Arsip untuk April, 2009

30
Apr
09

Latihan di Gereja = Sepi Anggota

sepiGereja HKBP Pejuang, 29 April 2009

Latihan koor rutin TW6C Rabu malam kemarin dilaksanakan di gedung Gereja HKBP Pejuang. Alasannya : Kel. Amang St. B. Manullang / Br. Nainggolan yang seharusnya menjadi tuan rumah menginformasikan kepada Ketua TW6C bahwa  Amang itu  sedang melaksanakan tugas kantornya ke luar kota, jadi dengan berart hati mengatakan bahwa latihan di rumahnya ditunda dulu.

Seperti kesepakan bersama, jika tuan rumah latihan  koor sesuai jadwal yang telah disusun berhalangan karena alasan yang mendesak dan penting sehingga latihan di rumahnnya tidak dapat dilaksanakan, maka latihan koor akan dialihkan ke Gereja HKBP Pejuang. Jadilah kemarin malam TW6C latihan di Gereja.

Fenomena yang hampir selalu sama jika TW6C latihan di Gereja adalah “Sepi Anggota“. Ya.. selalu, nggak tau kenapa (kecuali saat menghadapi festival koor) . Jumlah anggota selalu menembus minimal angka digit kepala 2 (20-an orang) jika dilaksanakan di rumah2 anggota, namun kemarin yang hadir dalam latihan di Gereja cuma 13 orang (Sopran 4 orang, Alto 1 orang, Tenor 2 orang dan Bass 5 orang + 1  orang guru koor) untung setiap suara ada yang mewakili sehingga latihan tetap dapat dilaksanakan. Dan untung pula ada punguan koor Wijk 3 yang juga latihan malam itu, sehingga terlihat ramai di gereja (terima kasih buat punguan koor wijk 3  yang mempersilahkan TW6C memakai ruang gereja)

Apa dan kenapa yang menyebabkan demikian?… itu yang selalu menjadi bahan perenungan dalam pikiran moderator TW6C. Mungkinkah karena “Mie Gomak”? … Bisa jadi juga ya… mana lah mungkin ada mie gomak di gereja. Siapa yang masakin, yang merasa tuan rumah pun gak mungkin lah ada. Sementara untuk hadir ke Gereja pun sudah syukur. Atau mungkin karena jauh dari rumah jadi malas mau datang, belum lagi nanti kalau latihannya lama, terpaksalah mutar2 jalan pulangnya karena portal2 di perumahan Harapan Indah dan Taman Harapan sudah pada ditutup.

Semoga bukan karena “Mie Gomak ” yang tak ada lah ya. Masa gara2 Mie Gomak jadi malas latihan. Kan sudah komitmen kita, agar tidak memberatkan tuan rumah (kel. yang mendapat giliran ketempatan latihan rumahnya) bahwa latihan2 kor tidak perlu disajikan konsumsi2, cukuplah minum Aqua yang dibeli dari uang kas. Dan alasan jauh dan takut nanti repot pulangnya, mungkin bisa kita atasi dengan memulai latihan lebih awal sehingga dapat diakhiri lebih awal pula (di bawah jam 22.30.. jadwal portal2 di perumahan harapan indah dan THB ditutup) supaya tidak perlu mutar2 kalau pulang ke rumah.

Buat anggota TW6C yang tidak dapat hadir karena kurang sehat/sakit semoga cepat sembuh dari sakitnya, yang terpaksa tidak hadir karena pekerjaan semoga dapat bekerja dengan baik dan berkat Tuhan tercurah melalui pekerjaannya. Agar kalau sudah sembuh dan waktu sudah longgar bisa datang lagi latihan koor.

Selanjutnya… Ada 2 lagu yang dilatih dalam latihan TW6C  tadi malam, Lagu “Pujilah Tuhan Hai jiwaku” karya GORGA (yang dipersiapkan untuk pelayanan TW6C pada ibadah minggu ke-4) dan Lagu “Biar Mida Jahowa”  karya D. Simanungkalit (yang dipersiapkan untuk lagu pada partangiangan Wijk hari selasa depan tanggal 5 Mei 2009).

