance Tambunan adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga dan masih “doli-doli” (lajang). Masih banyak harapan2 dari keluarga untuknya, tapi Tuhan lah yang empunya semuanya. Kehendak-Nya lah yang jadi. Yance Tambunan dipanggil-Nya ke hadapan-Nya dalam usia yang cukup muda (35 tahun). Pada saat The Wijk 6 Choir datang melayat bersama Jemaat HKBP Pejuang, lagu “Sipata Sai Sungkun-Sungkun” dibawakan oleh The Wijk 6 Choir sebagai persembahan untuk menghibur keluarga yang berduka.

Untuk mengenang saat itu The Wijk 6 Choir kembali membawakan lagu “Sipata Sai Sungkun-Sungkun” dalam penampilannya/pelayanannya di kebaktian minggu Ujung Taon Parhuriaon Parningotan di Angka Na Monding kemarin. Inang Ny. S.P.Tambunan Br. Simanungkalit turut menyanyikan lagu itu sebagai personil alto The Wijk 6 Choir. Puji Tuhan, sedih mengenang sang Anak yang dicintai tapi terlihat aura ketegaran yang sangat kuat di wajah Inang itu. Bahkan setelah selesai kebaktian, Inang Ny. S.P.Tambunan Br. Simanungkalit menagih janji ketua yang akan megambil fotonya untuk kelengkapan data “Member of The Wijk 6 Choir” yang akan dimasukan dalam The Wijk 6 Choir Diary. “Salut buat Inang” kata ketua dalam hatinya, sambil membidikkan kamera Kodak 8,2 MP-nya. Jepret… Jepret… Jadilah foto Inang Ny. S.P. Tambunan Br. Simanungkalit. Ada 2 foto, yang pertama Inang itu dengan kebaya hitamnya, dan yang kedua Inang Ny. S.P. Tambunan dan Suami tercintanya.

Dalam kebaktian minggu Ujung Taon Parhuriaon Parningotan di Angka Na Monding kemarin, ada 6 (enam) paduan suara yang tampil melayani. Tiga (3) paduan suara Wijk (TW6C, Wijk 2 dan Wijk 5) dan Tiga (3) paduan suara kategorial ( Naposo, Ina koor dan Ama Koor). Bocoran ini sudah didapatkan oleh ketua The Wijk 6 choir pada saat latihan pemantapan sabtu malam di rumah Kel. St. J.H. Nainggolan. Mantafff pikirnya, bisa dijadikan tambahan koleksi rekaman paduan suara2 gereja HKBP Pejuang. Makanya dengan semangat bak wartawan “BUSEEER”, ketua TW6C dengan sibuknya, putar sana, putar sini. Bidik sana, bidik sini (mengambil istilah istrinya “Heppot Sana, Heppot Sini”) mengabadikan penampilan ke-6 paduan suara yang melayani pada kebaktian itu. Penampilan keenam paduan suara cukup mampu untuk menguatkan hati saudara2 yang masih berduka melalui pesan2 dalam lagu koor yang dibawakan.

Seabagai penutup, semua adalah rahasia Sang Empunya Kehidupan Tuhan Yesus Kristus, bahwa saudara2 anggota jemaat HKBP Pejuang yang telah lebih dahulu meninggal (dipanggil oleh Sang Pencipta) semuanya adalah “Pria”, tidak pada tempatnya jika kita berpraduga dan ber-andai-andai. Seperti pesan yang disampaikan oleh Uluan ni Huria usai membacakan nama2 anggota jemaat yang telah meninggal : “ Hamu ale angka dongan! Nunga tabege angka goar-goar ni angka na monding sian tonga-tonga ni hurianta di bagasan na sataon bolon on. Ia tataringoti pe i, ndada na mangarungkar-rungkari hinalungun dohot hinadangol, alai na marningot do hita di ari hamamatenta, paboa hita pe muse tong do ingkon mate di tingkina be. Sai parrohai ma hami mamilangi ari-ari nami, asa dapotan roha na bisuk hami mamimingkiri taringot tu hamamate nami” (Saudara-saudaraku, telah kita dengarkan nama-nama anggota jemaat yang telah lebih dahulu meninggal dalam satu tahun ini. Kita mengenang, bukan untuk mengungkap kembali kesedihan dan kedukaan hati, tapi untuk mengingatkan tentang hari kematian kita, bahwa kita pun pada saat nanti akan mati juga. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, agar kami beroleh kebijakan mengenang akan hari kematian kami). Amin.