Latihan koor hari Rabu tanggal 6 Mei 2009 akan dilaksanakan di Rumah Kel. E. Sitohang / Br. Manurung (Ketua TW6C). Tuan rumah latihan koor dialihkan dari seharusnya di Rumah Kel. Ny. M. Sinaga Br. Sihotang karena tepat pada hari itu Ketua TW6C akan berulang tahun. (ETS)

27
Apr
09

Minggu Misericordias Domini

jesus the good shepherdLatihan Pemantapan  Sabtu 25 April 2009 dan Kebaktian Minggu 26 April 2009

Misericordias Domini yang berarti Bumi Penuh dengan Kasih Setia Tuhan (Mazmur 33 : 55b …. dikutip dari www.rumametmet.com). Untuk pertama kali TW6C menyesuaikan lagu yang akan dibawakan saat pelayanannya dengan tema kotbah kebaktian minggu.  Tema kebaktian minggu yang coba diartikan oleh pengurus TW6C dengan melihat Renungan Harian terbitan HKBP Rawamangun adalah “Pemulihan”… ya karena pada keterangan renungan firman pada Renungan Harian itu ada kata2 pemulihan dinyatakan. Serentak saat itu (latihan di rumah Kel. L. Sagala/Br.Gultom Rabu 15 April 09..red) para anggota TW6C menyebut judul lagu “Hanya Dia Pemberi Kepuasan” karya cipta Theodora Sinaga sebagai lagu yang cocok dengan tema tsb.

Jadilah lagu itu yang dibawakan. Pada pelayanan2 sebelumnya, lagu ini sudah pernah dibawakan, namun karena semakin bertambahnya anggota baru TW6C (belum ikut/bergabung saat lagu ini dinyanyikan pada pelayanan sebelumnya), lagu ini lumayan lama juga dipoles.. supaya semua lebih mantap dan faham.

Bumi Penuh dengan Kasih Setia Tuhan. Sangat indah jika dihayati. Dan Kasih Setia Tuhan itu sangat nyata dirasakan oleh TW6C saat. Banyak dan teramat banyak pun berkat2 itu yang melimpah buat TW6C. Seperti pada latihan pemantapan  Sabtu 25 April 2009 di rumah Kel. R.Simanjuntak/Br.Saragih, ada 2 acara yang dilaksanakan oleh TW6C : latihan koor dan Mamoholi. Satu lagi berkat buat anggota TW6C dengan lahirnya anak ke-3 kel. R.Simanjuntak/Br.Saragih. Selepas latihan fase 1 acara mamoholi diisi dengan ucapan2 selamat dari setiap perwakilan suara (tenor – bass), guru koor, pahalado dan ditutup pengurus.

Indahnya kebersamaan terasa lagi dalam acara itu. Kebahagiaan yang diterima oleh anggota yang mendapat berkat bertambahnnya keturunan tidak serta merta melupakan anggota TW6C yang sampai saat ini belum dikaruniakan Keturunan. Mereka tetap mendoakan dan memanjatkan harapan agar Tuhan yang Maha Baik juga segera mengaruniakan keturunan bagi anggota TW6C yang masih menanti hadirnya si buah hati. Dan doa permohonan itu sungguh sangat menggetarkan hati saat dibawakan oleh Amang St. M.T. Napitupulu ketika menutup acara malam itu.

Tiba saat tampil dalam pelayanan di Kebaktian Minggu tanggal 26 April 2009. Lagu “Hanya Dia Pemberi Kepuasan” dibawakan dengan baik oleh anggota TW6C. Pengalaman2 hidup dan kesan2 indah dan menggetarkan hati yang teringat dipadu dengan menghayati syair2 lagu pijian itu semakin menambah rasa percaya dan pengharapan kita kepada Tuhan Sang Pemberi “Kepuasan,  Pemulihan, Kekuatan dan Kesabaran”

Terakhir, terima kasih untuk penulis lagu “Hanya Dia Pemberi Kepuasan” Ibu Theodora Sinaga. Kami tidak mengenal Ibu, tapi karya Ibu sungguh sangat menggetarkan hati kami saat menyanyikannya. Kami percaya bahwa Ibu adalah seorang yang diberkati Tuhan dan mempunyai Iman percaya yang teguh kepada-Nya. …..Tak berlebihan rasanya jika  sebait syair lagu itu  ketik lagi di  diary ini :

“Disaat ku lemah dan jatuh Engkau menolongku,

Kau jamah dan pulihkan daku tuk menyembah-Mu.

Tiada Kebahagiaan selain dalam Kau.

Di hadirat-Mu ada Damai ku puas dan lega”

23
Apr
09

Dua latihan… 1 liputan..

Rumah Kel. L. Sagala/Br. Gultom (Rabu 15 April 2009) dan Rumah Kel. H.S.P.Tambunan/Br. Simanungkalit (Rabu 22 April 2009)

Susah memang kalau lagi sibuk dengan pekerjaan di kantor dan kegiatan di lingkungan ditambah pula rasa malas membuka internet. Alhasil artikel liputan kegiatan TW6C jadi terbengkali. Tapi gak apa2 lah ya.. dari pada gak diliput sama sekali.

Latihan di Rumah Kel. L. Sagala / Br. Gultom

Hal yang menarik pada latihan rutin TW6C hari Rabu 15 April 2009 di rumah Kel. L. Sagala / Br. Gultom tentunya adalah acara “mamoholi” atas kelahiran anak ke-3 Kel. L.Sagala/Br.Gultom. Seperti biasa setiap perwakilan suara menyampaikan ucapan2  selamat dan nasehat2 penting kepada Kel. L.Sagala/Br.Gultom. Memang sih kalau dilihat acaranya ya.. itu2 ajanya yang diucapkan saat “mamoholi”. Tapi waluapun hanya “itu2 saja” pasti ada juga hal2 baru sebagai penambah ilmu dan khasanah baru dalam membesarkan anak. Semoga Kel. L.Sagala/Br.Gultom mendapat khsanah yang baru itu dalam acara mamoholi tsb. Nama yang akan diberi kepada anak ke-3 Mereka adalah PRESLEY  Sagala. Mungkin Amang L Sagala ngefans sama Elvis Presley.  Berikutnya dalam acara latihan koor, guru koor TW6C membagikan lagu baru karya sang maestro lagu koor Batak Gorga yang  berasal dari buku lagu karya GORGA terbitan Yamuger edisi terkhir. Bagus sekali… berirama lagu tradisonal Batak. Kita tunggu saja hasilnya dalam pelayanan TW6C pada minggu ke-4 bulan Juni 2009, semoga lagu ini sudah dapat dibawakan. Yang terakhir… tumben ada menu lontong dalam latihan di rumah Kel. L. Sagala/Br. Gultom, biasanya sih Mie Pangsit Siantar. Rupanya menu lontong medan buatan Inang Ny. Sagal Br. Gultom dan enak juga lho….. Wah.. ternyata, pintar masak juga Inang Ny. Sagala Br. Gultom masak ya… siap2 aja nunggu pesanan.. He.. He..