24
Nov
08

Biaya Natal : Tok2 Ripe Natal atau Tek-Tek-an Natal (pusing deh…!!!)

Sabtu, 22 Nopember 2008 Rumah Kel. St. J.H. Nainggolan / Br. Hasibuan

Latihan pemantapan The Wijk 6 Choir kembali dilaksanakan. Agak terlambat dimulainya (maklum lah pada pakai jam “WOB”) sekitar pukul 20.30 WIB. Padahal kel. Amang St.J.H.Nainngolan sudah menunggu dan bersiap2 menyambut punguan/perkumpulan mulai pukul 19.00 Malam (maaf ya Amang Sintua nami gabe leleng hamu paimahon). Pukul 20.00 masih 3 keluarga + tuan rumah yang hadir (berarti 8 orang). Lima (5) menit kemudian muncul 2 keluarga lagi. Akhirnya banyak juga yang hadir Sopran 10 orang, Alto 6 orang, tenor 5 orang dan Bass 6 orang, total 27rang + 1 orang Dirijent. Acara pun dimulai, dengan doa pembukaan dan dilanjutkan membaca buku renungan harian oleh Ketua. Lantunan kidung pujian koor ” Sipata Sai Sungkun-Sungkun” kembali terdengar dalam latihan pemantapan. Sudah semakin padu dan sepertinya sudah siap untuk ditampilkan di gereja. Latihan berlangsung tidak terlampu lama, lebih difokuskan kepada penghalusan suara di kelompok Sopran. Setelah empat kali diulang latihanpun selesai.

Lanjut acara makan2. Tuan rumah menyediakan mie goreng sea food. Ada 3 pilihan : Mie Hun Goreng seafood, Kwetiau Goreng Seafood dan Mie Kriting Goreng Sea food. Lebih banyak yang pilih Mie Hun, karena memang personil The Wijk 6 Choir lebih banyak personil wanitanya. Dan entah kenapa, ibu2 biasanya lebih suka mie Hun (Kenapa ya?… ada yang tau gak). Usai menyantap mie, keluar salak dan kacang serta minuman kopi susu panas (komplit deh… tambah gemuk2 aja nanti orang2 di The Wijk 6 Choir ini bah).