Latihan di Rumah Kel. H.S.P. Tambunan / Br. Simanungkalit

Yang menarik dalam latihan ini, kembali dibahas dalam acara ramah tamah (sambil mangallang mie hun goreng) tentang tempat duduk yang akan ditempati oleh TW6C saat tampil melayani pada hari Minggu tanggal 26 April 2009. Kali ini ide datang dari guru koor TW6C. Beliau menyarankan “Bagaimana kalau kita duduknya di baris belakang bangku gereja, supaya lebih pasti dan tidak digeser-geser lagi”. Namun diprotes oleh ibu2 nya TW6C. Alasannya, biasanya di belekang agak berisik karena anak2 suka main di belakang baris bangku gereja. Akhirnya setelah digodok dengan beberapa masukan dari para Ama-nya TW6C, disepakati agar Sintua Wijk 6 membawakan ke dalam sermon parhalado, dan dicarikan informasi selain TW6C, apakah ada wijk lain yang akan tampil melayani. Kalau memang ada, TW6C akan duduk di baris belakang bangku gereja dan kalau tidak ada, TW6C akan berbagi baris bangku dengan N-HKBP.

Demikian, untuk latihan pemantapan hari Sabtu tanggal 25 April 2009 akan dilaksanakan di rumah Kel. R. Simanjuntak/ Br. Saragih sekalian acara “Mamoholi” atas kelahiran anak ke-3 Kel. R. Simanjuntak/Br.Saragih. “Asa unang pola mangan dian Jabuna be.. ala naeng mangallang “bangun-bangun” do hita” demikian seloroh Ketua TW6C.

13
Apr
09

Anak Ke – 3 (Laki-Laki) Kel. R. Simanjuntak / Br. Saragih Lahir

100_2950

Rabu, 8 April 2009 (Klinik Indra Kasih)

Rabu tanggal 8 April 2009 pukul 13.00 sebuah sms masuk ke HP Moderator TW6C. Rupanya dari Amang R. Simanjuntak… senang rasanya, rupanya kabar sukacita.  “Horas…! Puji syukur telah lahir dengan normal putra kami, anak yang ke-3 hari ini (tgl. 08-04-2009). Ibunya juga anak kami dalam keadaan sehat. Horas.” kata Amang R. Simanjuntak dalam smsnya.

Cukup lama mereka menanti kelahiran “si Ucok”, sepuluh (10) bulan lamanya dalam kandungan . Bidan yang menangani selama konsultasi kehamilan dan juga sang suami Amang R. Simanjuntak sudah menyarankan agar dioperasi Cesar, namun Inang Ny. Simanjuntak Br. Saragih bertahan ingin melahirkan secara normal, takut katanya kalau dioperasi. Akhirnya kesabaran dan niat yang tulus dari Kel. Amang R. Simanjuntak/Br. Saragih dijawab Tuhan. Proses kelahiran secara normal anak mereka yang ke-3 berjalan dengan lancar.

Salut… itu satu kata yang bisa diucapkan untuk Kel. Amang R. Simanjuntak terutama untuk Inang Ny. R. Simanjuntak Br. Saragih. Komitmen dan kesetiaannya untuk tetap melayani melalui wadah TW6C tetap dijalankannya dengan tulus. Walau badan sudah cukup berat selama masih bisa ditahan, Inang ini tetap datang latihan koor rutin TW6C (Rabu malam dan Sabtu pemantapan). Sampai2 teman2nya sesama Ina (ibu2) TW6C yang nahan sakit, “Aduh eda… jangan dipaksain lagi latihan,.. udah berat gitu bawaannya” kata ina2 nya TW6C menyarankan.  “Ah.. gak apa2 koq, masih bisa saya bawa jalan” kata Inang Ny. R. Simanjuntak menimpali kata2 teman2 inanya di TW6C.

Puji Tuhan… satu lagi bukti, buat orang2 yang dengan sukacita melaksanakan pekerjaan pelayanan2 ibadah dengan tulus dan sukacita, Tuhan pasti akan melindungi dan memberi kekuatan. Ketulusan dan semangat Inang Ny. R. Simanjuntak Br. Saragih dibalas oleh Tuhan Kita yang maha baik dengan kesehatan dan kelancaran selama proses mengandung dan melahirkan.

Terakhir… selamat atas kelahiran Anak (Putra) ke-3 nya buat Kel. R. Simanjuntak/Br. Saragih. Berkat Tuhan sungguh sangat besar dan baru setiap hari bagi orang2 yang setia melayani dalam pekerjaan-Nya. Semoga si ucok yang baru lahir menjadi anak yang baik, patuh pada orangtua, berguna bagi masyarakat bangsa & negara serta menjadi Anak yang Takut pada Tuhan… Amin… (ETS)

06
Apr
09

“Uju di Ngolungkon”

Tulisan sahabat TW6C : Baktiar Sitohang


A note from an Inspiring Song “Uju di Ngolunghon”

Hamu anakhonhu…(kalian semua anak2ku)

Tampuk ni pusupusuki…(belahan hatiku)

Pasabar ma amang, Pasabar ma boru,(yang sabarlah anak2ku)

Lao patureture au…(utk merawat aku)

***Nunga ma tua au…(aku sudah tua)

Jala sitogutoguon i…(dan sudah perlu dituntun untuk berjalan)

Sulangan mangan au, Siparidion au,(saat ini musti dibantu/disuapi utk makan, dibantu mandi)

Ala ni parsahitonki…(karena sakit yang aku derita)

Reff:

So marlapatan marende, margondang, marembas hamu,(tak berguna kalian bernyanyi2, margondang, dan menari2 memestakan persemayamku)

molo dung mate au…(jika aku sudah mati)

So marlapatan na uli, na denggan patupaonmu,(tak berguna lagi yang indah, yang bagus yang kau lakukan untukku)

molo dung mate au…(jika aku sudah mati)

Uju di ngolungkon ma nian…(ketika hidupku inilah)

Tupa ma bahen angka na denggan,(kamu lakukan semua yang terbaik)

Asa tarida sasude…(supaya nyata semua)

Holong ni rohami, marnatua-tua i.(KASIH mu yang ber-orangtua)

Balik ke:***

baktiar2Lagu Pop Batak di atas (seingatku dinyanyikan oleh Joy Tobing) masih demikian populernya saat ini, baik itu dalam acara pesta bona taon, pesta pernikahan orang-orang Batak, pesta pembangunan gereja, di lapo, di rumah2 orang Batak, pun tak ketinggalan juga di café Batak lagu ini sering dinyanyikan.

Lagu “Uju di ngolunghon” musiknya enak didengar, tapi yg terpenting adalah pesan moral dari syair lagu tersebut yg sungguh-sungguh amat menggugah hati kita siapapun itu (yang masih punya nurani dan peduli pada orangtua) untuk merenungkan kata demi kata dalam syair lagu tsb. Kadang gw terpikir, bhw lagu tsb ibarat petuah yg teramat dalam & berharga buat kita manusia apalagi dalam posisi sbg anak, anak-anak dari orang tua kita.

Kita yang mendengar saat ini patut berterimakasih pada si pencipta lagu tsb. krn kita direfresh kembali akan makna cinta kasih yg sesungguhnya, cinta yang tulus, cinta yg tidak mengharapkan sebentuk imbalan apapun lagi dari orangtua kita tercinta.

Lagu ini dengan sederhana namun tegas menitip pesan pada kita bahwa ketika dimasa-masa hidupnyalah kita harus berusaha dengan segenap hati dan pikiran, dengan segenap kemampuan yg ada yang kita miliki, dengan materi (ga’ perduli sekecil atau sebesar apapun) yg kita miliki untuk membuat orang tua kita senang, tersenyum, tertawa, bahagia, merasa didengarkan, merasa dihormati dan diperlakukan dengan hormat tanpa melihat kondisi apapun dari siorangtua kita saat ini (eventhough jika kebetulan mereka sudah tua renta, tak berdaya lagi melakukan aktifitasnya sendiri, atau jika lagi sakit, bahkan jika masih sehat walafiat juga!!).