Sebelum acara ditutup, kembali seperti biasanya ketua atau sekretaris menyampaikan pengumuman2. Dimulai oleh sekretaris Amang H. Purba tentang rencana perayaan Natal Gabungan Ama-Ina HKBP Pejuang pada Sabtu 27 Desember 2008. ”Porlu pinabotohon tu Hita sude, anggaran untuk perayaan natal ini ± Rp. 7 juta-an, jala partisipasi ni tiap wijk ±Rp 500.000,-.” kata sekretaris. Lanjut kemudian pengumuman dari ketua. ”Ala adong do proposal sian Panitia Perayaan Natal gabungan Ina se-Resort HKBP Jakasampurna, diharapkan parsipasi tiap huria pagaran Rp 500.000,-” kata ketua. Ibu2 anggota The Wijk 6 Choir sudah mulai terlihat gelisah, ada juga yang mulai bisik2. Belum usai kegelisahan dan bisik2 kaum ibu, ketua kembali menyampaikan rencana The Wijk 6 Choir akan melaksanakan kebaktian Natal The Wijk 6 Choir, ”Kebaktian biasa aja kita bikin + makan bersama, supaya ada variasi sedikit dari tahun2 sebelumnya, jangan bona taon terus” kata ketua. Berarti biaya lagi, ”Holan na hepeng (’biaya melulu’)” begitu barangkali yang berada di benak ibu2 The Wijk 6 Choir. Ternyata benar, belum selesai ketua dengan pengumuman-pengumumanya, Inag Ny. Sitohang Br. Sihotang personil suara Alto (yang adalah Inang Sipangintupu ni ketua) menyampaikan interupsi kepada ketua. ”Hami potong jolo satongkin. Unang ma pola acara natal tabahen. Molo nananeng merayakan do, seperti na somal ma bona taon punguan koor Wijk 6 ma, asa boi saotik marhosa angka hitaon, ala berurut-torus natal i” (interupsi sedikit, gak usahlah perayaan natal punguan, kalau memang mau bikin acara, seperti biasa aja acara bona taon TheWijk 6 Choir lah, biar bisa dulu ‘tarik napas’ kita, karena berurutan terus natal ini ” kata Inang itu. Langsung Ibu2 pada setuju, Ny. M.Manurung Br. Doloksaribu (personil suara Sopran yang baru ber bergabung) nyeletuk, sambil menempelkan tangan di jidat nya, “Pusing deh, … biaya melulu” kata Inang itu. Ketua jadi tidak enak hati, wah gawat pikirnya, bisa2 nanti hal ini bikin anggota2 yang baru merasa terbebani. Akhirnya ketua mengiyakan sambil meminta dukungan dari kaum bapak The Wijk 6 Choir. Dengan memberikan sedikit motivasi bahwa beratpun biaya yang ditanggung dalam perayaan2 kali in, kalau kita yakin dan berserah, berapapun yang kita berikan kalauTuhan berkenan, dana yang dibutuhkan panitia pasti terkumpul. Amin.

Acara pemantapan akhirnya ditutup tepat pukul 23.00 WIB. Dengan pengumuman dari ketua, latihan rutin pada Rabu malam tanggal 26 Nopember 2008 akan dilaksanakan di rumah Kel. St. B. Manullang / Br. Nainggolan. Fokus latihan adalah ke Lagu2 Natal. Acara ditutup dengan doa oleh Amang St. M.T. Napitupulu.

21
Nov
08

Boan Sada nari…. (wah.. “+5″ Kita)

Rabu 19 Nopember 2008, Rumah Kel. S.P. Tambunan Br. Simanungkalit

Hujan turun mulai sore menjelang malam, mulanya gerimis namun lama kelamaan semakin deras. Untung para anggota The Wijk 6 Choir sudah pada kumpul latihan sebelum hujan deras turun. Ketua terlambat datang, lembur (penyusunan APBN) katanya. Ada beberapa anggota yang tidak hadir, informasinya karena kondisi badan yang kurang Fit. Keceriaan masih berlangsung dalam latihan The Wijk 6 Choir (semoga suasana ini terpelihara terus dalam setiap latihan).

Ada sukacita yang lain pada latihan kali ini. Tambah lagi 1 orang anggota The Wijk 6 Choir. Amang R. Sinambela turut bergabung malam itu. Sedikit informasi, Amang R. Sinambela boleh dibilang “Orang Lama” dalam keseharian The Wijk 6 Choir. Beliau adalah Suami dari Inang Br. Sianturi (personil suara Alto ) dan sudah beberapa kali mengiringi The Wijk 6 Choir saat tampil membawakan lagu yang diiringi Keyboard. Kata beliau saat memperkenalkan diri “Ala na mulai sibuk Inanta, au ma songon pengganti sian keluarga nami” (karena ibu/istri saya agak sibuk, saya lah yang menggantikan dari keluarga kami). Apapun motivasinya intinya tetap sukacita The Wijk 6 Choir sangat besar dengan turut bergabungnya Amang R. Sinambela.