Reffrein lagu tsb berkata, “So marlapatan marende, margondang marembas hamu, molo dung mate au, So marlapatan na uli, na denggan patupaonmu, molo dung mate au. Uju di ngolungkon ma nian, Tupa ma bahen angka na denggan, Asa tarida sasude holong ni rohami marnatua-tua i”. Syair dari reffrein tsb sungguh dgn gamblang memberitahu ke kita apa sebenarnya isi hati dan keinginan terdalam namun sederhana dari orangtua kita, orang yg melahirkan kita, orang yg membesarkan kita, sosok yg mengajari kita dari yang tidak tau menjadi tau, orang yg melindungi kita ketika kecil dari segala marabahaya yg mungkin mengintip kita, orang yang bersusah payah mencari uang untuk biaya-biaya sekolah kita, orang yang mendoakan kita dalam setiap doa-doa yang dipanjatkannya pada Tuhan, orang yang selalu membela kita walau kita kadang dan sering salah dalam bertindak dan bertutur, yaitu MELAKUKAN YANG TERBAIK buat mereka selagi mereka masih HIDUP!!

Sebab tiada berguna membuat pesta 7 hari 7 malam sambil manortor margondang dan memesan makanan sebanyak2nya utk menjamu para tamu dan handai taulan yang datang, atau membangun tugu setinggi2nya ketika mereka sudah tiada krn mereka tidak akan menikmati semuanya itu lagi.

Dimasa hidupnyalah melakukan & memberikan yang terbaik yang harus dilakukan pada mereka, sekaya apapun orangtua kita , sebaik apapun orang tua kita, sehebat apapun orang tua kita, sekeras apapun orangtua kita mendidik kita, serewel apapun orang tua kita, sejutek apapn orang tua kita, se-sok tau apapun orang tua mereka, apalagi jika orang tua kita kebetulan adalah orang susah, kita harus memberikan yang terbaik untuk mereka selagi mereka masih hidup. “Uju di ngolungkon ma nian, Tupa ma bahen angka na denggan, Asa tarida sasude holong ni rohami marnatua-tua i”.

Salam Hormat dan Kasih untuk semua orang tua.

01
Apr
09

Dari 50ribu… menjadi 200ribu (Kita Berhasil)

foto042Sabtu 28 Maret 2008, Rumah Kel. E Silitonga / Br. Sitohang

“Bimsalabim… Abrakadabra…” Ccccssssssss…. berubahlah anggaran dana Rp 50.000,- menjadi Parsel buah seharga Rp 200.000,-.  Memang  ibarat sulap atau sihir (silap mate kata orang malaysia)  rasanya, dengan anggaran Rp 50.000,- per paket parsel buah yang ditetatapkan oleh panitia Pesta Parolop-olopon dan pesta Ulang Tahun ke-20 HKBP Pejuang, dengan embel2 permintaan anggota rapat panitia pada saat rapat “supaya tidak murahan buahnya, supaya tidak asal jadi, supaya yang mesan tidak kecewa”, wijk 6  sebagai penanggung jawab Paket Lelang parsel Buah sepertinya berhasil melaksanakan tugasnya. Sempat terbersit rasa pesimistis… “Ini Mission Imposseble” bagaimana mungkin coba, anggaran nya Rp 50.000,- tapi tuntutan lumayan banyak,  “Apple Fuji 3, Jeruk 3, Anggur 1/4 Kg, Pisang Barangan 1 sisir, Pear 2..” itulah komposisinya.., denggan bahen Hamu so tung maila Hita” demikian kata  koordinator lelang pada saat rapat2 panitia.