Boan sada nari…. (wah… “+5 Kita)… he… he…, hanya sekedar ungkapan kegembiraan The Wijk 6 Choir. Bagaimana tidak, begitu besar penyertaan Tuhan Yesus pada punguan/perkumpulan ini. Kalau dihitung semenjak adanya event Parheheon Ama HKBP Pejuang 2008 bulan September-Oktober kemarin, sudah 6 orang anggota The Wijk 6 Choir bertambah, Tema Tahun Marturia “BOAN SADA NARI” (bawa satu lagi) … wah “+” (plus) 5 kita berarti. Walaupun makna sebenarnya “Boan Sada Nari” adalah membawa satu orang lagi mereka2 yang belum mengenal Kristus untuk jadi pengikutnya (“ulasan Amang Pdt. Daniel T.A. Harahap dalam Ruma Metmet.com), gak apa2 lah ya meski 6 orang anggota yang baru bergabung itu jemaat HKBP juga. Harus gembira kita.

Setback lagi kita, kalau diurut mundur berikut ini lah 6 anggota The Wijk 6 Coir yang baru bergabung : Amang R. Sinambela (suara Bass) bergabung tanggal 19 Nopember 2008 Amang H.Silitonga (suara Tenor) bergabung tanggal 12 Nopember 2008 (saat latihan di rumah Kel. H.Munthe dan Inang Ny.H.Silitonga Br. Sihombing, Inang Ny. L.J.Sihombing Br.Silalahi, Inang Ny. R.Sihombing Br.Doloksaribu, Inang Ny.M.Manurung Br.Doloksaribu bergabung menjelang Festival Paduan Suara sekitar awal oktober lalu.

Latihan untuk membawakan lagu “Sipata Sai Sungkun-Sungkun” yang akan dibawakan pada hari Minggu 23 Nopember 2008 (Minggu Jujur Taon Parhuriaon / parningotan tu angka ruas naung monding) berlangsung cukup rileks tapi serius. Mungkin karena lagu ini sudah pernah dibawakan pada penampilan The Wijk 6 Choir sebelumnya. Pukul 22.00 WIB latihan selesai dilanjutkan acara ramah tamah (makan snack/makanan yang disediakan tuan rumah), mie goreng telur menjadi menu malam itu. Lahap semua makannya, mungkin karena cuaca yang cukup dingin karena di luar hujan sedang deras2 nya turun. Selesai makan mie lanjut dengan pengumuman2, Amang St. B. Manullang menyampaikan soso-soso mengenai rencana pengumpulan dana pada kebaktian minggu siang (durung2 tu jolo) untuk mendukung dana renovasi Gereja HKBP Pejuang “Asa talehon ma na dumenggan” (berilah yang terbaik)” kata Amang Sintua.

Acara latihan pun ditutup tepat pukul 22.30 dengan pesan latihan pemantapan hari sabtu malam 22 Nopember 2008 dilaksanakan di rumah kel. Amang St. J.H. Nainggolan di perumahan Villa Mutiara Gading.

13
Nov
08

Lae Munthe Berlabuh…. The Wijk 6 Choir Berseri Lagi

lae_munthe

Rabu 12 Nopember 2008, Rumah Kel. H.Munthe / Br. Silalahi

Lae Munthe berlabuh kembali. Setelah lebih kurang 7 bulan menunaikan pekerjaannya sebagai anak buah kapal Cargo di Perairan Indonesia. Sukacita ada di hatinya. Lama sudah dia memendam kerinduan pada keluarga dan saudara2-nya anggota The Wijk 6 Choir. Setback sedikit, Lae Munthe adalah anggota suara Bass The Wijk 6 Choir, karena tugas pekerjaan yang didapatkannya harus meninggalkan keluarganya dan The Wijk 6 Choir mulai berlayar pada bulan April2008.

Momen latihan koor rutin The Wijk 6 Choir setiap hari rabu dimanfaatkan untuk menjamu dan melepas rindu pada punguan (perkumpulan). Bertepatan dalam minggu ini (kamis 13 Nopember 2008) si buah hati tercintanya (borunya) Silvi Maria Margaretha br. Munthe berulang tahun yang ke-5.

Puji Tuhan atas kuasa-Nya, The Wijk 6 Choir yang pada latihan minggu lalu dicobai dengan permasalahan/perselisihan kecil berseri kembali. Banyak yang hadir, Sopran 7 orang, Alto 6 orang, Tenor 5 orang dan Bas 6 orang. Total 24 orang + 1 direjen. Suasana sukacita begitu terasa di setiap anggota. Ritual bersalaman dan berpelukan dilakukan untuk melepas rindu dengan Lae Munthe. Dirijen koor dan Ketua/pengurus The Wijk 6 Choir yang masih terasa agak kaku. Tapi terlihat usaha Ketua untuk menjalin kembali suasana berbaikan. Sapaan Ketua kepada dirijen mencairkan suasana kaku itu.

Acara pun dimulai, dibuka dengan Doa oleh Ketua, dilanjutkan Pembacaan Firman oleh Amang St.B.Manullang sekalian doa makan. Lapar pasti sudah dirasakan oleh setiap anggota (yang tidak lapar, pasti yang tak biasa nahan lapar sampai jam 20.30, jadi makan dulu di rumahnya), bagimana tidak soso-soso yang disampaikan Sekretaris Punguan Lae H.Purba “asa unang pola mangan sian jabu” (jangan makan dari rumah) disambut antusias oleh semua anggota. Menu Babi Kecap, Gulai Bebek, Ikan Mas Arsik dan Lalapan Pete semakin menanmbah rasa lapar setiap anggota yang hadir. Piring penuh dengan nasi dan lauk ada di tangan hampir setiap anggota yang dengan lahap menyantap makanannya, yang sudah sempat makan di rumah rada2 menyesal juga jadi kurang banyak porsi makanan yang disendok ke piringnya (takut kegemukan).

Usai mardaun pogu (makan bersama), acara dilanjutkan dengan latihan kor. Sumber perdebatan pada latihan pada minggu yang lalu mengenai jadwal tampil untuk melayani/bernyanyi di gereja diluruskan oleh Dirijen dan Amang Sintua bahwa minggu ke-4 sebagai jadwal Rutin The Wijk 6 Choir melayani bertepatan dengan minggu jujur taon parhuriaon. Lagu ”Sipata Sai Sungkun-Sungkun” dipilih Dirijen untuk dibawakan oleh The Wijk 6 Choir dengan pertimbangan jadwal latihan (pemantapan) tingal 2 kali saja.

Acara latihan berlangsung dengan baik. Karena lagu yang dipilih adalah lagu yang sudah pernah di bawakan The Wijk 6 Choir pada pelayanan2 sebelumnya jadi sudah cukup familier di ingatan masing2 anggota. Pukul 22.30 latihan berakhir dengan pengumuman dari sekretrais bahwa latihan minggu depan hari rabu malam tanggal 19 Nopember 2008 akan dilaksankan di rumah Kel. Ny. S.P.Tambunan Br. Simanungkalit dan doa penutup yang dibawakan oleh Amang sekretaris H. Purba.




Radio Online

Waktu Hari ini :

performing arts
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter performing arts
free counter

BeasiswA n’ Lowongan Kerja

Info Beasiswa D1 D3 S1 S2

Blog Stats

  • 12,749 hits

IP-Ku

My Popularity (by popuri.us)

 

Mei 2012
S S R K J S M
« Agu    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Info Geotoolbar

performing arts
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter performing arts
free counter

Nilai Blog’s TW6C

free counters

Peta Lokasi Pengunjung :


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.