Namun walau belum berpengalaman, Wijk6 (samalah dengan TW6C… TW6C nya semua yang hadir rapat) menyanggupi. Serius dan kompak…. (terbukti lagi peribahasa “Bersatu kita teguh….dst), Wijk 6 langsung atur strategi. Pada saat latihan koor TW6C, tim survey buah disusun. “Siapa yang tau tempat pembelian buah yang bagus dan murah” demikian pertanyaan pertama yang di munculkan. Banyak yang kasi ide. Ibu2 pertama yang kasih Ide, katanya “Ke Cibitung aja belanjanya,.. di sana kan ada pasar buah”, yang lain ngomong “Di Pasar Induk Kramat Jati juga ada” tapi disela oleh ibu2 yang lain “Kotor Eda pasarnya… becek, kalau di Cibitung bersih Lho” . “Siapalah yang pergi survey?” pertanyaan ke-2 dilempar lagi ke forum. Banyak yang kasih alasan ini dan itu, jadi lama juga dipustuskan. Untung ada Lae D.F Panjaitan (anggota terbaru TW6C). “Sudah…biar aku yang survey, aku sering kok lewat pasar induk Kramat Jati” kata beliau.

Diputuskanlah Lae D.F. Panjaitan yang survey, sambil dilengkapi data jumlah buah yang dibutuhkan. Canggih2 kali anggota TW6C ini. Moderator TW6C Diary aja bingung baca coret2-an dan perkalian tentang buah yang mau dibeli, dari jumlah buah per-parsel dikonversi ke Kg kemudian ada juga yang dikonversi ke jumlah kotak/Doz buah.. macam lah itu tahe…

Pada latihan koor berikutnya 1 minggu sebelum hari “H” pesta, informasi mengenai harga2 buah itu sudah didapatkan, dan untuk mendapatkan kualitas buah yang terbaik dengan harga yang murah, Lae D.F. Panjaitan harus men-survey 3 tempat yang lumayan jauh jaraknya. Jeruk Medan Super di Cililitan, Pisang Barangan di Kali Malang dan Apel; Peer; Anggur di Sunter, dengan pesan dari tukang buah “kalau mau pesan dan sisortir buahnya, harus dipanjar dulu seminggu sebelum pengambilan. Harga masuk dan tempat pembelian buah sudah didapat, strategi berikutnya disusun, dan disepakati hari sabtu pagi semua anggota TW6C supaya hadir di Rumah Kel. E. Silitonga / Br. Sitohang Perumahan Wahana Harapan Blok A. Hampir semua setuju, kecualai anggota2 TW6C yang harus mengahadiri undangan pesta hari sabtu.

Rencana dan strategi yang telah disusun oleh Wijk6 sempat hampir buyar dan gagal. Dalam rapat panitia Minggu tanggal 22 Maret 2009, sekonyong-konyong ada ide yang disampaikan oleh koordinator Lelang bahwa semua paket lelang makan dan buah diantar pada hari Sabtu. Ketua dan Sekretaris TW6C protes, karena pada rapat2 sebelumnya sudah disepakati bahwa Paket Makanan diantar hari sabtu tanggal 28 Maret 2009 supaya sempat di makan oleh yang mesan, karena pengalaman2 sebelumnya, jika dibagi/diantar pas hari pesta, paket lelang makanan itu sudah kemalaman sampai ke rumah pemesan dan bahkan ada yang sudah basi. Sedangkan pakel lelang parsel buah, akan dibagi pada hari minggu tanggal 29 Maret 2009, saat pesata dihelat. Adu argument sempat terjadi, anehnya kok cuma wijk 6 yang berpendapat bahwa pembagaian parsel buah itu dilaksanakan pas hari pesta (walahualamlah… pinjam istilah saudara kita parugamo sebelah). Sekretaris TW6C panas juga, “Okelah,… kami boleh menyampaikan/menyiapkan parsel buah hari sabtu, tapi jangan diharapkan komposisi dan kualitas buah seperti yang sudah dimintakan pada rapat2 sebelumnya” ucapnya sedidkit esmosi. Koordinator Lelang berembuk dengan Amang Sintua yang yang ikut memimpin rapat didepan, dan dengan permohonan maaf kepada koordinator Wijk2 yang lain yang terlanjur menyampaikan kepada ruasnya bahwa parsel buah akan dhantar hari Sabtu, Koordinator Lelang mewakili Seluruh Panitia menyetujui bahwa paket parsel buah disampaikan hari Minggu saat Pesta dilaksanakan (dan buahnya harus bagus dan komposisinya sesuai dengan yang telah ditetapkan pada saat rapat2 sebelumnya. Usai Rapat Tim (Amang St.M.T. Napitupulu, E. Silitonga, P.Purba dan D.F. Panjiatan) yang bertugas mengantar uang panjar berangkat.

Walau sudah disepakati pembagian paket parsel buah hari minggu, Wijk 6 berusaha supaya pengepakan parsel buah dapat selesai pada hari Sabtu dan segera dibagi bersamaan dengan paket lelang makanan. Untuk mengejar waktu itu, tim pengambil buah dibagi 2. Hari Jumat malam pukul 19.30 WIB langsung dari kantornya, Tim yang 1 menjemput buah Appel: Peer dan Anggur yang  sudah dipesan pada hari Jumat malam. Tim 2 berangkat Sabtu pagi pukul 06.30 WIB menjemput Jeruk dan Pisang Barangan.

Pukul 10.30 WIB Semua buah sudah sampai di kediaman Amang E. Silitonga / Br. Sitohang. Anggota TW6C juga sudah banyak yang hadir, Ibu2-nya ada 15 orang dan Bapak2-nya ada 8 orang, belum anak2-nya yang ikut ngerame-ramein. Proses pemaketan pun dilaksanakan, baru 2 jam setengah dari jumlah paket pesanan sudah selesai dibungkus. Karena sudah lapar dan bahan kertas koran yang dijadikan alas buah yang dipaket habis, proses pemaketan ditunda sejenak.

Makan Siang pun dilaksanakan bersama. Menu Kung Rica2 kembali hadir. Amang H. Silitonga sebagai “Chef Rica2″ yang sudah terkenal kehandalannya diseantero Wijk 6  yang memasak. Sayang Amang H. Silitongan dan Keluarga tidak bisa ikut tim pengemapakan karena harus berangkat ke Puncak Bogor untuk menghadiri acara Bona Taon Keluarga besarnya.  Selain itu ada juga Menu Babi kecap (yang ini.. untuk ibu-nya TW6C), tak ketinggalan pula Tuak Tangkasan untuk menambah akrab dan nikmat saat makan siang. Semua menu makan siang itu adalah sumbangan Kel. St. SM. Manik (sebagai ketua Pesta Huria… beliau bangga melihat kekompakan TW6C).

Pemaketan parsel buah selesai dilaksanakan pukul 15.30 WIB, dan diantar ke gereja pada pukul 17.30 WIB. Oleh tim pengantar yang dikerjakan oleh N-HKBP HKBP Pejuang, pengantaran paket selesai dilaksanakan pukul 21.00 WIB.

Lega dan puas rasanya. Terima kasih untuk semua anggota TW6c (Wijk 6) yang sudah terlibat, berkorban waktu, materi dan pemikiran demi suksesnya tugas yang diserahkan Panitia Pesta Huria dan Pesta Ulang Tahun ke-20 HKBP Pejuang tahun 2009 kepada kita. Satu lagi bukti, indahnya kebersamaan, kalau kita masih  bersama-sama bahu-membahu, tentu kita bisa. Tuhan memberkati kita semua. Amin. (ETS)




Radio Online

Waktu Hari ini :

performing arts
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter performing arts
free counter

BeasiswA n’ Lowongan Kerja

Info Beasiswa D1 D3 S1 S2

Blog Stats

  • 12,749 hits

IP-Ku

My Popularity (by popuri.us)

 

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Info Geotoolbar

performing arts
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter performing arts
free counter

Nilai Blog’s TW6C

free counters

Peta Lokasi Pengunjung :


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.